Thursday, March 22, 2012

Bujangga Manik


Perjalanan Bujangga Manik merupakan salah satu peninggalan dari naskah berbahasa Sunda. Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley di Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977:181). Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.
Yang menjadi tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang, walaupun merupakan seorang prabu pada keraton Pakuan Pajajaran (ibu kota kerajaan, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota Bogor), lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah singgah di Bali untuk beberapa lama. Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Jelas sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga Manik berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka dan Demak Demak memungkinkan kita untuk memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung, dan sungai disebutkan di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.

Ringkasan Naskah
Yang menjadi tokoh dalam cerita ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang, walaupun merupakan seorang prabu pada keraton Pakuan Pajajaran (ibu kota kerajaan, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota Bogor), lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah singgah di Bali untuk beberapa lama. Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Jelas sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga Manik berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka dan Demak Demak memungkinkan kita untuk memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung, dan sungai disebutkan di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang. Diceritakan bahwa dia akan meninggalkan ibunya untuk pergi ke arah timur. Dia sangat teliti dalam menceritakan keberangkatannya. Dari kebiasaannya kita tahu bahwa dia mengenakan ikat kepala ("saceundung kaen").
Kemudian dia memulai perjalanan pertamanya yang dia lukiskan secara terperinci. Waktu Bujangga Manik mendaki daerah Puncak, dia menghabiskan waktu, seperti seorang pelancong zaman modern, dia duduk, mengipasi badannya dan menikmati pemandangan, khususnya Gunung Gede yang dia sebut sebagai titik tertinggi dari kawasan Pakuan (ibukota Kerajaan Sunda).
Dari Puncak dia melanjutkan perjalanan sampai menyeberangi Ci Pamali (sekarang lebih sering disebut Kali Brebes) untuk masuk ke daerah Jawa. Di daerah Jawa dia mengembara ke berbagai desa yang termasuk kerajaan Majapahit dan juga kerajaan Demak. Sesampai di Pamalang, Bujangga Manik merindukan ibunya dan memutuskan untuk pulang. Namun pada kesempatan ini, dia lebih suka untuk lewat laut dan menaiki kapal yang datang dari Malaka. Kesultanan Malaka mulai pertengahan abad ke-15 sampai ditaklukkan oleh Portugis menguasai perdagangan pada perairan ini.
Keberangkatan kapal dari pelabuhan dilukiskan seperti upacara pesta bedil ditembakkan, alat musik dimainkan, beberapa lagu dinyanyikan dengan keras oleh awak kapal; gambaran terperinci mengenai bahan yang digunakan untuk membuat kapal diceritakan: berbagai jenis bambu dan rotan, tiang dari kayu laka, juru mudi yang berasal dari India juga disebutkan; Bujangga Manik benar-benar terpesona karena awak kapal berasal dari berbagai tempat atau bangsa.
Perjalanan dari Pamalang ke Kalapa, pelabuhan Kerajaan Sunda, ditempuh dalam setengah bulan. yang memberi kesan bahwa kapal yang ditumpangi tersebut berhenti di berbagai tempat di antara Pamalang dan Kalapa. Dari perjalanan tersebut, Bujangga Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng Layaran. Dari Kalapa, Bujangga Manik melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan ke istana kerajaan di Pakuan, di bagian selatan kota Bogor sekarang bujangga Manik memasuki Pakancilan, terus masuk ke paviliun yang dihias cantik dan duduk di sana. Dia melihat ibunya sedang menenun. Ibunya terkejut dan bahagia melihat anaknya pulang kembali. Dia segera meninggalkan pekerjaannya dan memasuki rumah dengan melewati beberapa lapis tirai, dan naik ke tempat tidurnya.
Ibu Bujangga Manik menyiapkan sambutan buat anaknya, menghidangkan sebaki bahan untuk mengunyah sirih, menyisirkan rambutnya, dan mengenakan baju mahal. Dia kemudian turun dari kamar tidurnya, keluar dari rumah, pergi ke paviliun dan menyambut anaknya. Bujangga Manik menerima perlengkapan mengunyah sirih yang ditawarkan ibunya.
Pada bagian berikutnya, diceritakan mengenai putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana. Jompong Larang, pesuruh putri Ajung Larang meninggalkan istananya, menyeberangi Ci (Sungai) Pakancilan dan datang ke istana Bujangga Manik. Di istana tersebut dia bertemu seorang asing yang sedang mengunyah sirih yang ternyata adalah Bujangga Manik. Jompong Larang terpesona dengan ketampanan Bujangga Manik.
Sekembalinya ke istana majikannya, Jompong Larang menemui putri Ajung Larang yang kebetulan sedang sibuk menenun. Putri, yang mengenakan gaun serta di sampingnya ada kotak impor dari Cina, melihat Jompong Larang yang terburu-buru, menaiki tangga dan kemudian duduk di sampingnya.
Putri menanyakan pesan apa yang dibawanya. Jompong Larang mengatakan bahwa dia melihat pria yang sangat tampan, sepadan bagi putri Ajung Larang. Dia menceritakan bahwa Ameng Layaran lebih tampan daripada Banyak Catra atau Silih Wangi, atau sepupu sang putri, atau siapapun itu. Lebih dari itu, pria itu pintar membuat sajak dalam daun lontar serta bisa berbahasa Jawa. Putri Ajung Larang langsung dihinggapi rasa cinta. Dia kemudian menghentikan pekerjaan menenunnya dan memasuki rumah. Di sana dia sibuk menyiapkan hadiah bagi pria muda tersebut, yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah sirih, menggunakan bahan-bahan yang indah, dengan sangat hati-hati. Putri juga menambahkan koleksi wangi-wangian yang sangat mahal: "seluruh wewangian tersebut berasal dari luar negeri", juga baju dan sebuah keris yang indah.
Ibu Bujangga Manik mendesak anaknya untuk menerima hadiah dari putri Ajung Larang kemudian menggambarkan kecantikan putri yang luar biasa serta pujian-pujian lainnya. Ibunya juga mengatakan bahwa putri berkeinginan untuk meyerahkan dirinya kepada Bujangga Manik serta mengucapkan kata-kata yang tidak pernah disampaikan putri Ajung Larang, "Saya akan menyerahkan diri saya. Saya akan menyambar seperti elang, menerkam seperti harimau, meminta diterima sebagai kekasih. Ameng Layaran terkejut mendengar ucapan-ucapan ibunya yang antusias dan menyebutnya sebagai kata-kata terlarang (carèk larangan) dan bertekad untuk menolak hadiah tersebut dengan kata-kata yang panjang juga. Dia meminta ibunya bersama Jompong Larang untuk mengembalikan hadiah tersebut kepada putri serta menghibur putri. Dia lebih suka untuk hidup sendiri dan menjaga ajaran yang dia terima selama perjalanannya ke Tanah Jawa, di pesantren di lereng Gunung Merbabu (yang dia sebut dalam naskah ini sebagai Gunung Damalung dan Pamrihan). Untuk itulah Bujangga Manik terpaksa harus meninggalkan ibunya.
Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (apus ageung) dan siksaguru, juga tongkat rotan serta pecut. Dia kemudian mengatakan bahwa dia akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari tempat nanti dia dikuburkan, untuk mencari "laut untuk hanyut, suatu tempat untuk kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya". Dengan kata-kata yang dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan panjangnya.
Dia meneruskan perjalanannya ke timur, menuliskan banyak sekali nama tempat yang sebagian masih digunakan sampai sekarang.


Daftar Pustaka;
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sunday, March 18, 2012

Sepenggal Tentang Suku Jawa

Suku Jawa
Suku bangsa Jawa, adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tetapi di provinsi Jawa Barat, Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak diketemukan. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger.
Bahasa
Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah polling yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur dan selebihnya terutama bahasa Jawa.
Garis keturunan dalam masyarakat Jawa diturunkan lewat ayah dan ibu
Bahasa jawa merupakan bahasa yang sangat sopan dan menghargai orang yang di ajak bicara khususnya bagi orang yang lebih tua dan bahasa jawa juga sangat mempunyai arti yang luas.
Kepercayaan
Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga banyak. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.
Profesi
Di Indonesia, orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa, orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri, banyak diantara suku jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu, dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang.
Stratifikasi Sosial
Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa dan India.
Seni
Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Tetapi pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula.
Stereotipe orang Jawa
Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai sukubangsa yang sopan dan halus. Tetapi mereka juga terkenal sebagai sukubangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.

Kebudayaan Jawa


A.Sistem Religi dan kepercayaan
Agama Islam adalah agama mayoritas masyarakat Jawa selain Katolik, Kristen, Hindu dan Budha serta aliran kepercayaan.
Dalam masyarakat Jawa tidak semua orang melakukan ibadahnya sesuai criteria Islam. Di pedesaan kita temukan adanya dua golongan Islam yaitu :
•Golongan Islam Santri
•Golongan Islam Kejawen, percaya kepada ajaran Islam tetapi tidak secara patuh menjalankan rukun Islam.


