Wednesday, March 19, 2014

Cerpen : Angkutan dari Rusun


Cerpen Gus tf Sakai (Media Indonesia, 16 Maret 2014) Angkutan dari Rusun ilustrasi Pata Areadi
PAGI ini tak bisa lagi Iman tak marah. Kapal gratis ke Muara Baru masih belum bisa jalan, sementara Rahmat anaknya yang sekolah pada sebuah SD di Pluit tak mau berangkat dengan bus. Tapi tentu saja Iman mestinya ngerti. Dengan bus, dari Marunda, Cilincing, ke Pluit, Penjaringan, jaraknya 10 kilometer. Pukul berapakah Rahmat akan sampai di sekolah?
Tetapi Iman sudah bilang ke Rahmat agar bangun lebih pagi. Rahmat saja yang tampaknya seperti malas. Ah, ada apakah sebetulnya? Walau sejak pindah ke Marunda banyak hal memang tak lagi sama, namun Iman punya firasat bukan karena itu Rahmat berubah. Ya, ada sesuatu yang seperti berubah. Kelas 4 SD, 10 tahun, memang usia nakal-nakalnya. Apakah ada sesuatu yang terjadi di sekolah? 
“Aku juga tak tahu,” kata Warsinah, istrinya, saat kemarin Iman bertanya. “Tapi yah, dibanding di Pluit, di sini Rahmat lebih banyak main.”
“Mm, apa karena main? Apakah karena asyik main ia jadi malas?”
Iman masih menggerutu, masih uring-uringan, saat pamit pada istrinya. Sapaan beberapa orang yang tengah duduk-duduk minum pagi di kios dan gerobak-gerobak lantai dasar, ia balas seadanya. Di halaman yang luas, Iman agak tertegun. Dilihatnya truk-truk dan orang-orang, para pekerja bangunan, ramai, menurunkan berbagai peralatan. Sepagi ini. Mmm. Pasar sayur itu, rupanya, benar-benar akan ada di depan rusun mereka.
***
Sampai di tempat mangkalnya, pasar ikan Muara Baru Jalan Gedong Panjang, hari memang telah agak siang. Tetapi bagi Iman, telat atau tidak memang tak soal, karena pasar ikan itu hanya tempat kerja antara, sebelum kemudian ia mangkal di Taman Waduk Pluit. Selain ‘mengisi’ langganan, orang-orang yang biasa utang rokok atau barang kecil ini-itu, pasar ikan adalah tempat Iman menitipkan asongan kepada seorang juragan ikan yang dulu, sebelum ia pindah ke Marunda, adalah juragannya.
Taman Waduk Pluit menjadi tempat asongan utama, karena di situlah sumber uang kontan Iman. Semua pembeli adalah orang asing, orang-orang yang sebelumnya Iman tak kenal, para pengunjung taman, yang entah datang dari mana. Hari-hari biasa Iman bisa untung Rp40 ribu-Rp50 ribu, sedangkan Sabtu dan Minggu bisa mencapai dua kalinya. Ditambah upah Warsinah yang membantu-bantu di sebuah kios lantai dasar rusun, penghasilan mereka cukup untuk bertiga dan kadang bisa mengirim ke Yeni, kakak Rahmat yang tinggal bersama orangtua Iman dan sekolah di sebuah SMP di kampung mereka di Magetan.
Siang Iman akan istirahat seraya menunggu Rahmat pulang dari sekolahnya pada sebuah SD dekat Emporium Pluit. Bersama, mereka lalu makan siang di sebuah warung dan, sesudahnya, dibantu Rahmat, Iman akan terus mengasong sampai malam. Sungguh tak terbayangkan, lokasi yang Januari lalu masih berupa perumahan kumuh, dipadati gubuk-gubuk di bantaran waduk, tak lebih sembilan bulan, telah menjelma jadi taman. Dan salah satu dari gubuk itu, tentu saja adalah gubuk Iman. Kadang, dengan setengah bercanda, Iman suka bertanya ke Rahmat, “Ayo, di mana dulu rumah kita?”
“Di situ!” tunjuk Rahmat, seraya berlari-lari ke sebuah lokasi di sisi waduk.
“Bukan!” sanggah Iman. Dan seraya menunjuk agak ke tengah, ke sisi bagian dalam waduk, ia bilang, “Di sana….”
“Kok di dalam waduk?” Rahmat protes.
“Ya tentu. Waduk kan diperlebar….”
Memang, selain dikeruk, waduk juga diperlebar. Luas yang dulu 60 hektare, untuk menanggulangi banjir, akan dijadikan 80 hektare. Sampai pertengahan November itu, baru sisi barat waduk yang jadi taman. Selain area pusat taman yang diresmikan Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang biasa dipanggil Jokowi, 17 Agustus 2013 lalu, sudah ada pula area teater terbuka, jalur jalan untuk joging, dan bangku-bangku. Jokowi bilang, “Bertahun-tahun ke depan, taman ini akan jadi hutan kota. Tak ada lahan komersial. Semua untuk warga. Gratis.” Warga juga boleh berdagang, tetapi asongan, karena tak boleh ada bangunan.
***
Masih juga kapal belum bisa jalan. Sudah lebih seminggu. Dan seperti harihari lalu, Rahmat masih juga seperti malas. Kadang mau sekolah, kadang tidak. Dan, hal lain yang juga mulai terasa dan membuat Iman kini kepikir, adalah ongkos bus. Bolak-balik Marunda-Pluit bisa mencapai Rp20 ribu. Ah, kapankah cuaca kembali baik sehingga kapal Marunda- Muara Baru bisa pula kembali jalan?
Bila terus begini, semua akan kacau. Kondisi keuangan keluarga juga akan tak lagi mencukupi.
Ah, andai saja masih seperti dua bulan lalu, saat bus Marunda-Pluit masih beroperasi.
Memang, bagi warga yang dipindahkan akibat normalisasi waduk ke rusun-rusun yang lokasinya jauh, disediakan angkutan gratis. Dan untuk yang dipindahkan ke rusunawa Marunda, selain dengan kapal Marunda-Muara Baru yang lewat laut, disediakan pula bus Marunda-Pluit yang lewat darat. Tetapi karena perjalanan dengan kapal lebih cepat, hampir semua orang memilih angkutan laut, dan angkutan darat jadi sepi. Lama-lama bus jadi kosong, dan dua bulan lalu kemudian berhenti. Tetapi, kenapa harus berhenti? Tidakkah, sebelum diputuskan berhenti, warga rusun mestinya lebih dulu ditanyai?
Ah, banyak hal memang tak berjalan sebagaimana mestinya. Dan satu hal yang membuat Iman was-was, adalah unit-unit rusun yang disewakan ke orang lain. Karena berbagai pertimbangan, banyak yang sehabis kerja tak pulang ke rusun dan memilih menginap di sekitar waduk. Dari semula menginap, lama-lama mereka menyewa kamar di Muara Baru, lalu rusun mereka kontrakkan. Bekerja sama dengan oknum pengelola rusun dan calo-calo, sewa unit rusun yang paling mahal Rp159 ribu per bulan, bisa menjelma jadi Rp700 ribu. Bila ketahuan, bukan hanya si penyewa asli, penyewa di seluruh lantai juga akan dikeluarkan.
Dan, bukan itu saja, juga kios dan gerobak-gerobak di lantai dasar. Katanya, akan diundi secara terbuka. Tetapi ada kios yang berganti pengelola, dan si pengganti ternyata famili atau masih satu keluarga.
Ah, Iman berdesah. Dan, tiba-tiba ingat Rahmat. Hari itu, karena Rahmat tak mau sekolah, Iman juga jadi enggan kerja. Di samping paginya juga hujan. “Ke mana ia?” tanya Iman kepada istrinya.
“Entah. Tetapi tadi ia ke bawah. Katanya ke lapangan. Karena hujan, ada temantemannya yang juga tak sekolah.”
Iman melangkah, keluar dari unit rusunnya, berjalan ke arah tangga. Dari teras tangga di lantai dua, Iman bisa memandang ke lapangan serbaguna yang terletak antara Blok A-6 dan Blok A-5. Dan di lapangan itu, di bawah sana, dilihatnya Rahmat, bersama teman-temannya, sedang berlarian berteriak-teriak bermain bola.
Iman juga ingin berteriak, memanggil, tetapi tiba-tiba membatalkannya.
Pemandangan itu, serombongan anak berlarian mengejar bola, tiba-tiba mengingatkan Iman ke suatu masa, di kampungnya, Magetan, 30 tahun lalu.
Iman seperti tertegun. Terpaku lama. Dan lalu, mendadak, seolah ada yang tibatiba bergejolak di dadanya, Iman berbalik. Ia melangkah setengah berlari ke unit rusunnya. “Aku tahu, Inah! Aku tahu!”
***
Apa yang menurut Iman ia tahu, adalah dunia dan permainan itu. Melihat Rahmat dan teman-temannya bermain bola, Iman terbayang masa kanak-kanaknya di Magetan. Betapa mengasyikkan. Betapa menggembirakan. Selain berlarian mengejar bola, ada makebo-keboan, engklek, gobak sodor, boyo-boyoan. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan di Marunda, tak bisa didapatkan Rahmat di Pluit, apalagi saat mereka dulu di bantaran. “Mas yakin itu yang menyebabkan Rahmat malas sekolah?” tanya Warsinah.
“Sangat yakin,” tukas Iman, “dan baik Rahmat kita pindahkan.” “Ke sini?”
“Iya. Ada SD tak jauh dari sini, di Sipitung.”
Warsinah seperti berpikir.
“Dah, jangan berpikir. Dan masih ada lagi.”
“Masih ada lagi? Apa….?”
“Pasar sayur… kau lihat orang-orang sedang bekerja, membangun pasar di depan. Aku akan mendaftar.”
“Mendaftar? Ikut jualan sayur?”
“Iya.”
Warsinah seperti terpana. Sesaat, lalu senyum mengembang di bibirnya. “Kita… kita betul-betul hanya akan di sini? Mas juga takkan lagi ke Pluit?”
Iman mengangguk. Warsinah mendekat, menyentuh tangan Iman tak percaya. Tetapi kembali Iman mengangguk. Memastikan. Dan, senyum Warsinah kini benar-benar mekar. Mengembang lebar….
***
Cerpen ini merupakan bagian dari sebuah karya yang lebih luas.
Gus tf Sakai, pengarang kelahiran Payakumbuh, 1965. Menulis novel, cerpen, dan puisi. Ia mendapat penghargaan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004), juga Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk kumpulan cerpen Perantau (2007). Buku terkininya Kaki yang Terhormat (2012).

