Tuesday, March 25, 2014

Cerpen Kompas: Ayah Tiri


Cerpen Herumawan PA (Republika, 16 Maret 2014) Ayah Tiri ilustrasi Rendra Purnama
“SEBURUK apa pun keadaannya, rumah adalah tempat kau kembali.”
Ungkapan itu tak tepat untukku.  Rumah justru menjadi tempat yang selalu ingin aku hindari.  Di rumahku sendiri aku tak dianggap ada, selain oleh ibu.  Selama berada di rumah, kuhabiskan sebagian besar waktu di kamar. Jika tak ada hal penting, aku tak akan keluar ruang pribadiku. Atau, aku akan pergi dari pagi dan kembali saat malam. Tiba di rumah hanya untuk melepas lelah. 
Bagiku, apa artinya rumah jika semua kenyamanan dan ketenteraman bisa aku peroleh di luar? Saat dinyatakan lulus di salah satu universitas negeri di Kota Gudeg, Yogyakarta, aku langsung bergegas mengurus administrasinya. Dengan modal pas-pasan dari ibu, aku tinggal di indekos dan selebihnya nyambi kerja tentor bimbel. Lega? Sudah pasti. Akhirnya aku bisa bernapas lega. Bisa menjadi diri sendiri. Dan, tentunya jauh dari gunjingan nyinyir.
Hingga kini sudah berkali-kali ibu menyuruhku pulang, selalu aku tolak halus.  Berbagai macam alasan, aku perdengarkan.  Mulai dari sidang skripsi yang semakin dekat, kerja sampingan dengan ancaman penghentian kontrak kerja, atau lagi-lagi hal yang klise,
“Cuacanya ndak bagus, Bu. Besok saja jika sudah cerah.”
Hubunganku dengan suami ibu memang tidak baik. Sebenarnya, beliau ayah tiriku.  Ayah kandungku sudah meninggal saat aku kecil. Ibu lantas menikah lagi. Kini, ibu tinggal di rumah ayah tiriku. Dari pernikahannya yang kedua, lahir dua orang adikku yang semuanya laki-laki.
Kedua adikku adalah anak emas. Semua yang mereka minta akan terkabul dalam tempo yang bisa dihitung dengan jari. Sedang kan, aku harus menelan bulat-bulat keinginanku. Karena aku tahu jawabannya adalah tidak atau tunggu. Tunggu pun berarti tidak secara halus. Kadang-kadang ibu sering masuk ke kamarku dan menyelipkan sejumlah uang, hasil dari menjahit yang tak seberapa,
“Buat beli kuas dan kanvas, Le. “
Ibu tahu aku ingin jadi seniman. Impian sedari kecil. Satu-satunya hal yang aku warisi dari ayah kandungku. Dan, hal ini selalu ditentang oleh ayah tiriku. Beliau pikir pekerjaan seniman itu tidak akan menghasilkan pendapatan yang layak. Beliau ingin aku mengikuti jejaknya, menjadi polisi.
Saat beranjak remaja, aku sudah dijejali doktrin agar berkenan mengenakan seragam serbacokelat itu kelak. Saat itu ibu belum melahirkan adik-adikku. Tapi, semenjak kedua adikku lahir dan untungnya semua laki-laki, setidaknya aku merasa bebas dari keinginan beliau. Ternyata tebakanku salah.  Beliau masih saja mencatut namaku dan mengungkit-ungkitnya di hadapan kedua adikku. Entah maksudnya memotivasi kedua adikku atau menghina diriku.
“Jangan jadi seperti kakakmu, kerjanya cuma luntang-lantung saja.”
“Kelayapan kayak ndak ada kerjaan.”
“Prestasi sekolah juga pas-pasan.”
“Cuma prakarya sama seni saja yang nomor satu.”
“Olahraga juga ndak suka.”
“Lihat kamarnya, kayak kapal pecah dihantam ombak.”
“Cat sama lukisan di mana-mana. Ayah sampai lupa apa warna dasar cat kamarnya.” Kedua adikku hanya diam melongo mendengarnya. Entah mengerti atau tidak.
Jika ayah tiriku sudah memberi wejangan seperti itu, aku akan diam. Beralih masuk kamar. Lalu, dari mulutnya terucap kata- kata pedas.
“Nah, lihat baru disindir sedikit saja langsung beringsut masuk kamar.”
“Perasaan kok mirip perempuan.”
“Gak gentle, cengeng.” Hati ini terasa tersayat-sayat mendengarnya. Ibu bukannya tak pernah membelaku. Tapi, terakhir kali membelaku, ibu malah merasakan tamparan tangan beliau.