Bagi orang Jawa upacara keagamaan berkaitan dengan selamatan :
1.Berkaitan dengan lingkaran hidup seperti kelahiran, potong rambut pertama, tingkeban (7 bulan kehamilan), perkawinan, kematian, khitan, tedhak siti.
2.Berkaitan dengan hari/bulan besar Islam
3.Berkaitan dengan kehidupan desa seperti bersih desa, masa tanam,
4.Berkaitan dengan kematian seseorang, surtanah/geblak, telung dino, mitung dino, matang puluh, nyatus, mendhak sepisan, dll


B.Sistem kekerabatan
Prinsip kekerabatan berdasarkan bilateral/parental yaitu menarik garis keturunan dari dua belah pihak ayah dan ibu. Pada masyarakat Jawa perkawinan yang dilarang adalah perkawinan panjer lanang yaitu saudara sepupu. Pola menetap setelah perkawinan bebas memilih tempat (uxorilokal-wanita, utrolokal-pria, neolokal-baru, avunkulokal-saudara ibu laki-laki)


C.Sistem kesenian
1.Seni Bangunan : rumah adat Joglo yang terdiri dari:
•Dalem yaitu ruang utama tempat tinggal keluarga
•Pringgitan tempat pertunjukan wayang
•Pendopo tempat menerima tamu dan upacara adat
2.Seni Tari :tarian terkenal Reog Ponorogo, Tayub, Srimpi, Gambyong, Wayang (Orang, kulit, beber) diiringan gamelan dan pesinden.
3.Seni Kerajinan : kain batik tulis(Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta), ukiran Jepara


D.Sistem politik
Secara administratif suatu desa di Jawa disebut kelurahan yang dipimpin lurah/begel/petinggi/glondrong. Dalam pelaksanaan tugas dibantu oleh pamong desa yang mempunyai dua tugas yaitu tugas kesejahteraan dantugas kepolisian untuk keamanan dan ketertiban desa.
•Carik pembantu umum dan penulis desa
•Ulu-ulu/jagatirta mengatur irigasi
•Jagabaya menjaga keamanan desa
•Kebayanpesuruh/kurir dari lurah ke rakyat
•Modin kesejahteraan rakyat

Saturday, March 17, 2012

Sepenggal Tentang Suku Sunda


Sejarah Sunda

Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah kurang lebih 33 juta jiwa, kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat dan sekitar 1 juta jiwa hidup di provinsi lain. Dari antara mereka, penduduk kota mencapai 34,51%, suatu jumlah yang cukup berarti yang dapat dijangkau dengan berbagai media. Kendatipun demikian, suku Sunda adalah salah satu kelompok orang yang paling kurang dikenal di dunia. Nama mereka sering dianggap sebagai orang Sudan di Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedia. Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese (dalam bahasa Inggris).
Pada abad ke-20, sejarah mereka telah terjalin melalui bangkitnya nasionalisme Indonesia yang akhirnya menjadi Indonesia modern.
Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak zaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.
Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

Pengaruh Hinduisme

Tidak seorang pun yang tahu kapan persisnya pola-pola Hindu mulai berkembang di Indonesia, dan siapa yang membawanya. Diakui bahwa pola-pola Hindu tersebut berasal dari India; mungkin dari pantai selatan. Tetapi karakter Hindu yang ada di Jawa menimbulkan lebih banyak pertanyaan dari pada jawabannya. Misalnya, pusat-pusat Hindu yang utama bukan di kota-kota dagang di daerah pesisir, tetapi lebih di pedalaman. Tampaknya jelas bahwa ide-ide keagamaanlah yang telah menaklukkan pemikiran orang setempat, bukan tentara. Sebuah teori yang berpandangan bahwa kekuatan para penguasa Hindu/India telah menarik orang-orang Indonesia kepada kepercayaan-kepercayaan roh-magis agama Hindu. Entah bagaimana, banyak aspek dari sistem kepercayaan Hindu diserap ke dalam pemikiran orang Sunda dan juga Jawa.
Karya sastra Sunda yang tertua yang terkenal adalah Caritha Parahyangan. Karya ini ditulis sekitar tahun 1000 dan mengagungkan raja Jawa Sanjaya sebagai prajurit besar. Sanjaya adalah pengikut Shiwaisme sehingga kita tahu bahwa iman Hindu telah berurat akar dengan kuat sebelum tahun 700. Sangat mengherankan kira-kira pada waktu ini, agama India kedua, Buddhisme, membuat penampilan pemunculan dalam waktu yang singkat. Tidak lama setelah candi-candi Shiwa dibangun di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah, monumen Borobudur yang indah sekali dibangun dekat Yogyakarta ke arah selatan. Diperkirakan agama Buddha adalah agama resmi Kerajaan Syailendra di Jawa Tengah pada tahun 778 sampai tahun 870. Hinduisme tidak pernah digoyahkan oleh bagian daerah lain di pulau Jawa dan tetap kuat hingga abad 14. Struktur kelas yang kaku berkembang di dalam masyarakat. Pengaruh bahasa Sanskerta menyebar luas ke dalam bahasa masyarakat di pulau Jawa. Gagasan tentang ketuhanan dan kedudukan sebagai raja dikaburkan sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.
Di antara orang Sunda dan juga orang Jawa, Hinduisme bercampur dengan penyembahan nenek moyang kuno. Kebiasaan perayaan hari-hari ritual setelah kematian salah seorang anggota keluarga masih berlangsung hingga kini. Pandangan Hindu tentang kehidupan dan kematian mempertinggi nilai ritual-ritual seperti ini. Dengan variasi-variasi yang tidak terbatas pada tema mengenai tubuh spiritual yang hadir bersama-sama dengan tubuh natural, orang Indonesia telah menggabungkan filsafat Hindu ke dalam kondisi-kondisi mereka sendiri. J. C. van Leur berteori bahwa Hinduisme membantu mengeraskan bentuk-bentuk kultural suku Sunda. Khususnya kepercayaan magis dan roh memiliki nilai absolut dalam kehidupan orang Sunda. Salah seorang pakar adat istiadat Sunda, Prawirasuganda, menyebukan bahwa angka tabu yang berhubungan dengan seluruh aspek penting dalam lingkaran kehidupan perayaan-perayaan suku Sunda sama dengan yang ada dalam kehidupan suku Badui.

Pengaruh orang Jawa

Menurut sejarawan Bernard Vlekke, Jawa Barat merupakan daerah yang terbelakang di pulau Jawa hingga abad ke-11. Kerajaan-kerajaan besar bangkit di Jawa Tengah dan Jawa Timur namun hanya sedikit yang berubah di antara suku Sunda. Walaupun terbatas, pengaruh Hindu di antara orang-orang Sunda tidak sekuat pengaruhnya seperti di antara orang-orang Jawa. Kendatipun demikian, sebagaimana tidak berartinya Jawa Barat, orang Sunda memiliki raja pada zaman Airlangga di Jawa Timur, kira-kira tahun 1020. Tetapi raja-raja Sunda semakin berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Jawa yang besar. Kertanegara (1268-92) adalah raja Jawa pada akhir periode Hindu di Indonesia. Setelah pemerintahan Kertanegara, raja-raja Majapahit memerintah hingga tahun 1478, tetapi mereka tidak penting lagi setelah tahun 1389. Namun, pengaruh Jawa ini berlangsung terus dan memperdalam pengaruh Hinduisme terhadap orang Sunda jadilah mati saja mu.

Pajajaran dekat Bogor

Pada tahun 1333, hadir kerajaan Pajajaran di dekat kota Bogor sekarang. Kerajaan ini dikalahkan oleh kerajaan Majapahit di bawah pimpinan perdana menterinya yang terkenal, Gadjah Mada. Menurut cerita romantik Kidung Sunda, putri Sunda hendak dinikahkan dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit, namun Gajah Mada menentang pernikahan ini dan setelah orang-orang Sunda berkumpul untuk acara pernikahan, ia mengubah persyaratan. Ketika raja dan para bangsawan Sunda mendengar bahwa sang putri hanya akan menjadi selir dan tidak akan ada pernikahan seperti yang telah dijanjikan, mereka berperang melawan banyak rintangan tersebut hingga semuanya mati. Meski permusuhan antara Sunda dan Jawa berlangsung selama bertahun-tahun setelah episode ini, tetapi pengaruh yang diberikan oleh orang Jawa tidak pernah berkurang terhadap orang Sunda.
Hingga saat ini, Kerajaan Pajajaran dianggap sebagai kerajaan Sunda tertua. Sungguhpun kerajaan ini hanya berlangsung selama tahun 1482-1579, banyak kegiatan dari para bangsawannya dikemas dalam legenda. Siliwangi, raja Hindu Pajajaran, digulingkan oleh komplotan antara kelompok Muslim Banten, Cirebon, dan Demak dalam persekongkolan dengan keponakannya sendiri. Dengan jatuhnya Siliwangi, Islam mengambil alih kendali atas sebagian besar wilayah Jawa Barat. Faktor kunci keberhasilan Islam adalah kemajuan kerajaan Demak dari Jawa Timur ke Jawa Barat sebelum tahun 1540. Dari sebelah timur menuju ke barat, Islam menembus hingga ke Priangan (dataran tinggi bagian tengah) dan mencapai seluruh Sunda.

Kemajuan Islam

Orang Muslim telah ada di Nusantara pada awal tahun 1100 namun sebelum Malaka yang berada di selat Malaya menjadi kubu pertahanan Muslim pada tahun 1414, pertumbuhan agama Islam pada masa itu hanya sedikit. Aceh di Sumatera Utara mulai mengembangkan pengaruh Islamnya kira-kira pada 1416. Sarjana-sarjana Muslim menahun tanggal kedatangan Islam ke Indonesia hingga hampir ke zaman Muhammad. Namun beberapa peristiwa yang mereka catat mungkin tidak penting.
Kedatangan Islam yang sebenarnya tampaknya terjadi ketika missarion Arab dan Persia masuk ke pulau Jawa pada awal tahun 1400 dan lambat laun memenangkan para mualaf di antara golongan yang berkuasa.

Kejatuhan Majapahit

Sebelum 1450, Islam telah memperoleh tempat berpijak di istana Majapahit di Jawa Timur. Van Leur memperkirakan hal ini ditolong oleh adanya disintegrasi budaya Brahma di India. Surabaya (Ampel) menjadi pusat belajar Islam dan dari sana para pengusaha Arab yang terkenal meluaskan kekuasaan mereka. Jatuhnya kerajaan Jawa, yaitu kerajaan Majapahit pada tahun 1468 dikaitkan dengan intrik dalam keluarga raja karena fakta bahwa putra raja, Raden Patah masuk Islam. Baik di Jawa Timur maupun Jawa Barat, pemberontakan dalam keluarga-keluarga raja digerakkan oleh tekanan militer Islam. Ketika para bangsawan berganti keyakinan, maka rakyat akan ikut. Meskipun demikian, Vlekke menunjukkan bahwa perang-pra keagamaan jarang terjadi di sepanjang sejarah Jawa.