Monday, February 24, 2014

Cerpen : Kucing Ditengah Hujan

Cerpen Ernest Hemingway

Hanya ada dua orang Amerika di hotel itu. Mereka tidak mengenal siapa pun yang mereka jumpai di tangga saat mereka meninggalkan atau pulang ke kamar mereka. Kamar mereka di lantai dua menghadap laut. Ia juga menghadap taman dan monumen perang. Ada pohon-pohon palem besar dan bangku-bangku di taman itu. Ketika cuaca bagus, selalu ada pelukis di sana bersama kuda-kuda penyangga kanvasnya. Para pelukis menyukai palem-palem yang menjulang dan warna cerah hotel yang menghadap taman dan laut. Orang-orang Italia datang dari tempat-tempat jauh untuk melihat monumen perang. Ia terbuat dari perunggu dan berkilau diguyur hujan. Sekarang sedang hujan. Hujan menetes dari pohon-pohon palem. Air menghadirkan genangan-genangan di jalan setapak berkerikil. Laut menciptakan garis memanjang di tengah hujan, yang bergulung ke arah pantai dan pecah di sana, dan menciptakan kembali garis memanjang di tengah hujan. Motor-motor meninggalkan alun-alun di samping monumen perang. Di seberang alun-alun seorang pelayan berdiri di pintu kafe memandangi alun-alun yang kosong.

Si istri Amerika berdiri di jendela memandang ke luar. Di luar, tepat di bawah jendela kamar mereka, seekor kucing meringkuk di bawah salah satu meja hijau yang kehujanan. Kucing itu berusaha meringkuk sekecil mungkin agar tidak tepercik air hujan.

“Aku akan turun dan mengangkat kucing itu,” kata perempuan itu.

“Biar aku saja,” suaminya menawarkan diri dari ranjang.

“Tidak, aku saja. Kucing malang itu berlindung di bawah meja.”

Si suami melanjutkan membaca, berbaring dengan dua bantal penyangga di bagian kaki ranjang.

“Jangan sampai kebasahan,” kata lelaki itu.

Si istri turun dan pemilik hotel berdiri dan membungkuk saat ia melintasi ruang kantor. Meja orang itu di bagian paling dalam ruangan kantornya. Ia lelaki berperawakan sangat tinggi.

“Il piove,” kata perempuan itu. Ia menyukai si penjaga hotel.

“Si, si, Signora, brutto tempo. Cuacanya buruk sekali.”

Ia berdiri di belakang mejanya di bagian dalam ruangan kantor yang remang. Perempuan itu menyukainya. Ia menyukai kesungguhan orang itu dalam menerima segala jenis keluhan. Ia menyukai penampilannya yang bermartabat. Ia menyukai caranya menawarkan bantuan. Ia menyukai cara orang itu menghayati dirinya sebagai penjaga hotel. Ia menyukai paras tuanya yang muram dan tangannya yang besar.

Dengan perasaan suka kepadanya, perempuan itu membuka pintu dan memandang ke luar. Hujan kian deras. Seorang lelaki berjas hujan sedang menyeberangi alun-alun menuju kafe. Kucing itu mestinya ada di samping kanan. Perempuan itu bisa berjalan di sepanjang teritisan. Saat ia berdiri di ambang pintu, sebuah payung terbuka di belakangnya. Rupanya seorang pelayan mengikutinya saat ia keluar dari kamar.

“Anda tidak boleh kebasahan,” perempuan itu tersenyum, bicara dalam bahasa Italia. Tak pelak lagi, penjaga hotel itulah yang mengirimkan perempuan ini.

Dipayungi oleh pelayan itu, si istri berjalan di atas setapak berkerikil sampai ia tiba di bawah jendela kamarnya. Meja itu ada di sana, hijau cerah dibasuh hujan, tetapi si kucing sudah pergi. Ia tiba-tiba merasa kecewa. Pelayan mengamatinya.

“Ha perduto qualque cosa, Signora?”

“Ada kucing di situ,” kata perempuan Amerika itu.

“Seekor kucing?”

“Si, il gatto.”

“Seekor kucing?” pelayan itu tertawa. “Seekor kucing di tengah hujan?”

“Ya,” katanya, “di bawah meja.” Kemudian, “Oh, aku sangat menginginkannya. Aku menginginkan seekor kucing kecil.”

Ketika berbicara bahasa Inggris, muka si pelayan menegang.

“Mari, Signora,” katanya. “Kita harus kembali ke dalam. Anda akan kebasahan.”

“Kurasa begitu,” kata perempuan Amerika.

Mereka kembali menyusuri setapak berkerikil dan masuk ke pintu. Pelayan tetap di luar menutup payung. Saat perempuan Amerika melewati kantor, si padrone membungkuk dari mejanya. Ada sesuatu yang terasa begitu kecil dan mengkerut di dalam diri perempuan itu. Si padrone membuatnya merasa sangat kecil dan pada saat yang sama sangat penting. Sesaat ia merasakan dirinya sungguh amat penting. Ia melangkah ke tangga. Ia membuka pintu kamar. George di atas ranjang, membaca.

“Kau dapatkan kucing itu?” tanyanya seraya meletakkan buku.

“Ia sudah pergi.”

“Aneh ke mana ia pergi,” katanya, melepaskan pandangannya dari bacaan.

Perempuan itu duduk di ranjang.

“Aku sangat menginginkannya,” katanya. “Aku tidak tahu kenapa aku sangat menginginkannya. Aku menginginkan kucing malang itu. Tidak enak jadi seekor kucing di luaran sana di tengah hujan.”

George membaca lagi.

Perempuan itu berpindah dan duduk di depan cermin meja rias, mengamati dirinya sendiri dengan sebuah cermin kecil. Ia meneliti wajahnya sendiri, mula-mula satu sisi, kemudian sisi yang lain. Kemudian ia meneliti bagian belakang kepala dan lehernya.

“Bukankah bagus menurutmu jika aku memanjangkan rambutku?” tanyanya, meneliti wajahnya lagi.

George mengangkat muka dan melihat bagian belakang leher istrinya, potongan rambutnya pendek seperti anak lelaki.

“Aku suka seperti itu.”

“Aku bosan dengan ini,” katanya. “Aku bosan sekali berpenampilan seperti laki-laki.”

George mengubah posisinya di ranjang. Ia tidak memperhatikan istrinya sejak perempuan itu memulai pembicaraan.

“Kau terlihat manis sekali,” katanya.

Perempuan itu memasukkan cermin kecilnya di laci dan melangkah ke jendela dan memandang ke luar. Hari mulai gelap.

“Aku ingin memanjangkan rambutku dan mengikatnya di punggung sehingga aku bisa merasakannya,” katanya. “Aku ingin mempunyai kucing yang bisa kupangku dan mendengkur saat kubelai.”

“Yeah?” kata George dari ranjang.

“Dan aku mau makan dengan perabotan makanku sendiri dan lilin di meja makan. Dan aku ingin membiarkannya tumbuh apa adanya dan aku ingin menyisir rambutku di depan cermin dan aku menginginkan seekor kucing dan aku menginginkan pakaian-pakaian baru.”

“Oh, tutup mulutmu dan carilah bacaan,” kata George. Ia membaca lagi.

Istrinya memandang ke luar jendela. Sudah betul-betul gelap sekarang dan hujan masih membasuh pohon-pohon palem.