Aku tak tinggal diam, langsung menyerang. Pukulan dan tendangan aku lancarkan.  Beruntung, Lek No, sopir keluarga buru- buru datang melerai setelah mendengar teriakan-teriakan ayah kesakitan aku pukuli.  Jika tak segera dilerai, entah apa jadinya ayah tiriku. Mungkin bisa terbunuh dan aku akan masuk penjara.
Semenjak itu, aku tak pernah menggubris apa pun kata-kata ayah tiriku. Aku tak mau lagi berdebat jika mengingat nanti ibu bisa jadi korban. Karena itulah, kuliah dan jauh dari tempat kelahiranku adalah hal yang membebaskanku.
Pulang? Lebaran lalu aku mudik ke rumah. Ayah tiriku tak pernah menanyakan apakah aku baik-baik saja atau bagaimana enaknya jadi seniman? Tapi, hal lain malah ditanyakan,
“Kamu itu niat kuliah atau nggak sih?  Kuliah kok ndak lulus-lulus.”
“Tahun ini, dua adikmu sudah mau jadi polisi. Kamu dapat gelar saja belum.” Rasanya malas untuk pulang jika gelar belum bisa kusematkan di belakang namaku.
Setidaknya ada rasa aman. Tapi, mungkin aku akan diburu pertanyaan tentang kerja dan juga jodoh. Rasanya tak habis-habis pertanyaan menggelitik dari ayah tiriku nanti.
Ibu pernah bilang, bahkan marah pun tanda sayang. Tapi, yang mengenaskan adalah ketidakpedulian. Ibu selalu memberi nasihat bahwa apa pun yang dikatakan ayah tiriku adalah motivasi agar aku terus berkarya meski memakai cara pengungkapan yang kasar. Aku rasa itu tidak sepenuhnya benar.
Ayah tiriku bisa saja berbicara denganku, memakai nada bicara normal. Seperti saat berbicara kepada kedua adikku. Tapi, itu tak pernah dilakukannya. Selalu nylekit setiap kali berbicara kepadaku. Heran aku melihatnya. Mungkin karena aku hanya anak bawaan ibu.
Malam ini, aku terima lagi pesan pendek dari ibu yang lagi-lagi menyuruhku pulang.  Tapi, dari nadanya kulihat ada sesuatu yang buruk. Saat itu, aku mengabaikan firasat aneh. Tak kubalas pesan ibu hingga berganti hari.
Aku telanjur lupa, sibuk mengurus event seni dua tahunan. Dini hari ibu telepon diiringi isak tangis.
“Ndang bali, Le. Ayahmu koma.” Aku hanya bisa diam terpaku. Lalu, memesan tiket bus paling awal.
Sepanjang perjalanan, aku mengingat- ingat bagaimana keadaan fisik ayah tiriku.  Rambutnya memang sudah memutih. Tapi, beliau masih sanggup dinas jaga malam dan belum mengambil pensiun.
Aku teringat percakapanku di telepon dengan ibu, beberapa saat lalu. Tentang kondisi ayah tiriku kini.
“Ayahmu sakit jantung sejak lima tahun lalu.”
“Ayahmu merahasiakan penyakitnya. Uwis, Le. Gek ndang bali.” Aku tertegun mendengarnya.
Sesampainya di rumah, hanya ada Yu Jum, bibiku. Aku mampir mengambil barang pesanan ibu sebelum ke rumah sakit. Sekali lagi ibu mengirim SMS agar aku segera ke rumah sakit. Sambil berpesan jangan lupa membawa klaim asuransi milik ayah di ruang kerjanya.
Selama ini, aku jarang sekali atau rasanya tak pernah masuk ke ruang kerjanya. Ayah tiriku tak suka jika ada yang masuk selain dirinya. Di dalam ruang kerjanya, hanya ada meja, kursi, dan rak buku.
Di atas meja ada beberapa berkas dokumen dan tumpukan koran. Aku mencari-cari dokumen asuransi di laci mejanya. Tak sengaja aku menemukan sebuah lukisan yang terasa tak asing. Lukisan ayah yang berpakaian polisi, ibu, dan aku, berlatar belakang rumah ini. Lukisan pertama kali yang kubuat untuk beliau.
Aku hampir melupakan gambar itu.  Kupikir sudah dibuang ke tempat sampah.  Mengingat sikapnya yang tak suka padaku.  Tak kusangka, ayah tiriku masih menyimpan gambar itu. Di belakang kertasnya tertulis, “Gambar putra kesayanganku.” Ada perasaan haru dan juga sedih di hatiku. Bercampur penyesalan yang tak kunjung akhir.
Saat akan menutup laci meja, ponselku berbunyi, panggilan telepon dari ibu.
“Le, Ayahmu sedo.” Diiringi isak tangis berkepanjangan. Aku terduduk lemas di kursi yang biasa diduduki ayah. Menatap hampa gambar yang kugenggam. Ayah tiriku tak seburuk yang aku sangka selama ini.