Kerajaan Demak

Raden Patah menetap di Demak yang menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa. Ia mencapai puncak kekuasaannya menjelang 1540 dan pada waktunya menaklukkan suku-suku hingga ke Jawa Barat. Bernard Vlekke mengatakan bahwa Demak mengembangkan wilayahnya hingga Jawa Barat karena politik Jawa tidak begitu berkepentingan dengan Islam. Pada waktu itu, Sunan Gunung Jati, seorang pangeran Jawa, mengirim putranya Hasanuddin dari Cirebon, untuk mempertobatkan orang-orang Sunda secara ekstensif. Pada 1526, baik Banten maupun Sunda Kelapa berada di bawah kontrol Sunan Gunung Jati yang menjadi sultan Banten pertama. Penjajaran Cirebon dengan Demak ini telah menyebabkan Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Islam. Pada kuartal kedua abad ke-16, seluruh pantai utara Jawa Barat berada di bawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam dan penduduknya telah menjadi Muslim. Karena menurut data statistik penduduk tahun 1780 terdapat kira-kira 260.000 jiwa di Jawa Barat, dapat kita asumsikan bahwa pada abad ke-16 jumlah penduduk jauh lebih sedikit. Ini memperlihatkan bahwa Islam masuk ketika orang-orang Sunda masih merupakan suku kecil yang berlokasi terutama di pantai-pantai dan di lembah-lembah sungai seperti Ciliwung, Citarum, dan Cisadane.

Natur Islam

Ketika Islam masuk ke Sunda, memang ditekankan lima pilar utama agama, namun dalam banyak bidang yang lain dalam pemikiran keagamaan, sinkretisme berkembang dengan cara pandang orang Sunda mula-mula. Sejarawan Indonesia Soeroto yakin bahwa Islam dipersiapkan untuk hal ini di India. "Islam yang pertama-tama datang ke Indonesia mengandung banyak unsur filsafat Iran dan India. Namun justru komponen-komponen merekalah yang mempermudah jalan bagi Islam di sini." Para sarjana yakin bahwa Islam menerima kalau adat-istiadat yang menguntungkan masyarakat harus dipertahankan. Dengan demikian Islam bercampur banyak dengan Hindu dan adat istiadat asli masyarakat. Perkawinan beberapa agama ini biasa disebut "agama Jawa". Akibat percampuran Islam dengan sistem kepercayaan majemuk, yang sering disebut aliran kebatinan, memberi deskripsi akurat terhadap kekompleksan agama di antara suku Sunda saat ini.

Kolonialisme Belanda

Sebelum kedatangan Belanda di Indonesia pada 1596, Islam telah menjadi pengaruh yang dominan di antara kaum ningrat dan pemimpin masyarakat Sunda dan Jawa. Secara sederhana, Belanda berperang dengan pusat-pusat kekuatan Islam untuk mengontrol perdagangan pulau dan hal ini menciptakan permusuhan yang memperpanjang konflik Perang Salib masuk ke arena Indonesia. Pada 1641, mereka mengambil alih Malaka dari Portugis dan memegang kontrol atas jalur-jalur laut. Tekanan Belanda terhadap kerajaan Mataram sangat kuat hingga mereka mampu merebut hak-hak ekonomi khusus di daerah pegunungan (Priangan) Jawa Barat. Sebelum 1652, daerah-daerah besar Jawa Barat merupakan persediaan mereka. Ini mengawali 300 tahun eksploitasi Belanda di Jawa Barat yang hanya berakhir pada saat Perang Dunia II.
Peristiwa-peristiwa pada abad ke-18 menghadirkan serangkaian kesalahan Belanda dalam bidang sosial, politik, dan keagamaan. Seluruh dataran rendah Jawa Barat menderita di bawah persyaratan-persyaratan yang bersifat opresif yang dipaksakan oleh para penguasa lokal. Contohnya adalah daerah Banten. Pada tahun 1750, rakyat mengadakan revolusi menentang kesultanan yang dikendalikan oleh seorang wanita Arab, Ratu Sjarifa. Menurut Ayip Rosidi, Ratu Sjarifa adalah kaki tangan Belanda. Namun, Vlekke berpendapat bahwa "Kiai Tapa", sang pemimpin, adalah seorang Hindu, dan bahwa pemberontakan itu lebih diarahkan kepada pemipin-pemimpin Islam daripada kolonialis Belanda. (Sulit untuk melakukan rekonstruksi sejarah dari beberapa sumber karena masing-masing golongan memiliki kepentingan sendiri yang mewarnai cara pencatatan kejadian.)

Agama bukanlah isu hingga tahun 1815

Selama 200 tahun pertama Belanda memerintah di Indonesia, sedikit masalah yang dikaitkan dengan agama. hal ini terjadi karena secara praktis Belanda tidak melakukan apa-apa untuk membawa kekristenan, yakni agama yang dianut bangsa Belanda, kepada penduduk Indonesia. Hingga tahun 1800, ada "gereja kompeni" yakni "gereja" yang hanya namanya saja karena hanya berfungsi melayani kebutuhan para pekerja Belanda di Perusahaan Hindia Timur (VOC). Badan ini mengatur seluruh kegiatan Belanda di kepulauan Indonesia. Hingga abad ke-19 tidak ada kota bagi anak-anak Indonesia sehingga rakyat tidak mempunyai cara untuk mengetahui kekristenan.
Pada pergantian abad ke-19, VOC gulung tikar dan Napoleon menduduki Belanda. Pada 1811, Inggris menjadi pengurus Hindia Timur Belanda. Salah satu inisiatif mereka adalah membuka negeri ini terhadap kegiatan misionaris. Walaupun demikian, hanya sedikit yang dilakukan di Jawa hingga pertengahan abad tersebut. Kendati demikian, beberapa fondasi telah diletakkan di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang menjadi model bagi pekerjaan di antara orang Sunda.

Sistem budaya

Kesalahan politik yang paling terkenal yang dilakukan Belanda dimulai pada tahun 1830. Kesalahan politik ini disebut sebagai Sistem Budaya (Cultuurstelsel), namun sebenarnya lebih tepat jika disebut sistem perbudakan. Sistem ini mengintensifkan usaha-usaha pemerintah untuk menguras hasil bumi yang lebih banyak yang dihasilkan dari tanah ini. Sistem budaya ini memeras seperlima hasil tanah petani sebagai pengganti pajak. Dengan mengadakan hasil panen yang baru seperti gula, kopi, dan teh, maka lebih besar lagi tanah pertanian yang diolahnya. Pengaruh ekonomi ke pedesaan bersifat dramatis dan percabangan sosialnya penting. Melewati pertengahan abad, investasi swasta di tanah Jawa Barat mulai tumbuh dan mulai bermunculan perkebunan-perkebunan. Tanah diambil dari tangan petani dan diberikan kepada para tuan tanah besar. Menjelang 1870, hukum agraria dipandang perlu untuk melindungi hak-hak rakyat atas tanah.

Pertumbuhan populasi di Jawa

Pada tahun 1851 di Jawa Barat, suku Sunda berjumlah 786.000 jiwa. Dalam jangka waktu 30 tahun jumlah penduduk menjadi dua kali lipat. Priangan menjadi titik pusat perdagangan barang yang disertai arus penguasa dari Barat serta imigran-imigran Asia (kebanyakan orang Tionghoa). Pada awal abad ke-19 diperkirakan bahwa sepertujuh atau seperdelapan pulau Jawa merupakan hutan dan tanah kosong. Pada tahun 1815 seluruh Jawa dan Madura hanya memiliki 5 juta penduduk. Angka tersebut bertambah menjadi 28 juta menjelang akhir abad tersebut dan mencapai 108 juta pada tahun 1990. Pertumbuhan populasi di antara orang Sunda mungkin merupakan faktor non-religius yang paling penting di dalam sejarah suku Sunda.

Konsolidasi pengaruh Islam

Karena lebih banyak tanah yang dibuka dan perkampungan-perkampungan baru bermunculan, Islam mengirim guru-guru untuk tinggal bersama-sama dengan masyarakat sehingga pengaruh Islam bertambah di setiap habitat orang Sunda. Guru-guru Islam bersaing dengan Belanda untuk mengontrol kaum ningrat guna menjadi pemimpin di antara rakyat. Menjelang akhir abad, Islam diakui sebagai agama resmi masyarakat Sunda. Kepercayaan-kepercayaan yang kuat terhadap banyak jenis roh dianggap sebagai bagian dari Islam. Kekristenan, yang datang ke tanah Sunda pada pertengahan abad memberikan dampak yang sedikit saja kepada orang-orang di luar kantong Kristen Sunda yang kecil.

Reformasi abad ke-20

Sejarah Sunda di abad ke-20 dimulai dengan reformasi di banyak bidang. Pemerintah Belanda mengadakan Kebijakan Etis pada tahun 1901 karena dipengaruhi oleh kritik yang tajam di berbagai bidang. Reformasi ini terutama terjadi dalam bidang ekonomi, meliputi perkembangan bidang pertanian, kesehatan, dan pendidikan. Rakyat merasa diasingkan dengan tradisi ningrat mereka sendiri dan Islam menjadi jurubicara mereka menentang ekspansi imperialistik besar yang sedang berlangsung di dunia melalui serangan ekonomi negara-negara Eropa. Islam merupakan salah satu agama utama yang mencoba menyesuaikan diri dengan dunia modern. Gerakan reformator yang dimulai di Kairo pada tahun 1912 diekspor ke mana-mana. Gerakan ini menciptakan dua kelompok utama di Indonesia. Kelompok tersebut adalah Sarekat Islam yang diciptakan untuk sektor perdagangan dan bersifat nasionalis. Kelompok yang lain adalah Muhammadiyah yang tidak bersifat politik, namun berjuang untuk memenuhi kebutuhan rakyat akan pendidikan, kesehatan, dan keluarga.

Tidak ada karakteristik sejarah Sunda

Yang menonjol dalam sejarah orang Sunda adalah hubungan mereka dengan kelompok-kelompok lain. Orang Sunda hanya memiliki sedikit karakteristik dalam sejarah mereka sendiri. Ayip Rosidi menguraikan lima rintangan yang menjadi alasan sulitnya mendefinisikan karakter orang Sunda. Di antaranya, ia memberikan contoh orang Jawa sebagai satu kelompok orang yang memiliki identitas jelas, bertolak belakang dengan orang-orang Sunda yang kurang dalam hal ini.
Secara historis, orang Sunda tidak memainkan suatu peranan penting dalam urusan-urusan nasional. Beberapa peristiwa yang sangat penting telah terjadi di Jawa Barat, namun biasanya peristiwa-peristiwa tersebut bukanlah kejadian yang memiliki karakteristik Sunda. Hanya sedikit orang Sunda yang menjadi pemimpin, baik dalam hal konsepsi maupun implementasi dalam aktivitas-aktivitas nasional. Memang banyak orang Sunda yang dilibatkan dalam berbagai peristiwa pada abad ke-20, namun secara statistik dikatakan mereka tidak begitu berperan. Pada abad ini, sejarah orang Sunda pada hakekatnya merupakan sejarah orang Jawa.