“Bagaimanapun, aku menginginkan kucing,” katanya. “Aku menginginkan kucing. Aku menginginkan kucing sekarang. Kalaupun aku tidak bisa memanjangkan rambutku atau mendapatkan kesenangan yang lainnya, aku bisa memelihara kucing.”

George tidak mendengarkan. Ia terus membaca bukunya. Istrinya memandang ke luar dari jendela ke arah cahaya yang mulai menerangi alun-alun.

Seseorang mengetuk pintu.

“Avanti,” kata George. Ia melongok dari balik bukunya.

Di ambang pintu berdiri si pelayan. Ia mendekap seekor kucing besar berwarna coklat kehitaman yang tampak meronta hendak turun.

“Maaf,” katanya, “padrone meminta saya membawa ini untuk Signora.”

***

Diterjemahkan oleh A.S. Laksana
Dari “Cat in The Rain”, dalam Ernest Hemingway: The First Forty-Nine Stories, diterbitkan terbatas oleh The Franklin Library, Franklin Center, Pennsylvania: 1977

Tuesday, February 11, 2014

Cerpen Kompas : Bau Laut

Bau Laut

Cerpen Ratih Kumala (Media Indonesia, 9 Februari 2014)
Bau Laut ilustrasi Pata Areadi
KETIKA lelaki itu pulang dari melaut, ia menemuiku. Kupikir ia sudah mati ditelan laut.Tubuhnya legam. Air asin dan matahari telah memanggang kulitnya. Rambutnya kemerahan. Matanya menyipit dan cekung. Aku melihat ceruk ketakutan di situ, sekaligus sejuta perlawanan. Aku memang tidak mengerti laut, meski sepanjang umur aku hidup di tepi laut.Aku tidak paham apa yang mesti ditakuti di laut yang tak ada apa-apa selain ikan, air, dan matahari. Mungkin karena tidak ada apa-apanya itulah ia menjadi takut.
Namanya Mencar, anak nelayan yang menjadi dewasa di dalam kapal. Sejak dia kecil, ayahnya telah membawanya ke laut. Dia bisa melihat ikan dari kejauhan, matanya tajam dan awas. Hingga dewasa, dia terus bertugas memberi tahu awak kapal di mana mereka bisa menemukan gerombolan ikan untuk ditangkap. Dia akan naik ke tiang kapal, bergelantungan serupa layar, dan berteriak dengan semangat sambil menunjuk ke satu titik. 
“Ikaaan…!” Mencar dan aku tak pernah akur.
Semasa kami bocah, ia anak yang menyebalkan. Menakut-nakutiku dengan kepiting besar hingga aku lari menghindarinya. Aku menghindari Mencar sampai aku remaja. Hingga suatu sore aku melihat ayah Mencar mengajak bocah itu melaut. Di tepi pantai, ia memandangku. Ada yang salah pada tatapan matanya. Meski tubuhnya masih anak-anak, sorot matanya telah menjadi mata lelaki dewasa. Aku bahkan lebih tinggi darinya, tapi sorot mata itu membuatku jengah.
Beberapa hari kemudian Mencar kembali. Laut memang penyihir yang maha dahsyat, mampu mengubah semua orang. Mencar, teman kecilku itu, berubah menjadi lelaki pada suatu hari sepulang melaut. Tak ada lagi tanda-tanda bocah di tubuhnya. Badannya liat dan terbakar. Tubuhnya menjadi lebih tinggi. Sorot matanya masih sama, seperti menelanjangiku. Malamnya, itulah yang dilakukannya. Kami bercumbu dengan alas pasir dan atap bintang, serta bau laut yang menerpa wajah kami. Bibirnya terasa asin.
Mencar menjadi kekasihku.
Pada suatu malam, Mencar bercerita, ia bermimpi dengan seorang perempuan yang muncul dari laut.
“Apakah itu Nyai Ratu Kidul?” tanyaku.
“Bukan. Aku tahu itu bukan Nyai Ratu Kidul.”
“Siapa?”
Penjelasan Mencar tak bisa dipercaya.
“Dia perempuan yang tak punya kaki, tapi ekor ikan yang menjuntai dari pinggang ke bawah.” Aku tak pernah memercayai adanya Putri Duyung. “Dia menyuruhku untuk minum air laut di ujung geladak dan buritan sebelum aku melaut lagi besok.”
Para nelayan terbiasa membaca tanda-tanda alam, seaneh apa pun itu. Sore keesokan harinya, para perempuan melepas laki-laki mereka untuk melaut. Mencar menuruti mimpinya. Dia mengambil segelas air dari ujung geladak dan buritan kapal yang ditumpanginya. Para awak kapal bertanya-tanya apa yang dilakukan Mencar. Meski awalnya menganggap itu aneh, mereka mengikuti juga apa yang dilakukan Mencar. Ia turun sejenak dari kapal, berlari dan memegang tanganku.
“Sepulang dari melaut ini, aku akan meminangmu,” ia memelukku demikian erat, hingga dipanggil lagi oleh ayahnya untuk segera kembali ke kapal.
Keesokan malamnya, badai datang. Semua perempuan melongokkan kepala ke luar rumah demi memastikan benarkah badai yang tengah bertandang. Setelah itu mereka masuk ke rumah masing-masing dan bersembunyi sambil merapalkan doa. Selepas badai kami mendengar kabar tentang kapal-kapal yang hancur. Hatiku menjadi suwung. Ibu Mencar setiap hari membawakan sesaji untuk laut dan menangis setiap sore, memohon pada samudra untuk mengembalikan suami dan anaknya.
Beberapa hari kemudian, sebuah keanehan terjadi. Satu per satu nelayan terdampar. Mereka seolah dikembalikan oleh lidah ombak, termasuk ayah Mencar yang pulang dengan utuh. Setelah semua nelayan yang terdampar terkumpul, kami memastikan mereka adalah awak kapal tempat Mencar turut serta. Sementara awak kapal lain menyisakan janda-janda dan anak-anak yatim yang kini harus bertahan sendiri tanpa kepala keluarga.
Semuanya kembali, kecuali Mencar!
Lebih dari sebulan aku dan ibu Mencar setiap sore pergi ke bibir laut dan menyuguhkan sesajen agar Mencar kembali. Saat aku berpikir sudah tak ada lagi harapan, tiba-tiba lidah ombak menggulung seseorang dari tengah laut.Kami menghampiri sosok yang tergeletak itu.
“Mencar! Mencar anakku!” teriak Ibu Mencar. Aku tak memercayai ini, Mencar kembali dan masih utuh. Kupandangi Mencar yang belum mau bicara. Mulutnya diam seolah tak mengerti bahasa manusia. Tapi matanya, mata itu nyalang dan menyimpan sejuta cerita yang tak terkatakan.
Beberapa malam kemudian, aku tak menyangka. Mencar datang mengetuk jendela kamarku. Seperti malam-malam sebelum dia pergi melaut, sebelum badai itu menghantam, inilah yang biasa dia lakukan: mengajakku pergi ke bibir pantai dan bercumbu di bawah bintang.
Mencar, lelakiku, telah kembali.
“Kupikir kau sudah mati ditelan laut.” Mencar diam. Kupandangi ceruk matanya yang sedalam samudra. Aku seolah berenang dalam sorot mata yang telah menjadi keabu-abuan. Matanya kini menjelma liar.
“Apa yang telah terjadi?”
“Maafkan aku, aku sudah kawin dengan Putri Duyung. Aku tak bisa menikahimu.“
***
Mencar tak pernah lagi melaut. Berita bahwa ia sudah kawin dengan Putri Duyung telah menyebar seperti jamur.Dan tiba-tiba, setiap pagi rumahnya penuh oleh para nelayan. Mereka memberikan pundi-pundi pada Mencar. Kini Mencar hanya perlu turun ke halaman rumahnya, lalu mencium bau laut dalam-dalam, dan ia akan membisikkan kepada seorang nelayan ke arah mana mereka harus melaut. Di situlah mereka akan menemukan gerombolan ikan. Hidungnya telah demikian tajam sehingga ia tak perlu lagi melihat ke laut untuk mengetahui letak ikan. Matanya telah melihat laut yang sesungguhnya, seolah dirinya sendiri adalah peta samudra.
Tak lama, keluarga Mencar hidup bagai keluarga raja. Mereka tak perlu lagi bekerja. Mencar menjadi sumber penghasilan bagi orangtuanya. Ibunya melelang keahlian Mencar mencium bau laut setiap pagi. Siapa yang memiliki pundi paling besar, dialah yang akan diberi tahu letak gerombolan ikan di laut. Mencar tak pernah benar-benar keluar dari rumahnya. Ibunya pun selalu berseloroh kepada orang-orang kampung, “Anakku menikah dengan Putri Duyung. Dia Pangeran Laut yang hidup di darat.“
Aku tak tahu apakah benar atau tidak, tapi ada nelayan yang pernah melihat Mencar ke laut tengah malam, dan yakin benar bahwa perempuan berekor ikan menemuinya di bibir pantai. Aku hanya mendengarkan, sambil menelan olok-olok orang-orang yang menanyakan apakah aku akan mencari pacar baru atau bersaing dengan Putri Duyung.
Itu semua membuatku merasa seperti ombak yang pecah di tepi karang, berpencar dan pasrah pada samudra yang menarik kembali air asin yang telah menjadi keping. Seperti itulah sakit hatiku. Retak. Rusak.
Hingga suatu malam, ketika aku yang rentan sedang meresapi kesedihan, seseorang mengetuk jendela kamarku.Aku tahu itu pasti Mencar. Ketika kubuka jendelaku, tanganku menghambur memeluk tubuh Mencar.
“Kupikir kau takkan pernah mengetuk jendelaku lagi.“
“Menikahlah denganku,“ ucap Mencar.
“Tapi Putri Duyung itu?“
“Aku mencintaimu meskipun Putri Duyung itu telah menyelamatkan nyawaku. Temui aku dari pintu depan.“
Aku menutup jendela. Tak lama, terdengar ketukan pintu depan. Ayahku yang sedang membersihkan jala bertanya siapa gerangan mengetuk pintu demikian keras di malam buta.
Kubuka pintu, dan Mencar berdiri di situ.
“Mau apa kamu?“ tanya ayahku, ketus.
“Saya ingin menikahi putrimu, karena saya mencintainya.“
“Kamu sudah menikah dengan Putri Duyung, dan kamu sudah membuat saya kelaparan karena kamu mampu mencium bau laut, sedangkan saya tak mampu membayar keahlianmu. Kamu cuma memperkaya saudagar ikan dan membuat nelayan kecil macam saya makin tercekik.”
“Akan kuberikan mas kawin segerombolan ikan yang bisa menghidupimu seumur hidup. Kau bisa memanennya besok ketika kembali melaut. Dan, kapanpun kau melaut, ikan-ikan akan menghampirimu.”
Setelah Mencar meyakinkan ayahku, kami pun dinikahkan. Adikku menjadi saksinya. Malam itu juga Mencar membawaku ke bibir pantai, dan di bawah bintang kami bercumbu. Ia mengembalikanku ke rumah di tengah malam buta, dan berkata pada ayahku; besok ia akan ikut melaut, menghadiahiku dan keluargaku, ikan yang akan menghidupi kami seumur hidup. Aku tak percaya pendengaranku, Mencar akan kembali melaut.
Aku melepas Mencar, suamiku, yang pergi melaut bersama ayahku. Aku menunggu dengan was-was di bibir pantai, setiap pagi dan sore. Beberapa hari kemudian, ayahku kembali tanpa Mencar. Ia membawa kapal penuh dengan tangkapan laut serta sejumput cerita yang kemudian menjadi legenda di kampung kecil kami: Setelah Mencar menunjukkan di mana ikan-ikan berada, dia berjanji bahwa ayahku akan menjadi saudagar besar, dan di manapun ia berada, ikan akan selalu mendatanginya. Lalu, ayahku melihat sosok perempuan cantik dengan ekor ikan yang menggeliat di sekitar kapalnya. Mencar segera terjun ke laut. Ayahku berusaha mencegahnya, tapi sosok itu memegang tangan Mencar dan menariknya jauh ke dalam laut. (*)