Orientasi keagamaan abad ke-20

Agama di antara orang Sunda adalah seperti bentuk-bentuk kultural mereka yang lain yang pada umumnya, mencerminkan agama orang Jawa. Perbedaan yang penting adalah kelekatan yang lebih kuat kepada Islam dibanding dengan apa yang dapat ditemukan di antara orang Jawa. Walaupun kelekatan ini tidak sebesar suku Madura atau Bugis, namun cukup penting untuk mendapat perhatian khusus bila kita melihat sejarah orang Sunda.
Salah satu aspek yang sangat penting dalam agama-agama orang Sunda adalah dominasi kepercayaan-kepercayaan pra-Islam. Kepecayaan itu merupakan fokus utama dari mitos dan ritual dalam upacara-upacara dalam lingkaran kehidupan orang Sunda. Upacara-upacara tali paranti (tradisi-tradisi dan hukum adat) selalu diorientasikan terutama di seputar penyembahan kepada Dewi Sri (Nyi Pohaci Sanghiang Sri). Kekuatan roh yang penting juga adalah Nyi Roro Kidul, tetapi tidak sebesar Dewi Sri; ia adalah ratu Laut Selatan sekaligus pelindung semua nelayan. Di sepanjang pantai selatan Jawa, rakyat takut dan selalu memenuhi tuntutan dewi ini hingga sekarang. Contoh lain adalah Siliwangi. Siliwangi adalah kuasa roh yang merupakan kekuatan dalam kehidupan orang Sunda. Ia mewakili kuasa teritorial lain dalam struktur kosmologis orang Sunda.

Mantera-mantera magis

Dalam penyembahan kepada ilah-ilah, sistem mantera magis juga memainkan peran utama berkaitan dengan kekuatan-kekuatan roh. Salah satu sistem tersebut adalah Ngaruat Batara Kala yang dirancang untuk memperoleh kemurahan dari dewa Batara Kala dalam ribuan situasi pribadi. Rakyat juga memanggil roh-roh yang tidak terhitung banyaknya termasuk arwah orang yang telah meninggal dan juga menempatkan roh-roh (jurig) yang berbeda jenisnya. Banyak kuburan, pepohonan, gunung-gunung dan tempat-tempat serupa lainnya dianggap keramat oleh rakyat. Di tempat-tempat ini, seseorang dapat memperoleh kekuatan-kekuatan supranatural untuk memulihkan kesehatan, menambah kekayaan, atau meningkatkan kehidupan seseorang dalam berbagai cara.

Dukun-dukun

Untuk membantu rakyat dalam kebutuhan spiritual mereka, ada pelaksana-pelaksana ilmu magis yang disebut dukun. Dukun-dukun ini aktif dalam menyembuhkan atau dalam praktik-praktik mistik seperti numerologi. Mereka mengadakan kontak dengan kekuatan-kekuatan supranatural yang melakukan perintah para dukun ini. Beberapa dukun ini akan melakukan ilmu hitam tetapi kebanyakan adalah jika dianggap sangat bermanfaat oleh orang Sunda. Sejak lahir hingga mati hanya sedikit keputusan penting yang dibuat tanpa meminta pertolongan dukun. Kebanyakan orang mengenakan jimat-jimat di tubuh mereka serta meletakkannya pada tempat-tempat yang menguntungkan dalam harta milik mereka. Beberapa orang bahkan melakukan mantera atau jampi-jampi sendiri tanpa dukun. Kebanyakan aktivitas ini terjadi di luar wilayah Islam dan merupakan oposisi terhadap Islam, tetapi orang-orang ini tetap dianggap sebagai Muslim.
Memahami orang Sunda pada zaman ini merupakan tantangan yang besar bagi sejarawan, antropolog, dan sarjana-sarjana agama. Bahkan sarjana-sarjana Sunda yang terkemuka segan untuk mencoba melukiskan karakter dan kontribusi rakyat Sunda. Agaknya, melalui berbagai cara masyarakat Sunda telah terserap ke dalam budaya Indonesia sejak 50 tahun yang lalu.



Catatan ;
Meski bagaipanapun, suku sunda dan suku yang lainnya adalah bagian dari bangsa Indonesia yang saling terintegrasi dalam semangat membangun bangsa di abad modern ini. Lain dari itu, setiap suku memang memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Dan jika ada sejarah kelam antara dua suku yang saling bermusuhan dimasa lalu, bukan berarti generasi penerusnya harus mengingatnya sebagai dendam, melainkan sebagai pelajaran yang bisa dijadikan alasan untuk bersatu membangun bangsa Indonesia yang memang bukan terdiktatori oleh satu atau beberapa suku saja. Perbedaan telah menjadi tekad untuk bersatu dalam perbedaan itu sendiri.

Teori Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia


Teori Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia :
(a) Prof. Dr. H. Kern,
Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa - bahasa yang digunakan di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata “kampong” yang banyak digunakan sebagai kata tempat di Kamboja. Selain nama geografis, iIstilah-istilah binatang dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi pendapat ini disangkal oleh K. Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan perbendaharaan bahasa Campa.

(b) Van Heine Geldern
Pendapatnya tak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Teori Geldern ini didukung oleh penemuan-penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya, yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang ditemukan di daratan Asia.

(c) Max Muller
Berpendapat lebih spesifik, yaitu bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia Tenggara. Namun, alasan Muller tak didukung oleh alasan yang jelas.

(d) Willem Smith
Melihat asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh orang-orang Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria. Lalu bahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesia, dan Polinesia.

(e) Hogen
Menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 hingga 1.500 SM, sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM.

(f) Drs. Moh. Ali.
Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka pindah ke selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari 3.000 hingga 1.500 SM (Proto Melayu) dan gelombang kedua terjadi pada 1.500 hingga 500 SM (Deutro Melayu). Ciri-ciri gelombang pertama adalah kebudayaan Neolitikum dengan jenis perahu bercadik-satu, sedangkan gelombang kedua menggunakan perahu bercadik-dua.

(g) Prof. Dr. Krom
Menguraikan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina Tengah karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2.000 SM sampai 1.500 SM.

(h) Mayundar
Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa Muda di India bagian timur.

(i) Dr. Brandes,
Berpendapat bahwa suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan, sebelah barat Pulau Madagaskar; sebelah selatan yaitu Jawa, Bali; sebelah timur hingga ke tepi pantai bata Amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan bahasa.

(j) Prof. Mohammad Yamin,
Yamin menentang teori-teori di atas. Ia menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar kepulauan Indonesia. Menurut pandangannya, orang Indonesia adalah asli berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Ia bahkan meyakini bahwa ada sebagian bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia. Yamin menyatakan bahwa temuan fosil dan artefak lebih banyak dan lengkap di Indonesia daripada daerah lainnya di Asia, misalnya, temuan fosil Homo atau Pithecanthropus soloensis dan wajakensis yang tak ditemukan di daerah Asia lain termasuk Indocina (Asia Tenggara).

Sunday, March 11, 2012

KEBOHONGAN TEORI UMUR BUMI JUTAAN TAHUN


METODE “PENENTUAN UMUR” DAN UMUR BUMI YANG SEBENARNYA
(David J. Stewart)

Banyak fosil yang membuktikan ketidakbenaran teori evolusi
disembunyikan oleh para evolusionis (pendukung teori evolusi) dan
bahkan dipalsukan untuk kepentingan mereka. Hal yang paling menarik
dari skenario para evolusionis adalah umur dari fosil-fosil ini.
Evolusionis menyatakan bahwa Archaeopteryx hidup 150 juta tahun yang
lalu, manusia Lucy 3 juta tahun lalu, dan reptil pertama hidup 250
juta tahun yang lalu. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan terhadap
fosil-fosil ini menunjukkan kenyataan bahwa umur yang disebutkan
memperlihatkan bias dan interpertasi yang menipu.
Kenyataannya, semua angka-angka jutaan tahun yang diberikan para
evolusionis terhadap umur fosil ini sama sekali tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Metoda untuk menentukan umur fosil ini sangat
spekulatif. Lebih jauh, metoda “penentuan umur” yang lain tidak
diterima oleh evolusionis, karena bisa membuktikan bahwa umur fosil
ternyata jauh lebih muda.
Sebenarnya pertanyaannya adalah mengenai umur bumi, bukan hanya umur
fosil. Evolusionis berpendapat bahwa umur bumi adalah 4,5 miliar
tahun. Angka ini digunakan oleh berbagai media cetak dan elektronik,
literatur sains dan sumber-sumber yang lain. Banyak orang percaya pada
pendapat tersebut yang menyatakan bahwa bumi umurnya beberapa miliar
tahun dan menerimanya tanpa pembuktian yang nyata.
Pendapat ini tetap bertahan tanpa adanya langkah nyata untuk
membuktikan kebenarannya. Termasuk angka-angka perkiraan yang
diberikan oleh para evolusionis terhadap umur fosil pada kenyataannya
sangat meragukan.
Kemudian, apakah pentingnya mengetahui umur bumi sudah tua (4,5 miliar
tahun) atau masih muda (ribuan tahun)?
Orang Kristen mula-mula teguh pada kepercayaan bahwa manusia ada di
bumi sejak 5,000 – 6,000 tahun SM, menurut Alkitab Perjanjian Lama.
Akan tetapi di bawah konsep evolusi, pemahaman umur bumi mulai
berubah.
George de Buffon, salah satu pionir teori evolusi, pertama kali
menyatakan bahwa umur bumi lebih tua dari 80 ribu tahun. Geologis
James Hutton dan Charles Lyell menunjuk pada umur yang lebih tua lagi.
Dengan berkembangnya teori evolusi, perkiraan umur bumi menjadi
semakin tua. Hari ini para pendukung evolusi menerima bahwa umur bumi
adalah 4,5 miliar tahun dan makhluk hidup pertama ada 3,5 miliar tahun
lalu.

Teori evolusi
Apa alasan para evolusionis begitu memaksakan hal ini? Mengapa teori
ini mencoba menaikkan umur bumi dari semenjak pertama teori evolusi
dicetuskan?
Alasannya adalah : proses evolusi memerlukan waktu yang sangat lama
untuk bisa terjadi. Klaim bahwa semua makhluk ada karena perkembangan
secara bertahap dari satu sel makhluk hidup, tentu saja akan gagal dan
tidak berarti apa-apa jika umur bumi masih muda – hanya beberapa ribu
tahun lalu. Tetapi jika bisa dibuktikan bahwa umur bumi adalah
beberapa miliar tahun, maka waktu yang diperlukan untuk terjadinya
proses evolusi bisa dipenuhi menurut teori ini.
Stephen W. Hawking
Jadi latar belakang klaim bahwa umur bumi adalah 4,5 miliar tahun,
semata-mata didasarkan pada keperluan teori evolusi. Dengan alasan
yang sama, umur alam semesta diakui relatif lebih tua sesuai penetepan
dari umur bumi sebelumnya. Stephen W. Hawking, seorang fisikawan
moderen yang terkenal, tidak ragu-ragu untuk mengakui tujuan
sebenarnya dari pemikiran para evolusionis. Hawking menjawab
pertanyaan, “Mengapa Bing Bang terjadi sepuluh miliar tahun lalu?”
dengan sebuah jawaban, “Waktu selama itu (miliaran tahun) diperlukan
untuk proses evolusi supaya bisa menghasilkan sebuah makhluk yang
cerdas.”
Kalau begitu, apakah yang benar-benar dibutuhkan oleh teori evolusi?
Apakah bumi memang setua yang di klaim oleh para evolusionis?
Pada penjelasan berikut, kita akan melihat jawaban terhadap pertanyaan
ini. Tetapi hal pertama yang harus dilakukan adalah mempertanyakan
keabsahan metoda yang digunakan oleh para evolusionis untuk
membuktikan umur bumi dan fosil dari organisme makhluk hidup. Kemudian
kita akan melihat metoda yang lain dalam menentukan umur, yang tidak
diterima bahkan diabaikan oleh para evolusionis, hanya karena bisa
membuktikan umur yang lebih muda.

TES RADIOMETRIK
Dewasa ini ada dua macam tes untuk menentukan umur bumi.
Pertama berdasarkan observasi (pengamatan) terhadap kejadian alam yang
ada di muka bumi. Jika diamati bahwa beberapa peristiwa geologis
terjadi pada masa tertentu, maka bisa diasumsikan dengan mempergunakan
data ini, kejadian yang sama telah terjadi dalam kurun waktu yang sama
di masa lalu.
Mengacu pada prinsip ini, bisa perkirakan umur bumi. Sebagai contoh,
diasumsikan rasio konsentrasi garam di laut naik 100 ton dalam
sebulan. Berdasarkan rasio ini, metoda penentuan umur dilakukan dengan
cara: Memperkirakan jumlah garam yang ada di semua lautan, selanjutnya
dibagi dengan jumlah rasio peningkatan yang sudah ditentukan
sebelumnya. Angka yang diperoleh akan mengindikasikan jumlah bulan
yang dilewati sampai sekarang, dari sejak pertama kali adanya lautan
(dengan asumsi tidak ada kandungan garam di laut mula-mula).
Yang kedua adalah tes Radiometrik. Test ini ditemukan awal abad 20 dan
menjadi sangat populer. Teknik test Radiometrik terletak pada prinsip
bahwa “atom tidak stabil” di material radioaktif akan berubah menjadi
“atom stabil” dalam satu interval waktu tertentu. Kenyataan bahwa
perubahan ini terjadi dengan jumlah yang sudah dipastikan dan juga
dalam periode waktu yang tertentu, membuat timbulnya gagasan untuk
mempergunakan data ini sebagai penentu dari umur fosil dan umur bumi.
Test Uranium adalah yang pertama kali digunakan, tetapi kemudian tidak
dipakai lagi. Prinsip dari test ini adalah perubahan uranium menjadi
timah. Uranium berubah menjadi atom thorium saat memancarkan
radiasinya. Thorium adalah sebuah elemen radioaktif, berubah menjadi
protactinium setelah beberapa waktu tertentu. Setelah tiga belas
perubahan tambahan, uranium pada akhirnya berubah menjadi timah yang
merupakan elemen stabil.
Waktu yang dibutuhkan oleh elemen radioaktif untuk berubah dari
setengah masanya menjadi elemen yang lain, disebut setengah-umur dari
elemen ini. Setengah-umur dari uranium-238 adalah 4,5 miliar tahun.
Artinya 100 gram uranium yang kita miliki hari ini, akan menjadi 50
gram uranium-238 dan 50 gram timah-206 setelah 4,5 miliar tahun
kemudian. Dan setelah 4,5 miliar tahun berikutnya, ada tersisa
seperempat dari jumlah uranium yang kita miliki mula-mula. Reaksi ini
akan berlanjut sampai uranium itu habis.
Tes radiometrik untuk mengukur batuan vulkanik
Tes radiometrik digunakan untuk menghitung umur batuan sesuai dengan
prinsip setengah-umur, yaitu: ada sejumlah elemen radioaktif di batuan
vulkanik di bumi. Kandungan radio aktif di batuan ini secara alami
hilang dan berubah menjadi bentuk yang stabil. Dengan melihat proses
ini, menghitung jumlah radioaktif dan material stabil, bisa ditentukan
berapa banyak material radioaktif yang berubah ke dalam bentuk stabil
di dalam rentang waktu tertentu. Sehingga umur batuan ini adalah dua
kali dari jumlah material radioaktif berubah menjadi setengah-umur.
Umur bumi juga ditentukan dengan metoda yang sama. Batuan yang dipakai
untuk memperkirakan umur bumi sama dengan dengan meteor atau tanah di
bulan, yang diasumsikan diciptakan pada waktu yang sama dengan bumi.
Sampel dari batuan ini diasumsikan sebagai batuan yang tertua, dan
digunakan untuk menentukan umur bumi. Sesuai dengan data ini, umur
bumi adalah 4,6 miliar tahun.
Ada sejumlah test radiometrik mempergunakan prinsip ini : “material
radiometer berubah terhadap waktu.” Bahan dari berbagai material
setengah-umur dipergunakan untuk membuat perkiraan historis dari
berbagai henis batuan. Selain mempergunakan perubahan uranium-timah,
digunakan teknik perubahan yang lain seperti rubidium-strontium dan
potassium-argon juga digunakan. Ada juga metoda yang lebih baru
seperti jam-fisi, thermoluminescence, neodymium-samarium. Kebanyakan
dari cara-cara itu sebelumnya digunakan untuk menentukan umur.
Banyak orang berpikir bahwa metoda penentuan umur ini menunjukkan
bahwa segi ilmiahnya tepat dan sesuai dengan hukum-hukumnya. Tetapi
kenyataannya sangat banyak kritik serius terhadap penentuan umur
mempergunakan metoda ini.
Tes radiometrik ini didasarkan pada beberapa asumsi, walaupun tidak
ada landasan yang bisa dipegang. Pertama, supaya bisa mempercayai tes
ini; harus dipahami sungguh-sungguh bahwa tidak ada atom yang stabil
di batuan mula-mula. Contohnya, sebuah tes uranium yang bisa
dipertanggungjawabkan hanya bisa dibuat jika tidak ada timah di batuan
itu. Jika sebelumnya batuan itu sudah memiliki kandungan timah, maka
umurnya akan diperkirakan jauh lebih tua. Dan tidak mungkin bisa
ditemukan apakah batuan mula-mula sudah memiliki kandungan timah atau
tidak.
Hal kedua yang lebih penting adalah, menentukan lebih dahulu bahwa
batu yang akan diukur berada dalam sistem yang tertutup. Batuan ini
harus terlindungi dari efek-efek kejadian eksternal.
Contoh terbaik dali jenis efek ini bisa ditemukan di penentuan umur
dengan potassium-argon. Metoda penentuan umur ini mengukur jumlah
potassium yang berubah menjadi argon dalam satu rentang waktu. Jadi
kita berpikir bahwa umur batuan bisa ditentukan dari perubahan
komposisi rasio potassium-argon yang dimilikinya. Tetapi ada satu hal
penting: Udara yang kita hirup berisi gas argon dalam jumlah besar.
Gas ini, saat bebas, akan masuk ke dalam batuan dan meningkatkan
jumlah kandungan argon di dalamnya. Sehingga umur batuan akan
diperkirakan jauh lebih tua dari kenyataannya.
Air di dalam tanah juga membuat masalah yang penting. Air menyerap
berbagai mineral dan material radioaktif saat melewati kedalaman
tanah. Kemudian para evolusionis memakai mineral yang ada di batuan
ini untuk menentukan umurnya. Ini menyebabkan masalah penting dan
tidak bisa diabaikan dalam menentukan umur batuan.
Supaya tepat dalam memperkirakan umur sebuah sampel, tiga fakta di
bawah ini harus diperhatikan:
1. Jumlah material radioaktif yang dimiliki oleh batuan mula-mula
2. Jumlah atom stabil yang ada di batuan mula-mula
3. Gas eksternal yang masuk ke dalam batuan.
Tenyata sangat tidak mungkin mengetahui dengan tepat ketiga kenyataan
yang ada di atas.