Ratih Kumala, lahir di Jakarta, 1980.Menulis novel, cerpen, dan skenario. Novel terkininya Gadis Kretek (2012).

Monday, November 25, 2013

Cerpen Kompas : Lukisan Bergetar

Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya, perempuan bawel yang mempekerjakanku serupa budak. Aku lari dari keluarga perempuan bawel itu, dan menemukan duniaku sendiri, bekerja, hingga membeli rumah tua yang kini kutempati.
Aku terperanjat ketika datang ke rumahku seorang gadis dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ia mencari ibu kandungnya. Perempuan dalam lukisan di ruang tamuku, dikatakan sebagai sosok Ibu yang dicarinya. Ditatapnya lekat-lekat lukisan itu. Sebuah lukisan perempuan berbaju hijau lumut, berkain, duduk menyamping di kursi ukir. Lukisan itu telah dipakukan di dinding ruang tamu, barangkali setua bangunan ini. Tak kutemukan keterangan apa pun mengenai lukisan itu, hingga datang seorang gadis, yang bertanya, di mana perempuan dalam lukisan itu.
Sama sekali aku tak mengerti, di mana sekarang perempuan dalam lukisan itu tinggal. Apa peduliku dengan perempuan itu? Pada Ibu yang melahirkanku, ketika ia sakit dan meninggal dunia, tak kutengok sekejap pun. Ia dimakamkan, tanpa kehadiranku. Dua adik perempuanku yang tak pernah disia-siakan Ibu sepertiku berkali-kali meneleponku. Tak kubalas.
Lalu, apa artinya kini, melacak seorang ibu dari sebuah lukisan? Lukisan itu telah menjadi satu dengan dinding, semenjak rumah tua itu kubeli. Sama sekali aku tak terganggu dengan lukisan itu, sampai datang seorang perempuan muda itu dari kota yang jauh. Ia mencari pemilik rumah, seorang ibu yang dilukis dan terpasang di dinding ruang tamu. Melacak wanita dalam lukisan, yang lengkung alisnya tergores lembut, dengan sepasang mata memendam perhatian. Garis bibir dan dagu menampakkan kesepian yang panjang dan tertahan.
Lukisan itu selalu bergetar pada saat angin berembus lewat pintu ruang tamu yang terbentang. Lukisan itu tepat berhadap-hadapan dengan pintu, dan setiap saat angin menggetarkannya. Perempuan dalam lukisan itu seperti bergerak dari bingkainya.
Perempuan muda itu memandangi lukisan yang bergetar dengan mata yang berkejap. Sepasang mata yang penuh harap.
Antarkan aku ke rumah Ibu!
Aku masih tergagap. Merasa asing dengan permintaannya. Tak pernah aku mendatangi Ibu. Apalagi mencarinya. Hingga Ibu jatuh sakit, terbaring koma lebih dari sepuluh hari, dan pada akhirnya meninggal di hari kesebelas, aku tak menengoknya. Telepon rumah berdering berkali- kali. Tak berhenti berdering. Kututup kembali. Kubiarkan mereka dua adik perempuanku  menelepon dan mencaci-maki. Aku tak peduli.
Maaf, aku tak bisa menemanimu.
Kalau begitu, beri aku alamat Ibu.
Perempuan muda itu memendam sorot mata yang penuh harap dan cemas. Hari sudah larut. Ia belum beranjak dari rumahku, wajahnya tampak ragu. Tapi aku tak mau jatuh iba padanya. Aku tak ingin melihat dia bertemu dengan ibunyaĆ¢€”wanita yang telah melahirkannya.
Telah kuputuskan mencari Ibu. Tak kusangka akan sesulit ini. Sekalipun Ibu telah membuangku, tak akan kucemooh dia. Aku ingin bertemu dengannya.
Di pelataran rumah, dia masih membujukku untuk menemani mencari ibunya. Kutolak. Kali ini suaraku dingin. Mungkin ketus. Aku memang harus memperlihatkan pendirianku padanya. Aku tak suka melihat raut wajahnya yang cengeng.
Lelaki pemilik rumah itu sungguh menjengkelkan. Dia tak mau mengantarkanku mencari alamat Ibu. Baru pertama kali aku menginjakkan kaki di kota kecil kelahiranku ini. Dua puluh tiga tahun orangtua angkatku membawaku meninggalkan kota kecil yang sepi ini. Baru seminggu yang lalu, ketika aku hendak dilamar calon suami, kedua orangtua angkatku berterus terang. Kau masih memiliki seorang ibu ya, perempuan yang mengandung dan melahirkanmu. Ia tinggal di sebuah rumah tua, dengan arsitektur lama. Kulacak. Kutemukan rumah yang kokoh, tinggi, dan kusam. Tapi aku tak menemukan Ibu. Rumah itu sudah dijualnya. Dan lelaki muda yang telah membeli rumah Ibu, alangkah tolol dia. Sama sekali tak mau menolongku.
Hanya lukisan tua itu yang menghiburku. Setidaknya, aku sudah melihat wajah Ibu semasa muda. Bermata teduh, dan sekelam lumpur yang dalam. Mungkin lumpur itu menenggelamkan seseorang. Aku tak paham, barangkali lelaki-lelaki terperosok ke dalam lumpur mata itu. Orangtua angkatku tak memberi tahu siapa ayahku. Aku hanya diberi tahu tentang Ibu. Dan Ayah, bahkan namanya pun tak disebutkan. Apalagi wajahnya, sungguh tak kukenal.
Ketika kutemukan rumah tua, sesuai dengan alamat yang diberikan orangtua angkatku, aku merasa lega. Apalagi di dinding ruang tamu pemuda itu terpasang wajah Ibu. Wajah wanita yang menanggung kesepian yang terpendam. Kurasa aku sudah dekat bersua Ibu. Tapi aku cuma menemukan lukisannya. Sama sekali tak kutemukan jejaknya. Mungkin aku masih jauh bersua dengannya.
Mestinya pemuda pemilik rumah itu bisa membantuku. Dia memilih tak mau tahu persoalanku. Ia menutup diri, dan aku telah gagal membuka hatinya. Ia tenggelam ke dalam dirinya sendiri. Dan aneh, bagiku, bagaimana mungkin seorang lelaki yang mencapai usia tiga puluh seperti dia, tanpa istri dan anak, malah berhasrat memenjarakan diri?
Larut malam, tak ada taksi yang bisa kusewa untuk melacak rumah Ibu. Kota kecil ini sungguh sunyi. Kutemui beberapa becak yang diparkir di tepi jalan raya dengan pengayuh yang tertidur di dalamnya. Mereka tak memerlukan penumpang. Ini kota tua. Kota yang mati pada malam hari. Orang tak berani melintas di jalanan. Lampu-lampu pun remang-remang, dan kelelawar berseliweran dengan kepak sayap yang memperpekat sunyi. Langit di atas kota serupa selubung kain yang mudah koyak.
Kudapatkan sebuah hotel kecil, tua, dengan kamar yang melapuk pintunya, aus catnya, dan berdebu. Kecoa berseliweran. Nyamuk berdenging merubung tubuhku. Bagaimana aku bisa tidur di kamar serupa ini? Segelas teh dan sepotong kue yang dihidangkan pun terasa basi. Tak mungkin aku beristirahat dengan suasana jorok macam ini.
Berjalan-jalan meninggalkan kamar hotel, aku ingin menghirup udara malam kota tua ini. Barangkali aku akan menemukan rumah Ibu. Ingin kutebus kehinaanku sebagai perempuan tak beribu, yang hanya mengenal orangtua angkat. Getir rasa hatiku tak mengenal ibu kandung. Aku ingin sebagaimana layaknya seorang gadis yang dipinang calon suami, bisa mempertemukan dengan ibu kandung. Bahkan mungkin bisa mempertemukan dengan kerabatku. Tak hanya orangtua angkat yang bisa kutunjukkan pada keluarga mempelai lelaki.
Tapi kini, di kota tua ini, aku mesti berjalan sendirian mencari Ibu. Kalaupun calon suamiku memutuskan untuk meninggalkanku, karena aku tak memiliki ibu kandung yang bisa kupertemukan dengannya, aku harus rela. Aku tak berhak mencegahnya.
Terus melangkah dalam sunyi malam yang gelisah, sampailah aku di alun-alun, di bawah pohon beringin, di dekat penjual wedang ronde. Seorang lelaki tengah duduk mencangkung. Menikmati kesunyiannya. Aku merasa sangat mengenal lelaki itu. Memang betul. Dialah pemilik rumah tua, yang baru saja kutinggalkan. Duduk seorang diri. Terperanjat sebentar menatapku. Kutemukan lelaki muda itu tengah menyendoki wedang ronde. Hati-hati, pelan sekali, ia meletakkan minumannya, seperti tak pernah mengenalku. Mungkin ia tak mau bertemu dengan siapa pun. Lelaki itu terasing dan memilih jalan sunyi. Ia memang berpura-pura tak mengenalku. Sepasang matanya mengusir, menolak, bahkan memusuhiku.
Aku masih berharap kau mau menemaniku mencari Ibu, pintaku.
Larut malam begini?
Bila tak kuantar, aku tak tahu jalan.
Memandangiku dengan mata yang keropos, lelaki itu mencairkan kebenciannya padaku. Mata itu berkabut. Aku menatapnya dengan hangat. Dan kabut dalam mata itu lenyap. Lama. Lambat-lambat. Matanya mulai bersahabat. Dia tak lagi menyembunyikan muka dariku.
Kami berjalan bersama dalam samar cahaya bulan, tanpa tegur sapa. Dia melangkah dengan suara kaki yang pasti. Tak seorang pun kami temui di jalan. Hanya anjing-anjing buduk yang mengais-ngais sampah, sesekali melintas. Kami melangkah dalam diam. Menyusur jalan lengang, berkelok-kelok, kian jauh dari jantung kota, dan memasuki perkampungan.
Langkah kakiku sudah penat ketika kami mencapai sebuah rumah yang diduga pemuda itu ditempati Ibu. Tengah malam lewat, kami memasuki pelataran rumah tua dengan tembok mengelupas dan berlumut. Gelap. Kusentuh pintunya. Berderit terbuka. Di dalam pun tak terlihat seseorang. Tanpa cahaya. Kelelawar terbang menerobos celah pintu. Laba-laba bergerak menggetarkan jaring-jaringnya.
Dengan cahaya korek api kami menjelajahi seluruh ruangan. Rumah tua ini memang sudah ditinggalkan penghuninya. Debu, lumut, dan lembab udara, menyesakkan dada. Aku berhenti lama di depan pintu sebuah kamar. Barangkali di sinilah Ibu tidur. Kupandangi. Dan kubayangkan Ibu tergolek. Sendiri. Tatapannya menerawang. Kalau Ibu tengah terbaring di kamar ini, tentu aku akan menyempatkan diri bertanya. Kenapa Ibu memberikanku pada orang lain?
Barangkali pertanyaan ini akan menyakitkan Ibu. Tapi ini akan meruntuhkan beban yang menekan bergelayut dalam kepalaku. Toh Ibu kata orangtua angkatku tak memiliki anak selain aku. Apa lagi yang dirahasiakannya dariku?
Mari kita pulang! ajak pemuda itu, pelan.
Pulang?
Ya. Menginaplah di rumahku.
Membayangkan perempuan muda itu, sambil memandangi lukisan yang bergantung di ruang tamu, aku mulai sadar kini, mereka memang mirip. Malam itu ketika perempuan muda itu tidur di kamar depan, aku sempat memandanginya. Aku tersihir. Terkesima. Dialah perempuan dalam lukisan itu. Tubuhnya bergeletar. Aku seperti terisap untuk mendekatinya, lebih lekat, lebih lekat, menyatu ke dalam kesunyian yang mula-mula lembut, dan lambat laun bergelora, mengempas-empaskanku.
Tak kutemukan perempuan muda itu saat aku terbangun. Dia sudah menghilang. Mungkin sudah kembali pulang. Mungkin ia mencari ibu kandungnya. Aku tak berselera melakukan apa pun. Cuma memandangi perempuan dalam lukisan itu. Tiap kali angin berhembus, lukisan itu bergetar. Tapi kali ini dadaku pun bergetar. Tak bisa kuredakan.
Malam ketiga setelah perempuan muda itu menghilang, aku tak kuasa menahan diri. Aku menanti fajar untuk melakukan perjalanan. Telah kuputuskan untuk melacak perempuan muda itu. Tak mungkin kutunda lagi. Aku merasa keropos. Tak ingin kurasakan kekeroposan hati kian menjalar melapukkan seluruh persendianku. Ingin kutemukan rumah tempat tinggal perempuan itu. Ini sungguh mendebarkan, serupa memasuki permainan masa kanak-kanak bersama teman-temankuĆ¢€”sebelum aku direnggut dari dunia itu untuk mengikuti saudara sepupu Ibu. Akan kucari perempuan titisan lukisan di ruang tamu. Biar kuajak dia ke rumahku, dan kutemani mencari ibu kandungnya ke mana pun, sampai ketemu.

Pandana Merdeka, Agustus 2005

Sunday, November 17, 2013

Cerpen Pilihan : Pelajaran Mengarang

Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

***
  
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

***

Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
     
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00

   
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.