KASUS PULAU SURTSEY
Beberapa studi yang dilakukan para ilmuwan juga menyarankan bahwa test
radiometrik yang digunakan untuk menentukan umur tidak tepat seperti
yang diperkirakan. Satu contoh yang cukup berharga adalah penelitian
yang dilakukan pada sebuah pulau yang muncul dari letusan gunung api
bawah laut di dekat Iceland tahun 1970. Dengan berjalannya waktu,
muncul berbagai makhluk hidup dan ekosistemnya di pulau Surtsey.
Pulau Surtsey Iceland dikatakan berumur ratusan juta tahun
Seorang peneliti pada tahun 1975 ingin membuat tes untuk menentukan
umur pulau ini dengan mempergunakan teknik metoda potassium-argon.
Umur pulau yang diperoleh adalah satu miliar tahun! Kenyataannya semua
orang tahu bahwa pulau itu baru berumur beberapa tahun. Ternyata gas
argon telah memasuki batuan saat pembentukan lava, dan mencapai jumlah
yang besar yang mengakibatkan umur sampel batuan yang diambil
menunjukkan beberapa ratus juta tahun lebih tua.
Ada beberapa contoh lain yang bisa diberikan:
- Aliran lava bawah tanah yang diketahui berumur 20 tahun, dengan test
radiometrik dikatakan berumur 12-21 miliar tahun.
- Umur lava yang meletus di Hawaii pada tahun 1.800, dengan test
potassium-argon dikatakan berumur 1-2,4 miliar tahun dan dengan metoda
penentuan umur helium dikatakan berumur 140-670 miliar tahun.
- Umur danau garam Crater di Oahu Amerika, diperkirakan 92-147 juta
tahun, 140-680 juta tahun, 930-1.580 juta tahun, 1.230-1.960 juta
tahun, 1.290-2.050 juta tahun dan 1.260-1.900 juta tahun dari beberapa
metoda tes rediometrik. Ini jelas menunjukkan ketidak-akuratannya
- Beberapa pohon di Auckland, New Zealand yang ada di lapisan lava,
diperkirakan berumur 145-465 tahun. Padahal dengan mempergunakan tes
Karbon-14, pohon yang sama diperkirakan hanya berumur beberapa ratus
tahun saja.
Dalam banyak kondisi yang sama, diketahui bahwa test radiometrik
memberikan hasil yang keliru sampai ribuan bahkan jutaan tahun, dan
menimbulkan pertentangan yang keras di antara penggunanya sendiri.
Contoh yang lain adalah sampel batuan bulan yang dikumpulkan oleh
NASA. Tes radiometrik menyatakan bahwa umur batuan itu antara 700 juta
tahun sampai 28 miliar tahun. Ini membuktikan pengukuran umur dengan
metoda itu tidak bisa dipertanggungjawabkan karena memberikan hasil
dengan rentang waktu yang tidak masuk akal untuk batuan yang sama.
TEST KARBON-14
Karbon-14 sebenarnya termasuk jenis tes rediometrik. Tetapi ada
karakteristik khusus yang membedakannya dari yang lain. Tes
radiometerik yang lain hanya bisa digunakan untuk menentukan umur
batuan vulkanik, sedangkan karbon-14 bisa digunakan untuk
memperkirakan umur makhluk hidup, karena elemen radioaktif yang
ditemukan di dalam makhluk hidup hanyalah karbon-14.
Tes karbon-14 untuk mengukur makhluk hidup
Bumi secara terus-menerus terpapar dengan hujan cahaya kosmik dari
luar angkasa. Cahaya ini berbenturan dengan nitrogen-14 yang ada
banyak di atmosfer dan berubah menjadi elemen radioaktif, karbon-14.
Substansi baru yang dihasilkan dari kombinasi karbon-14 dan oksigen di
atmosfer membuat karbon-140, yang merupakan jenis radioaktif yang
lain.
Sebagaimana diketahui, tanaman mempergunakan CO2 (karbon dioksida),
H2O (air) dan udara sebagai nutrisi. Beberapa molekul karbon dioksida
ini diserap oleh tanaman di mana membuat molekulnya berisi kabon
radioaktif, karbon-14. Tanaman mengumpulkan bahan radioaktif di
dalamnya.
Beberapa organisme hidup makan tanaman. Beberapa makhluk hidup memakan
makhluk yang lain atau makan tanaman. Mengikuti rantai makanan ini,
karbon radioaktif yang dihisap makanan dari udara disalurkan ke
tanaman yang lain. Sehingga setiap makhluk di bumi menghirup karbon-14
dalam jumlah yang sama yang ada di atmosfer.
Saat tanaman atau binatang mati, mereka tidak memperoleh karbon-14
karena tidak bisa makan lagi. Karena karbon-14 adalah bahan
radioaktif, dia memiliki setengah-umur dan mulai berkurang jumlahnya
sejalan dengan waktu. Jadi berdasarkan hal itu, dengan mengukur
karbon-14 di dalam tubuh tiap-tiap makhluk, bisa digunakan untuk
memperkirakan umur bumi.
Setengah-umur dari karbon-14 adalah mendekati 5.570 tahun, yang
berarti setiap 5.570 tahun setengan dari jumlah karbon-14 yang ada di
dalam makhluk hidup menjadi rusak. Contohnya, jika ada 10 gram karbon-
14 di dalam tubuh makhluk hidup 5.570 tahun yang lalu, hari ini akan
tinggal 5 gram. Karena karbon-14 memiliki perioda setengah-umur yang
pendek, maka tidak bisa dingunakan untuk menentukan umur dari sampel
yang diperkirakan memiliki umur sangat tua seperti yang dihasilkan
oleh tes radiometrik. Diasumsikan bahwa tes karbon-14 memberikan hasil
yang bisa dipertanggungjawabkan untuk meneliti sampel antara 10 ribu
sampai 60 ribu tahun.
Seperti sudah disebutkan, tes karbon-14 memiliki tempat yang berbeda
dari tes radiometrik yang lain, karena digunakan untuk menentukan umur
makhluk hidup. Karena itulah, tes karbon-14 sekarang ini paling banyak
digunakan dibandingkan teknik penentuan umur yang lain. Tetapi tetapi
ada kelemahan tes karbon-14, seperti yang ditemukan pada tes
radiometrik yang lain.
Satu hal yang paling penting dari kenyataan ini adalah, sangat besar
kemungkinannya bahwa sampel yang sedang diukur umurnya, terpapar
dengan gas eksternal. Interaksi dengan gas-gas yang lain ini sangat
mungkin terjadi melalui air terkarbonasi atau bikarbonasi. Jika air
alam yang berisi karbon-14 ini mengenai sampel yang diukur, maka
elemen karbon-14 air tersebut akan masuk ke dalam sampel. Dengan
kondisi ini, umur sampel akan menjadi lebih muda dibandingkan yang
sebenarnya.
Kebalikannya bisa juga terjadi. Di bawah kondisi tertentu, jumlah
karbon-14 yang ada di sampel dapat menguap keluar membentuk karbonat
dan bikarbonat. Dalam kondisi ini, umur yang dihitung akan jauh lebih
tua dari yang sebenarnya.
Pada kenyataannya ada banyak temuan yang nyata yang menunjukkan tes
karbon-14 tidak tepat. Sampel dari makhluk yang masih hidup, dites
dengan karbon-14, menunjukkan umurnya beberapa ribu tahun. Sedangkan
sampel dari makhluk yang baru saja mati menunjukkan umur yang jauh
lebih tua dari yang sebenarnya.
Diketahui bahwa tes karbon-14 yang dilakukan terhadap sampel yang
telah diketahui umurnya, biasanya memberikan hasil yang salah.
Contohnya:
- Tes karbon-14 yang dilakukan terhadap anjing laut yang baru saja
mati, menunjukkan umur 1.300 tahun.
- Umur dari tiram yang masih hidup adalah 2.300 tahun.
- Tanduk rusa yang sama menunjukkan umur 5.340, 9.310 dan 10.320
tahun.
- Kulit kayu pohon memberikan hasil 1.168 dan 2.200 tahun saat ketika
diukur dalam waktu yang bersamaan.
- Di kota Jarmo Irak Utara orang-orang di sana hidup 500 tahun lalu,
tetapi dengan tes karbon-14 umurnya adalah 6.000 tahun.
Kenyataanya, semua contoh ini mempelihatkan fakta bahwa tes karbon-14
juga tidak bisa diterima keakuratannya seperti halnya tes radiometrik
yang lain.