***

Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…
                     
Seno Gumira Ajidarma 
Palmerah, 30 November 1991

Saturday, November 9, 2013

Cerpen

Hari-hari tetap seperti biasanya. Matahari masih terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Semilir angin masih menghiasi hiruk pikuk dunia yang semakin tua ini. Kicauan burung tiada henti bersahut-sahutan dari dahan satu ke dahan lainnya.
Matahari perlahan-lahan naik ke puncaknya. Namun, sengatan panas sang mentari itu mampu diredam pohon akasia besar yang sudah sepuluh tahun berdiri tegak. Seorang gadis kecil duduk sambil menggenggam secarik kertas usang. Mata mungilnya masih tertuju pada genggaman sambil sesekali melihat ke langit biru yang terbiaskan cahaya merah matahari. Mulutnya menggumam ucapan kecil nan pelan yang tertiup oleh semilirnya angin dan terbawa jauh ke pelosok negeri.
“Hey!” Sebuah suara dari mulut mungil menyapa gadis kecil berkerudung itu. Gadis kecil itu menoleh dengan senyum terpaksa.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Si gadis kecil tetap tak bergeming. “Aku punya es krim. Mau?”
“Ya,” Jawaban polos keluar dari mulut mungilnya. Mereka lalu terlihat akrab dalam tempo singkat, sambil menikmati es krim.
“Nama kamu siapa?” tanya gadis manis berkulit putih itu.
“Terserah kamu. Kamu boleh panggil aku dengan sebutan apa aja.”
“Ya udah. Aku panggil kamu puteri kerudung, ya?”
“He’em,” jawabnya singkat. “Kalo gitu, aku panggil kamu teman cantik!” Mereka lalu tertawa renyah sambil bersalaman.
Hari-hari terus dilewati sang puteri kerudung dengan gembira. Teman barunya telah membawa keramaian dalam hidupnya. Setiap hari sepulang sekolah, mereka bertemu di bawah pohon akasia yang senantiasa menjadi pelindung mereka. Setiap sore, sang puteri kerudung mengirim surat dengan balon terbang atas saran sang teman cantik. Menerbangkan surat untuk ibunya di sisi Allah.
Sembilan tahun puteri kerudung tinggal di sebuah desa kecil. Sembilan tahun itu pula ia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Hidup dalam kesendirian dan hanya ditemani seorang ayah.
“Ayo terbangin balonnya!” teriak temannya kegirangan. Itu yang mereka lakukan setiap hari, diselingi canda tawa. Mereka lalu bercerita, berlari-larian, dan sesekali menerbangkan cita-cita keduanya di atas awan. Meski berbeda keyakinan, ini tak menjadi penghalang keduanya untuk saling bersahabat. Sang puteri kerudung pemegang teguh islam yang kuat tak segan untuk bermain dan bersahabat dengan seorang protestan.
“Puteri kerudung,” panggil sang teman cantik.
“Ya.”
“Aku mau pergi.”
“Maksud kamu?” tanya gadis kecil itu sambil merapikan kerudungnya.
“Ya, aku harus kembali ke Bengkulu. Tugas ayahku udah selesai. Tapi kamu jangan sedih, aku pasti sering-sering main ke Lampung, kok.”
Keduanya lalu berpelukan, isak tangis mengiringi perpisahan mereka. Si puteri kerudung pun harus rela hidup dalam kesepian lagi, seperti hari-hari sebelumnya.
—
Perjalanan waktu begitu cepat. Sepuluh tahun telah berlalu, namun keadaan desa kecil itu masih seperti sepuluh tahun sebelumnya. Desa yang terpencil, asri, jauh dari keramaian kota. Juga pohon akasia itu, masih tegak berdiri, masih kokoh tanpa penghalang.
Seorang gadis manis duduk bersandar di bawah pohon akasia yang rindang itu. Gamis yang ia kenakan dibiarkan mengenai rumput yang basah oleh embun-embun pagi. Buku agenda tak pernah lepas dari jemarinya yang lentik. Sesekali ia menulis dan membuka laptop pribadinya.
“Assalamu’alaikum Mba’ Nafira,” sapa salah seorang gadis sebayanya. Perilakunya yang kelihatan sopan dan anggun dengan pakaian tertutup membuat senyum di wajah gadis yang disapa Nafira. Jilbab coklat sang gadis tertiup angin pagi yang menyejukkan suasana.
“Nggak nyangka ketemu Mba’ Nafira disini. Saya Marisa,” ujarnya memperkenalkan diri. Nafira menyambut tangan si cantik Marisa. Meski mereka baru bertemu, namun sudah terlihat akrab.
“Saya suka tulisan Mba’ Naf, tulisannya memotivasi. Oh ya sebentar,” Marisa bergegas menuju mobilnya dan mengambil sebuah novel. “Minta tanda tangannya dong, mba’.”
Nafira hanya tersenyum dan melakukan permintaan Marisa, menandatangani novel karyanya.
“Nggak usah terlalu berlebihan lah. Saya cuma manusia biasa, sama seperti Mba’ Marisa. Toh saya bukan artis atau selebritis yang diperebutkan tanda tangannya.”
“Nggak apa-apa lah mba’. Jarang-jarang, loh, ketemu penulis.”
“Jangan panggil mba’, ah. Kesannya nggak akrab,” jawab Nafira yang sejak tadi tak luput dari senyum.
“Iya, deh. Ternyata bener kata orang.”
“Kenapa?” tanya Nafira lembut.
“Nafira itu orangnya ramah, cepet akrab, nggak sombong pula.”
“Biasa aja. Saya juga manusia seperti Anda. Jadi nggak ada istimewa, kok.” Nafira memang selalu merendah. Ia tidak terlalu suka dipuji, karena baginya manusia itu sama dihadapan Allah. Lagipula Nafira bukan berasal dari golongan petinggi, pejabat, atau apapun itu. Ia hanya seorang gadis yang dibesarkan dengan ketulusan kasih sayang, bukan oleh gelimang harta.
“Eh, kok Naf disini? Bukannya tinggal di Jakarta?”
“Ini kampung halaman saya. Dulu saya tinggal disini, dan ini bisa dibilang tempat favorit saya. Saya sering kesini, ke bawah pohon akasia.”
Marisa terdiam, menatap Nafira lamat-lamat. “Oh, ya? Kenapa bisa sama, ya?”
“Anda tinggal disini?”
“Dulu saya pernah disini, tapi nggak terlalu lama. Ikut ayah kerja,” jawabnya.
Nafira terdiam sejenak. “Ayah anda bekerja di Bengkulu?”
“Ya… Kok Naf bisa tau?” tanya Marisa bingung, namun segera ia abaikan. Nafira pun segera menepis fikiran itu. Karena seingatnya, sahabatnya itu berbeda keyakinan dengannya.
“Oh, enggak. Cuma ada temen dari Bengkulu. Sudah, lupain aja,” Nafira mengalihkan pembicaraan. Sejenak hening, mereka terdiam dan menatap ke langit, mengulang memori yang pernah tercipta dahulu.
“Apakah seorang Nafira itu puteri kerudung?” tanya Marisa tiba-tiba.
Nafira menoleh tak percaya. Namun ini seperti meyakinkannya. Seorang sahabat yang telah sepuluh tahun pergi, dan sekarang kembali. Sahabat yang mengubah hidupnya dari kegelapan, yang meyakinkan dan memberi semangat baginya.
“Teman cantik,” ucap Nafira lirih.
“Ya, aku Marisa, teman cantikmu.”
Mereka larut dalam tangis haru. Keduanya berpelukan, melepas rindu yang terpendam. Semilir angin masih seperti dulu, menerbangkan mereka dalam kedamaian.
“Tapi,” Nafira melepas pelukan Marisa. “Maaf, bukannya kamu seorang protestan?”
Marisa terdiam dengan senyum mengembang. “Aku muallaf.”
“Alhamdulillah..”
“Mungkin ini jalan terbaik yang Allah berikan. Aku mendapat hidayah dari sahabatku, sahabat terbaik yang pernah aku temukan. Dan jalan yang Allah berikan, tidak dapat terfikir oleh akalku. Aku masih menganggap ini sebagai kebetulan, kebetulan yang berulang—dan tak pernah habis.”
“Alhamdulillah. Tapi, orang-tuamu bagaimana?”
“Mereka nggak tahu,” jawab Marisa santai. Nafira mengernyitkan dahi.
“Ya, awalnya mereka nggak mengizinkan aku untuk masuk Islam. Tapi aku pergi, aku memutuskan sendiri, dan semoga ini pilihan terbaik yang aku ambil.
Aku mulai mendalami Islam saat aku nggak sengaja beli novel kamu. Aku pikir itu novel motivasi biasa. Tapi ternyata perkiraanku salah. Dari sana aku mulai membeli buku-buku Islam, mencari artikel-artikel tentang Islam, hingga sampai pada keputusan mutlakku.”
“Setidaknya kamu memberi tahu orang-tuamu tentang ini.”
“Aku memang sengaja pergi dari mama-papa, izin untuk dua minggu dengan alasan mencari bahan skripsi,” Marisa tertawa kecil.
“Itu berarti kamu membohongi orang-tua? Apalagi ini bukan hal yang main-main, Marisa. Kamu tahu Islam, kan? Islam membenci kebohongan.”
“Ya, aku salah. Maaf.”
“Minta ampun lah pada Allah dan kalau bisa secepatnya pulang,” ujar Nafira dengan nada menasehati.
“Ya, deh. Aku besok pulang, aku selesaikan semuanya. Aku janji,” Marisa mengangkat kelingking kanannya. Nafira lekas mengangkat jarinya, menyatukan dengan Marisa. Keduanya lalu tertawa riang.
Sebuah perjalanan dua anak manusia. Dan kita percaya bahwa sahabat selamanya tetap sahabat. Sahabat yang sejati, persahabatan yang abadi, akan menyatu dan beterbangan seiring terbangnya daun akasia terbawa angin. Angin yang membawa mereka berjalan ke tempat abadi, terbang menuju padang keabadian yang tak akan pernah lenyap termakan waktu.