INDEKS FOSIL
Sudah disebutkan bahwa SATU-SATUNYA tes radiometrik yang bisa
digunakan untuk menentukan umur makhluk hidup hanyalah test karbon-14.
Sebagai tambahannya, tes karbon-14 hanya bisa digunakan untuk
menghitung sampel yang berumur kurang dari 60 ribu tahun. Tetapi fosil
yang dipelajari oleh para ilmuwan evolusionis dan kita baca dari bukubukunya,
kadang-kadang berumur sampai jutaan tahun.
Jadi bagaimana mereka bisa menentukan umur fosil-fosil tersebut?
Jawaban terhadap pertanyaan ini akan terlihat menarik banyak orang
yang menghadapi masalah ini untuk pertama kali, karena angka-angka
yang diberikan oleh para evolusionis sangat mengesankan – seolah-olah
mereka metoda penentuan umur yang benar-benar canggih. Akan tetapi
metoda penetuan umur fosil yang berikutnya, yaitu metoda indeks, tidak
disangka benar-benar mencengangkan.
Karena tes radiometrik tidak bisa digunakan terhadap fosil, maka untuk
menentukan umur fosil para evolusionis melihat lapisan tanah di mana
fosil itu ditemukan. Metoda penentuan umur fosil dengan melihat umur
lapisan tanahnya ini dinamakan metoda “indeks fosil”.
Langkah pertamanya adalah menentukan umur setiap lapisan geologis
dengan menggunakan metoda tes radiometrik. Kemudian fosil yang
ditemukan di lapisan ini ditentukan umurnya berdasarkan umur lapisan
geologisnya.
Pada kenyataannya ada sebuah masalah penting dalam hal ini yaitu : tes
penentuan umur batuan hanya bisa dilakukan terhadap batuan vulkanik.
Batuan jenis ini adalah batuan yang terbentuk dari lava yang keluar
dari gunung berapi, membeku dan berubah bentuk. Jadi di dalam batuan
ini sangat kecil kemungkinan bisa ditemukan fosil karena proses
pembentukannya. Makhluk hidup yang masuk ke dalam lava panas akan
habis terbakar.
Lapisan batuan bumi
Lebih jauh, hampir semua fosil berada di lapisan sedimen tanah atau
tumpukan bebatuan. Lapisan sedimen tanah ini bertumpuk melalui
perubahan permukaan bumi atau karena penyebab yang lain, menutupi
permukaan makhluk yang mati ini. Organ lunak dari makhluk yang mati
ini mulai membusuk dengan cepat. Hanya kerangka yang tersisa. Dan
kerangka ini menjadi keras dan membatu, menyerap kalsium dan bahanbahan
lain dari sekitarnya. Akhirnya hanya tersisa kerangka yang
membatu. Biasanya lapisan sedimen yang menutupi kerangka yang membatu
ini terbuat dari batuan garam, bertambah tebal sesuai dengan
berlalunya waktu. Saat lapisan ini semakin tebal, tekanan meningkat
dan lapisan-lapisan sedimen berubah menjadi batu keras. Melalui proses
ini, fosil dapat diawetkan untuk periode waktu yang lama.
Akan tetapi penentuan umur dengan tes radiometrik tidak bisa dilakukan
terhadap batuan ini.
Secara singkat, ada sebuah pertentangan yang sangat mutlak yaitu:
hanya batuan vulkanik yang satu-satunya mungkin dipakai untuk
memperkirakan umurnya, tetapi hampir tidak pernah ditemukan ada fosil
di dalamnya karena proses pembentukan batuan vulkanik tersebut.
Jadi kenyataannya, batuan yang berisi fosil tidak bisa ditentukan
umurnya dengan metoda apa pun!
Untuk mengatasi masalah ini, metoda yang sangat menarik dipergunakan …
Di antara lapisan vulkanik, walaupun sangat jarang, kadang-kadang
terdapat fosil di antaranya. Debu vulkanik atau material dingin yang
terbentuk saat gunung berapi meletus, menutupi permukaan makhluk hidup
itu dan melindungi kerangkanya. Pada kondisi ini, penentuan umur
lapisan debu vulkanik mungkin untuk dilakukan. Umur dari lapisan debu
sama dengan umur dari fosil yang ada. Umur debu vulkanik yang
diperoleh dengan tes radiometrik sama dengan umur fosil.
Perkiraan umur fosil yang telindungi debu vulkanik itu sangat penting,
karena berikutnya itu digunakan untuk menentukan umur fosil-fosil lain
di lapisan yang sama.
Contohnya, fosil ikan Coelacanth pertama ditemukan di lapisan
vulkanik, dihitung dengan tes radiometrik berumur 300 juta tahun
(makhluk di bawah air juga bisa dipengaruhi oleh letusan vulkanik).
Fosil ikan Coelacanth dikatakan hidup 300 juta tahun lalu
Berdasarkan umur lapisan ini, umur ikan Coelacanth juga ditentukan
berumur 300 juta tahun. Umur 300 juta tahun cocok untuk Coelacanth
karena ikan ini diperkirakan merupakan bentuk perubahan ikan primitif.
Jika ada fosil manusia ditemukan pada lapisan ini, maka para
evolusionis akan berpikir bahwa mereka sudah membuat sebuah kesalahan,
karena bagi mereka tidak mungkin menemukan fosil manusia di lapisan
yang umurnya sangat tua menurut teori mereka.
Setelah penemuan besar ini, semua fosil yang ditemukan di lapisan yang
sama dengan ikan Coelacanth ini juga diberi umur 300 tahun tanpa
keraguan sedikit pun. Selanjutnya ikan Coelacanth menjadi “ideks
fosil” (fosil penentu umur). Jadi ikan itu digunakan untuk menentukan
umur batuan sedimen yang tidak mungkin diukur dengan tes radiometrik.
Jika kemudian ada ikan Coelacanth ditemukan pada lapisan tanah yang
lain, maka lapisan itu langsung diasumsikan mempunyai umur yang sama
dengan ikan ini. Indeks fosil ini juga biasa digunakan untuk
menentukan umur fosil yang lain.
Akan tetapi apa yang terjadi berikutnya, ikan Coelacanth yang
diperkirakan berumur 300 juta tahun dan telah digunakan sebagai indeks
fosil sejak lama, ternyata ditemukan nelayan dalam keadaan hidup.
Kemudian anggota spesies yang sama juga ditemukan dalam beberapa waktu
selanjutnya mulai dari tahun 1938 sampai sekarang.
Ikan Coelacanth hidup banyak ditemukan sekarang ini
Ini membuktikan bahwa makhluk ini (ikan Coelacanth) bukanlah bentuk
transisi ikan primitif, yang diperkirakan hidup 300 juta tahun lalu
dan kemudian punah. Ikan ini adalah ikan yang masih hidup sampai
sekarang. Berdasarkan kenyataan ini, maka semua penggunaan umur fosil
yang mempergunakan ikan Coelacanth sebagai indeks fosil menjadi tidak
berlaku lagi.
Kasus ini menunjukkan metode indeks fosil dangat lemah dan tidak bisa
dipertanggung jawabkan. Para evolusionis yang menghitung umur batuan
dengan tes radiometrik dan kemudian mempergunakan batuan ini sebagai
indeks, ternyata terbukti tidak tepat. Ketika para evolusionis
menemukan berbagai fosil dari makhluk yang sama di tempat-tempat yang
berbeda di seluruh bumi, lapisan di tempat makhluk itu itu ditemukan
juga diterima memiliki umur yang sama tuanya.
Masalah yang paling penting terletak pada kalkulasi spekulatif ini,
yaitu asumsi adanya evolusi makhluk hidup. Karena, fosil yang diterima
sebagai “indeks” ini diasumsikan hidup pada masa purba dan berubah
menjadi spesies lain. Akan tetapi jika klaim terhadap terjadinya
proses evolusi ini tidak diterima, maka semua perkiraan umur ini tidak
ada artinya.
Alasan dari itu semua adalah, anggota dari spesies yang sama yang
sebelumnya diterima sebagai indeks fosil yang diperkirakan hidup
berjuta tahun lalu, ternyata ditemukan masih hidup sekarang ini tanpa
ada perubahan bentuk. (seperti contoh ikan Coelacanth). Sebagai
akibatnya, metoda indeks fosil ini tidak bisa dipergunakan lagi
sebagai penentu umur fosil yang bisa dipertanggungjawabkan, dan juga
berimbas pada pentuan semua fosil dengan umur yang sama di lapisan
batuan yang sama.
Sebagai tambahan, telah terbukti bahwa test radiometrik yang digunakan
untuk menentukan indeks fosil sama sekali tidak bisa dipercaya
kebenarannya.
Indeks fosil ternyata digunakan untuk membagi lapisan bumi ke dalam
bermacam kategori sesuai dengan lapisan geologisnya.
Contohnya, lapisan yang berisi sebagian besar invertebrata dikatakan
berasal dari “periode cambrian”. Semua fosil yang ditemukan pada
lapisan ini, juga dinamakan sebagai makhluk priode cambrian.
Setelah peride cambrian ini, sesuai dengan sudut pandang evolusionis,
vertebrata dan mamalia bergabung menjadi satu. Jadi melalui asumsi ini
disusun bukti dari perkembangan evolusi pada catatan fosil. Di
asumsikan bahwa ada urutan perubahan bentuk dari invertebrata menjadi
vertebrata, bentuk primitif dan menjadi moderen.
Akan tetapi, in bukanlah bukti yang sebenarnya untuk memastikan
terjadinya proses evolusi, karena hanya asumsi yang diambil setelah
teori evolusi diterima.
Sebuah contoh kecil akan memperjelas kondisi masalah ini:
Setiap orang yang menyelam dengan perlengkapan tabung udara di laut
akan menjumpai berbagai makhluk hidup yang sama dengan makhluk yang
dikatakan oleh para evolusionis berasal dari periode cambrian.
Dapat terlihat bahwa invertebrata dan organisme yang tidak termasuk
jenis crustacea hidup di dasar laut pada saat yang sama sekarang ini.
Kemudian fosil yang tergolong pada periode cambrian masih hidup dengan
semua jenisnya sampai hari ini pada waktu yang sama. Padahal, para
evolusionis mempergunakan fosil dari makhluk ini sebagai indeks fosil,
menyatakan umur mereka miliaran tahun.