Cerpen Karangan: Sofia Octaviana

Friday, October 25, 2013

Piring Terbang dan Nazi

Nazi Moon Base, 70 Tahun Basis Jerman di Bulan 1942-2012 (Iron Sky the Movie 2012)

Jerman dikabarkan sudah mendarat di Bulan lebih dulu, sekitar tahun 1942, dengan memanfaatkan bentuk “piring terbang” yang lebih besar, mereka menggunakan roket exoatmospheric dari jenis Miethe dan jenis Schriever.


Wahana antariksa Miethe berdiameter sekitar 15 – 50 meter, dan turbin listrik Schriever Walter dirancang sebagai kendaraan eksplorasi antarplanet.

Wahana ini memiliki diameter 60 meter, memiliki 10 tingkat kompartemen untuk kru, dan setinggi 45 meter! Selamat datang di Alice in Saucerland!

Dalam penelitian yang luas, teori tentang kondisi fisik di Bulan telah membuktikan pada bagian sisi gelap Bulan ada atmosfer, air dan vegetasi dan bahwa manusia tidak perlu baju luar angkasa untuk berjalan di Bulan . Sepasang jeans, sweter dan sendal sudah cukup.

Semuanya yang telah NASA katakan kepada dunia tentang Bulan adalah sebuah kebohongan dan hal itu dilakukan untuk menjaga ke-eksklusif-nya dari pengaruhnya terhadap negara-negara dunia ketiga.


Semua kondisi fisik di Bulan membuatnya jauh lebih mudah untuk membangun sebuah Moonbase (pangkalan di Bulan). Sejak hari pertama mereka mendarat di Bulan, Jerman mulai “bosan” dan menggali (tunneling) di bawah permukaan Bulan dan kemudian pada akhir perang telah ada basis riset kecil Nazi di Bulan.

Tachyon energi dibuat untuk menggerakkan wahana berbentuk UFO dari jenis Haunebu-1 dan Haunebu-2 yang telah digunakan setelah tahun 1944 untuk mengangkut orang, perlengkapan dan robot pertama ke situs konstruksi di Bulan.

Ketika Rusia dan Amerika diam-diam bersama-sama mendarat di Bulan pada tahun lima puluhan awal dengan wahana mereka sendiri, mereka telah menghabiskan malam pertamanya di sana sebagai “tamu” dari Nazi di dasar bawah tanah mereka di Bulan.


Pada tahun enam puluhan, pangkalan Uni Soviet-Amerika telah dibangun di Bulan, yang isunya sekarang memiliki populasi sekitar 40.000 orang.

Setelah berakhirnya perang di bulan Mei 1945, Jerman terus melakukan riset antariksa mereka di Kutub Selatan bulan sebagai koloni mereka, Neu Schwabenland. Saya telah menemukan foto ruang bawah tanah pusat mereka kontrol disitu.

KERJASAMA MILITER JERMAN-JEPANG R & D:

Menurut Renato Vesco lagi, Jerman berbagi banyak kemajuan dalam persenjataan dengan sekutu mereka, Italia selama perang.

Di fasilitas eksperimental Fiat di danau Garda La, fasilitas yang pantas untuk nama Hermann Goering, orang-orang Italia bereksperimen dengan berbagai senjata canggih, roket dan pesawat terbang yang dibuat di Jerman.

Dalam cara yang sama, Jerman juga terus bekerjasama dengan militer Jepang dan memasok senjata canggih mereka.

Sebagai contoh misalnya, foto salinan dari versi berawak dari rudal V-1 Reichenberg yang diproduksi di Jepang oleh Mitsubishi. Pesawat tempur terbaik dunia – “the push-pull twin propeller Domier-335″ telah diduplikasi oleh Kawashima.

Seorang teman dari Jepang di Los Angeles terkait dengan cerita ayah temannya yang bekerja sebagai teknisi di sebuah biro penelitian pesawat di Jepang selama perang.

Pada bulan Juli 1945, dua setengah bulan setelah perang berakhir di Jerman, sebuah kapal selam transportasi besar Jerman dibawa ke Jepang yang mengangkut penemuan teknologi militer terbaru dari Jerman yaitu dua mesin terbang tanpa sayap dan tanpa baling-baling.

Lalu tim R & D Jepang menempatkan dan merangkai mesin bersama-sama, mengikuti sesuai petunjuk dari Jerman. Hasilnya, sesuatu benda bermesin yang sangat aneh telah berdiri dan ada di depan mereka para teknisi Jepang, yaitu sebuah perangkat berbentuk piring bola terbang tanpa sayap atau baling-baling, bahkan para teknisi tak ada yang tahu bagaimana benda tersebut bekerja.

Lalu bahan bakar dimasukkan, tombol start dari mesin tanpa awak tersebut ditekan dan tiba-tiba …. menghilang! Menyisakan gemuruh dan tanpa api di langit! Wow!

Hingga kini tim Jepang tidak pernah melihatnya lagi. Lalu para insinyur saat itu begitu takut oleh kekuatan tak terduga dari mesin. Lalu mereka segera menghancurkan mesin prototipe kedua dengan dinamit dan memilih untuk melupakan seluruh kejadian tersebut!

JERMAN-JEPANG DAN PENERBANGAN KE BULAN 1945 – 1946:

Menurut penulis film dokumenter “bawah tanah” Jerman dari masyarakat Thule, wahana UFO Jerman jenis Haunibu-3 berdiameter 74 meter dipilih untuk misi paling berani sepanjang abad, yaitu melakukan perjalanan ke planet Mars.

Wahana antariksa berbentuk piring, memiliki mesin “Andromeda tachyon drives” dan dipersenjatai dengan empat menara pistol kaliber triple tipe angkatan laut yang besar (tiga buah dengan posisi terbalik, ada dibawah dan melekat pada bagian bawah pesawat, dan keempat dibagian atas kompartemen kru).

Seorang pilot relawan bunuh diri Jerman dan Jepang dipilih, karena semua orang tahu bahwa perjalanan ini adalah perjalanan satu arah dan takkan kembali (no return).

Intensitas besar elektro-magnetogravitic dan kualitas rendah dari paduan logam yang digunakan membuat elemen struktural dari drive menyebabkan logam “kelelahan” dan menjadi sangat rapuh setelah hanya beberapa bulan digunakan. Penerbangan ke Mars dimulai dengan keberangkatan dari Jerman satu bulan sebelum perang berakhir, yaitu pada bulan April 1945.

Kemungkinan misi ini membutuhkan kru yang besar, berjumlah ratusan, karena tingkat rendah otomatisasi dan kontrol elektronik di dalam piring terbang tersebut.


Sebagian besar sistem wahana harus dioperasikan dengan banyak krew seperti ini karena mirip kapal U-Boat diwaktu itu, secara manual. Karena “drive tachyon” struktural dapat melemah dan tidak dapat selalu bekerja dengan kekuatan penuh sepanjang waktu. Dengan begitu untuk menyelesaikan perjalanan ke Mars memakan waktu hampir 8 bulan.

Pada saat awal menuju Mars, mungkin wahana menggunakan medan kuat dekat gravitasi Bumi, setelah itu pesawat akan “meluncur” selama 8 bulan diorbit elips menuju ke Mars dengan cara mesin utama dimatikan.

Kemudian perjalanan ke Mars oleh Soviet bersama Amerika di tahun 1952 dan oleh wahana Vatikan dari proyek Marconi yang berasal dari Argentina pada tahun 1956 mencapai Mars hanya dalam 2 – 3 hari, karena mesin mereka bekerja selama penerbangan keseluruhan: percepatan mesin pada paruh pertama dan melambat di kedua paruh waktunya.

Konverter Kohler yang lebih kecil mungkin digunakan untuk sistem daya dan pendukung kehidupan di dalam wahana. Saya tidak memiliki informasi apapun pada saat ini mengenai kemampuan gravitasi buatan di dalam pesawat, tapi itu bisa saja dengan mudah dilakukan dengan mesin anti-gravitasi kapal besar.

Setelah mendarat, wahana piring terbang itu hampir menabrak, lalu cawan itu berhenti, merusak mesin lalu dapat diperbaikli lagi, tetapi menyelamatkan kru. Itu terjadi di pertengahan Januari 1946.


Nazi Moonbase (from the movie poster: Iron Sky 2012, see trailer clip below)

Pendaratan tak sempurna di Mars bukan hanya karena mesin tachyon lumpuh, tapi itu juga karena medan gravitasi yang lebih kecil di Mars menghasilkan daya yang lebih kecil untuk mesin tachyon, dan juga karena atmosfer tipis di Mars, yang tidak bisa digunakan secara efektif untuk melalui udara sebagai layaknya atmosfer Bumi biasanya.

Wahana ini berbentuk “piring terbang raksasa”, bentuk yang sangat efisien sebagai rem udara, ketika masuk ke atmosfer dengan “section perpendicular to the trajectory of descent” yang bagian garis lintasannya turun menuju ke permukaan planet Mars.

Satu pertanyaan, bahwa bagaimana Jerman mampu me”regenerasi” udara di dalam pesawat selama 8 bulan untuk kru yang lumayan besar?

Cukup mungkin mereka menggunakan sistem mendukung kehidupan canggih, dikembangkan pada awalnya untuk lebih besar dengan “turbin Walter” dan teknologi kapal selam bebas energi yang menjelajah lautan tanpa muncul kepermukaan air (resurfacing).

Pesan radio berikut campuran berita lainnya diterima oleh pusat ruang kontrol Jerman bawah tanah di Neu Schwabenland dan juga oleh basis penelitian mereka di Bulan.

Sumber : http://forum.viva.co.id/sejarah/1311041-1942-nazi-membuat-pangkalandi-bulan-dan-sudah-ke-mars-tahun-1945-a.html

Monday, October 7, 2013

Puisi : Iklim Seni Anda

Iklim Seni Anda

7. Oktober 2013 um 18:00
 
Saya tak harus membandingkan anda dengan musim semi
sesekali saya memang merindukan musim semi
untuk melihat bunga-bunga yang mekar dan mencium baunya
tapi disuatu titik jenuh tertentu
saya tidak akan mudah lepas depresi
pergantian musim hanya angin berlalu
bahkan musim semi hanya seperti pertunjukan teater yang diulang kembali
memainkan drama yang sama tentang sebuah kelahiran generasi baru
kadang saya menyesal ketika mendapati diri saya sendirian menanggung jenuh tersebut

Tapi anda ?
bayangan anda yang sempat saya tangkap di suatu waktu
seperti sebuah cahaya yang menyelinap digelap yang pekat
saya selalu bisa mengingatnya dengan mudah
dan merasakan iklim seni menyejukkan hati disetiap mengingat senyuman anda yang tulus
sehingga kadang saya merasa seperti pengelana yang menemukan tujuannya

Tapi bagaimana dengan anda?
bagaimana saya dimata anda dengan pertemuan singkat itu?
apakah anda juga menemukan hal baik dari saya yang bisa dilukiskan seperti saya melukiskan anda?
apakah saya layak untuk anda ingat dalam beberapa pekan sebagai ingatan yang berkesan?

Saya selalu senang ketika mendapatkan terpaan angin malam ketika sendiri
saya tahu itu tidak baik jika sering
tapi apakah yang buruk jika saya ingin merasakan kerinduan yang terhibur?
ya, saya sering merindukan anda di sela-sela lamunan
saya tahu bahwa tak ada yang lebih menyenangkan dari merenung ketika saya sendiri
dan anda'lah yang selalu menjadi kajiannya
saya sering mendengar suara anda dalam suara dan percakapan orang lain
saya sering melihat anda dalam aktifitas-aktifitas dan kegiatan orang lain
tapi saya kadang ragu,
karena anda sebenarnya hanya satu
dan saya yang terlalu berlebihan terhadap anda
atau memang karena itu cinta?

Tapi bagaimana saya menyampaikannya?
saya tahu ada beberapa jenis orang dalam menyikapi cinta
ada yang mengejarnya dengan percaya diri
ada yang berusaha mengejarnya, namun ragu
ada juga yang lebih memilih diam dan memendamnya saja
dan saya mungkin jenis orang itu
anda mungkin kurang memahami alasan-alasan dari jenis-jenis itu
tapi saya tahu
ada beberapa hal yang tak bisa dijelaskan kepada orang egois seperti anda

Saya mengarungi genre musik tertentu pada sebuah hari yang lelah
menikmati hangatnya sentuhan lirik dihati yang mengingatkan saya pada anda
tapi saya tahu bahwa anda akan menertawakan saya jika tahu hal itu
dan berkata : 'kadang sesuatu yang berlebihan terasa memuakkan'
sambil melihat beberapa hal absurd di kelengahan langit
dan saya mengerti satu hal
anda tidak mudah menghargai seseorang
bahkan jika seseorang itu memuji dan mengagumi anda
Tapi pada akhirnya harus ada yang mengerti perasaan saya
saya harus bertemu anda sekali lagi !
atau beberapa kesempatan lagi !
saya tahu saya terlalu berharap
tapi bukankan kata itulah yang membuat seorang pemenang menaklukan bayangan kegagalannya ?
walaupun saya tahu saya bukan pemenang
karena anda lebih pantas menjadi pemenang
dengan  atau tanpa dukungan saya, anda bisa mendapatkan kemauan anda

Kadang saya melayang dengan fantasi-fantasi tentang anda
tentang anime-anime kesukaan anda
tentang hewan-hewan kesukaan anda
tentang kata-kata kesukaan anda
tentang tokoh-tokoh pujaan anda
dan tentang mimpi-mimpi anda
saya berharap anda ada kemiripan dengan saya

Namun musim semi tetaplah musim semi
tidak bisa mengembalikan waktu
saya hanya bisa menikmati iklim seni anda dari mengulang kembali kejadian-kejadian ketika bersama dengan anda
ketika kunjungan ke musium sejarah di musim panas yang ceria
ketika kunjungan ke perpustakaan sastra di musim gugur yang mengharuhkan
dan ketika kunjungan ke alun-alun kota kebudayaan yang eksotis
semua mengalahkan segala kebahagiaan saya ketika mengingat musim semi datang
atau kebahagiaan-kebahagiaan lainnya
saya tahu anda sudah terlalu dalam menyusup dihati saya
dan anda menjadi matahari yang selalu saya ingin lihat
tapi dari jauh saja
karena jika terlalu dekat,
saya tahu saya akan terpanggang oleh kenyataan tentang anda
Iklim seni anda yang hanya dapat saya nikmati dengan hati yang luas dan berjarak dengan hati anda
jarak yang saya sendiri tidak ingin menjelaskannya
karena saya tahu anda tidak ingin ada orang yang mencoba mencuri hati anda
termasuk saya
karena itu anda membiarkan saya mendekati anda ketika saya tahu diri untuk tidak bersikap berlebihan

Jakarta, 07 Oktober 2013
Syarif H

Puisi : Egois

Bayangan Egois

Ingin aku lepas semua ikatan ini
aku mau kebahagiaan ini tetap jadi milikku sendiri
tanpa berbagi dengan segaris senyum kesepian
yang tidak pernah kuberikan nama

Bayangan Egois

Aku tak peduli !
jika angin dan badai akan menyesatkanku seorang diri
Aku juga tak peduli bila aku terpencil di lautan hening
asalkan aku masih punya kebanggaan diriku
kebanggaan konyol !
yang membuat perasaanku beku dan egois
yang membuatku tersesat sebelum waktunya
sehingga aku ada di pemikiran menyebalkan ini
tak bisa membuktikan adanya pintu keluar yang telah dibuat

Bayangan Egois

Jika tiba waktunya,
tak seorangpun berhak memintaku
aku ingin mengejek ketololan mereka selama ini
aku ingin membunuh kepercayaan diri mereka yang memuakkan
sehingga langit tak harus terang dengan mimpi-mimpi para orator itu
kalau perlu, bawakan mendung dan hujan
biarkan dia kelam,
sekelam diriku,
biarkan dia lumpuh,
selumpuh mimpiku
dan biarkan malam dingin,
sedingin hatiku

Dan aku bisa menikmati kelengangan lain
selain kelengangan hatiku
lalu bahagia tanpa sebab
sampai akhirnya lengah di kesendirian
dan terbenam sepi

Bayangan egois
Aku mencintai diriku

Jakarta, 04 Agustus 2013
Syarif H

Thursday, October 3, 2013

Catatan Puisi : Tak Terkemuka

Tak Terkemuka

Aku rasa aku tidak pernah memikirkan hal-hal penting
tentang kehidupan ataupun orang lain
dalam kesendirian aku tidak banyak tahu
aku jarang peduli pada selain diriku

Aku rasa aku tidak memiliki banyak pilihan hidup
keterbatasan dalam berinteraksi dengan orang lain
aku harus menanggung berbagai perasaan sendiri
tanpa pernah mengekspresikannya pada siapapun

Beberapa hal yang kubenci dari diriku
aku selalu merasa tidak membutuhkan siapapun
dan tidak ada yang harus kumintai bantuan
karena hanya akan merepotkan jika aku terlalu banyak bertanya
Karena aku tahu, banyak yang tidak aku tahu
aku selalu merasa bangga
karena bisa bertahan dari berbagai kesedihan dengan mengasingkan diri
karena bisa mempopulerkan diri di keheningan

Aku tidak memiliki banyak mimpi
aku berjalan hanya untuk menuju satu itu
tapi kadang aku merasakan lelah, lalu ingin menyerah
dan ketika saat itu aku selalu merasa membutuhkan seseorang
untuk memperkuat diriku

Sungguh,
hidup ini terasa hampa ketika kita tidak menikmatinya
tapi aku tahu,
kadang kita menipu diri
dengan selalu terlihat menikmatinya
untuk beberapa alasan yang tak terkemuka

Jakarta, 04 Oktober 2013
Syarif H

Situs Ratu Baka atau Candi Boko (bahasa Jawa: Candhi Ratu Baka ) adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan ya...