METODA “PENENTUAN UMUR” YANG SULIT DITERIMA
Pada pembahasan awal disebutkan bahwa metoda penentuan umur ditentukan
dari observasi (pengamatan) atas peristiwa awal yang terjadi yaitu
dengan: mengamati kejadian-kejadian geologis pada rentang waktu
tertentu, yang kemudian diterima terjadi pada periode yang sama
sekarang ini. Berdasarkan prinsip ini, perkiraan umur bumi bisa
ditentukan.
Hal yang paling menarik adalah, hampir semua metoda penentuan umur
melalui observasi kejadian alam memberikan hasil umur yang muda
terhadap bumi.
Semua angka yang dihasilkan, walaupun ditemukan ada sedikit perbedaan
satu sama lain, tetapi semuanya sangat kecil dibandingkan dengan umur
bumi 4,5 miliar tahun yang diterima oleh para evolusionis.
Hasil yang paling penting dari teknik penentuan umur dengan observasi
dan temuannya, adalah seperti berikut:
1. Umur komet
Komet
Ketika sebuah komet mendekati matahari, gaya tarik matahari mulai
menghancurkan partikel-partikel kecil dari bintang ini. Jadi “ekor”
komet terbentuk dari pecahan partikel ini. Karena perubahan bentuk
ini, para ahli astronomi memperkirakan bahwa umur komet antara 1.500
sampai 10.000 tahun. Padahal sekarang ini ada banyak sekali komet.
Jika alam semesta berumur miliaran tahun seperti yang diklaim, maka
semua komet ini pasti sudah lama sekali mati.
Untuk mengatasi masalah ini, kaum evolusionis berdebat bahwa ada “Awan
Oort” yang memproduksi komet di luar angkasa. Kenyataannya, ini benarbenar
merupakan klaim khayalan yang tidak memiliki dasar yang
beralasan. Keberadaan dari awan jenis ini sama sekali tidak pernah
dilihat. Di sini kita bisa melihat “cara berpikir berputar-putar” yang
lazim dibuat oleh para evolusionis. Dua argumen terpisah dibuat lebih
dahulu, kemudian digunakan untuk saling membuktikan keduanya.
Contoh “cara berpikir berputar-putar” ini adalah dalam pernyataan
mereka berikut ini, “Alam semesta umurnya sangat tua, dan karena itu,
ada sesutu yang memproduksi komet berumur-pendek; dan karena adanya
“sumber” yang membuat komet berumur-pendek ini, maka alam semesta
pasti sudah berumur miliaran tahun.”
2. Endapan di dasar laut
Temuan lain yang menunjukkan umur bumi lebih muda dari pada yang
dikatakan para evolusionis adalah dari pengamatan jumlah endapan yang
terakumulasi di dasar laut. Dengan mengamati tumpukan lapisan di dasar
laut setiap tahun, ternyata menghasilkan perhitungan umur bumi yang
masik sangat muda.
Susunan lapisan endapan dasar laut
Peneliti bawah air mengamati bahwa rata-rata tebal lapisan endapan di
dasar laut adalah 700 meter. Luas lautan dan permukaan laut di bumi
adalah 360,9 juta kilometer persegi. Akibatnya, semua lapisan endapan
di lautan ada sebanyak 325 juta kilometer kubik. Rata-rata berat dari
substansi lapisan ini dihitung sekitar 2,3 gram per sentimeter kubik.
Dari semua perhitungan itu diperoleh hasil perhitungan seluruh lapisan
di dasar laut adalah seberat 748 juta kali miliar ton.
Kemudian, berapa waktu yang dibutuhkan dari semua jumlah itu
terakumulasi di bawah laut?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat berapa banyak
material lapisan yang berpindah dari darat ke laut setiap tahunnya.
Dari hasil perhitungan bahwa semua sungai bisa membawa 19.9 miliar ton
lapisan per tahun. Jumlah lapisan yang ditinggalkan oleh pulau es dan
daratan sekitar 2.2 miliar ton. Juga diasumsikan bahwa 1,46 juta ton
lapisan dihasilkan dari gunung api bawah laut ke seluruh lautan. Dan
dihitung bahwa 0,06 miliar ton laposan dibawa oleh angin. Jika
semuanya dijumlahkan, diperoleh hasil 27,12 miliar ton lapisan yang
masuk ke dalam laut setiap tahun.
Untuk menghitung berapa lama waktu uang dibutuhkan untuk membentuk
lapisan bawah laut sekarang ini, angka 748 juta kali miliar ton dibagi
dengan jumlah lapisan per tahun rata-rata 27,12 miliar ton. Hasilnya
adalah 11 juta tahun. Ini sangat kontras dengan umur bumi yang diklaim
oleh para evolusionis, yaitu 4,5 miliar tahun.
Lebih jauh, harus diperhatikan bahwa 11 juta tahun adalah kemungkinan
umur maksimum dari bumi. Karena sangat masuk akal untuk berpikir bahwa
jumlah lapisan yang dibawa ke laut jauh lebih banyak terjadi di masa
lampau, sehingga bisa jadi sebagian besar lapisan di dasar laut
berasal dari masa itu.
3. Rasio konsentrasi garam di laut
Ada sebuah material yang terus menerus berpindah dari darat ke laut.
Berbagai jenis logam, mineral dan garam yang ada di bebatuan akan
luruh ke dalam laut seiring dengan berjalannya waktu. Jika diasumsikan
bahwa semua material ini tidak ada di laut pada saat terbentuknya
bumi, kita bisa menghitung berapa waktu yang dibutuhkan oleh semua
material ini sampai sekarang ditemukan terakumulasi di laut.
Tes yang dilakukan terhadap berbagai material yang ada di laut
menunjukkan waktu yang dibutuhkan terakumulasi di laut pada masa kini,
antara 100-300 juta tahun. Dan ini kembali membuat klaim para
evolusionis terhadap umur bumi 4,5 miliar tahun, tidak berlaku.
4. Medan Magnetis Bumi
Medan magnetis bumi pertama kali diukur tahun 1835. Hasil pengukuran
setelah itu menunjukkan bahwa medan magnetis berkurang secara tetap.
Dengan menghitung pengurangan medan magnetis setiap tahun,
dimungkinkan untuk menentukan berapa besarnya medan magnetis bumi pada
mulanya. Berdasarkan perhitungan besaran medan magnetis di bumi mulamula,
terlihat bahwa umur bumi tidak terlalu tua, karena untuk
mempertahankan struktur atmosfer bumi dan letaknya di orbit tata
surya, medan magent bumi memiliki batasan tertentu.
Medan magnetis bumi
Kalkulasi dengan menggunakan prinsip ini menunjukkan bahwa umur bumi
tidak lebih dari 10 ribu tahun. Karena umur tertua dari medan magnetis
bumi akan sebanding dengan umur medan magnetis bintang. Tidak mungkin
bumi memiliki medan magnetis sekuat yang dimiliki bintang yang bisa
melakukan proses termonuklir untuk mempertahankan medan magnetnya.
Para evolusionis berargumentasi melawan teori ini, mengklaim bahwa ada
sumber listrik (“dinamo”) yang mempertahankan medan magnetis dari
penurunannya secara tetap, karena efek dari dinamo ini membuat
rasionya tidak seimbang. Namun, teori dinamo ini sama sekali konsep
khayalan dan tidak ada satu pun bukti yang bisa mendemonstrasikan
keberadaannya.
Pertama, para evolusionis membuat dogma bahwa umur bumi tua, dan
kemudian mereka membuat klaim teori khayalan untuk mendukung keyakinan
mereka.
5. Populasi Menusia di Bumi
Populasi penduduk
Sekarang ini populasi penduduk bumi tiap tahun meningkat 21 %.
Walaupun kita menerima bahwa pada masa lampau tingkat kematian sangat
tinggi dan rasio pertambahan penduduk hanya 0,5%, maka dari
perhitungan hanya tersisa dua orang manusia pada 4.500 tahun yang
lalu. Di lain pihak, jika manusia pertama hidup 1 juta tahun yang lalu
seperti yang di klaim para evolusionis, maka hari ini ada 10 pangkat
2.100 orang yang hidup di bumi, dengan perhitungan rasio kelahiran
hanya 0,5% per tahun.
Lebih lanjut, klaim para evolusionis memiliki arti, ada miliaran orang
telah hidup selama jutaan tahun. Kenyataannya, fosil manusia sangat
jarang ditemukan, memperlihatkan bahwa klaim para evolusionis ini
tidak masuk akal.
6. Gunung Berapi
Penelitian yang dibuat terhadap jumlah air “muda” dan letusan lava
dari gunung-gunung berapi di dunia, menunjukkan bahwa umur bumi jauh
lebih muda daripada yang dikatakan oleh evolusionis.
Gunung meletus
Dua puluh persen cairan yang dimuntahkan oleh gunung berapi, terdiri
dari air yang terjebak di dalam bumi. Air ini dinamakan air “muda”
(Juvenile), karena air ini tidak pernah muncul ke permukaan bumi
sebelumnya. Ini bisa diketahui dari struktur kimianya.
Setiap tahun, hampir selusin gunung api di dunia meletus. Jumlah dari
air “muda” di lava ini keluar sekitar satu kubik mil., di mana seluruh
air di laut dan danau adalah 34 juta kubik mil. Jika pada mulanya
tidak ada air di permukaan bumi, maka seluruh air di muka bumi ada
setelah selama 340 juta tahun keluar dalam bumi. Padahal menurut
konsep dari evolusionis, laut terbentuk di bumi 1-2 miliar tahun yang
lalu.
Rasio dari magma yang keluar dari gunung berapi juga menyangkal klaim
dari evolusionis. Diperkirakan magma sebanyak 0,8 km3 keluar ke
permukaan bumi setiap tahun. Sesuai dengan rasio ini, dalam waktu 4,5
miliar tahun, maka akan banyak sekali terdapat lava di permukaan bumi
melampaui semua dataran benua yang ada.
Tidak perlu disebutkan, semua lava ini akan membeku. Tapi ternyata
tidak mungkin magma sebanyak ini ada terkumpul di permukaan bumi.
7. Lava Io
Lava di Io
Io, adalah satu satelit dari planet Jupiter, dengan ukuran yang sangat
kecil. Akan tetapi dari dari hasil pengamatan yang dilakukan, Io masih
memiliki gunung-gunung berapi aktif yang meletus dan memuntahkan lava
dalam jumlah yang besar. Ini menunjukkan bahwa benda angkasa itu tidak
berumur miliaran tahun, karena jika demikian – dengan jumlah letusan
gunung berapi di Io sebanyak ini, seharusnya letusan ini sudah
berakhir jutaan tahun yang lalu.
8. Sejarah Peradaban Manusia
Seluruh catatan sejarah mengenai umat manusia dan temuan arkeologis
yang diketahui, berumur tidak lebih dara beberapa ribu tahun yang
lalu. Jadi masuk akal bila dikatakan bahwa tidak ada ada informasi
mengenai manusia sebelum 4,000 SM.
Sementara itu para evolusionis menyatakan bahwa manusia moderen sudah
ada di bumi beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Terhadap hal ini,
muncul pertanyaan: “Mengapa manusia moderen hidup tanpa catatan apa
pun yang bisa ditemukan selama ratusan ribu tahun, kemudian tiba-tiba
muncul lagi pada tahun 4.000 SM?”
Semua kalkulasi alam dan metode observasi untuk memperkirakan sejarah
bumi ternyata menghasilkan umur bumi yang lebih kecil dibandingkan
yang diklaim para evolusionis.
Test yang digunakan oleh evolusionis tidak seperti kalkulasi dan
observasi berdasar kejadian di alam, tetapi metode ini dibuat oleh
mereka sendiri, berisi kriteria yang ditentukan sendiri. Akibatnya,
metoda penentuan umur (tes radiometrik dan indeks fosil) buatan mereka
memberikan hasil perhitungan tepat sesuai dengan yang mereka harapkan
sebelumnya.
Tuhan menciptakan alam dan isinya (Kejadian 1)
Bagi orang yang percaya pada teori Penciptaan, umur bumi tidaklah
begitu penting, berapa pun umur alam semesta atau umur bumi, semuanya
ada karena langsung diciptakan satu persatu oleh Tuhan, bukan terjadi
karena proses evolusi.
Sebaliknya para evolusionis menyatakan teorinya bahwa alam semesta
berumur 10 miliar tahun dan bumi berumur 4,5 miliar tahun.
Mereka juga membuat metoda sendiri (tes radiometrik dan indeks fosil)
untuk membuktikan teorinya. Stephen Hawking sendiri mengakui, “Waktu
selama itu (miliaran tahun) diperlukan untuk proses evolusi supaya
bisa menghasilkan sebuah makhluk yang cerdas.”
“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat
dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh
karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” (Wahyu 4:11)

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...