Yogyakarta, 2 Maret 2014
Kosakata:
Le: sapaan utuk anak laki-laki
Ndang bali: segera pulang
Sedo: meninggal
Nyambi: kerja sampingan
Ndak: tidak
Herumawan Prasetyo Adhie, pegiat sastra dan kini berdomisili di Yogyakarta.
E-mail: libraheruprasetyo@yahoo.com

Thursday, March 20, 2014

Cerpen Kompas : Tubuh Yang Diam

Cerpen Adi Zamzam (Media Indonesia, 2 Maret 2014) Tubuh yang Diam ilustrasi Pata Areadi
SEJAK bangun tidur, ia sudah merasakan kekosongan itu. Semakin terasa saat ia memaksakan diri untuk bangun. Kosong yang paling kosong. Seperti lelah yang telah lama menumpuk, hingga ia kembali merebahkan tubuh, sebelum akhirnya berkeputusan untuk pergi ke dokter.
Ia tak yakin, apakah kekosongan yang seperti lelah ini bersumber dari gejala sebuah penyakit atau hanya perasaannya. Karena itulah ia juga tak yakin apakah dokter bisa menyembuhkan keluhan yang dialaminya sekarang, meski akhirnya ia berangkat ke dokter juga. 
“Lelah saja rasanya, Dok,” jawabnya saat dokter menanyakan keluhan. “Rasanya seperti tidak punya kaki, tidak punya tangan, dan tidak punya kepala. Mau mengerjakan apa, mau ke mana, rasanya bingung saja. Tak ada gairah.”
Dokter sepertinya sudah paham dengan keluhan semacam itu. Dan ia kemudian menuliskan resep. “Diminum yang teratur ya, Pak. Sementara ini Bapak istirahat dulu sampai lelahnya hilang.”
***
Ia sudah minum obat dari dokter. Tapi kekosongan yang membawa rasa lelah itu tetap tak mau mengendap dalam tubuhnya. Seperti ada riuh yang tak mau berhenti, bahkan saat ia coba berkonsentrasi dengan televisi yang ia tonton.
Ia merasa kepalanya sedang berada di tempat lain. Kepalanya sedang berbicara di hadapan banyak orang, dari A sampai Z, tentang taktik pemenangan dirinya yang harus dijalankan oleh mereka, tentang bagaimana caranya mengumpulkan dana dan bagaimana caranya mengoptimalkan dana tersebut, bagaimana caranya meraih simpati orang-orang, juga tentang bagaimana-bagaimana lainnya yang berkaitan dengan pencalonan dirinya sebagai orang nomor satu di kotanya.
Ia merasa telinganya tidak sedang mendengarkan suara televisi. Telinganya sedang mendengarkan semua yang dilaporkan oleh mereka. Tentang citra dirinya di mata masyarakat, tentang isu-isu negatif seputar dirinya, tentang aspirasi para pendukungnya, juga tentang konstelasi panggung pemilu. Telinganya harus selalu mendengar semua berita tentang itu, kapan pun, di mana pun. Suara-suara itu tak boleh ia abaikan.
Ia juga merasa kedua matanya tidak sedang melihat gambar televisi semata. Di kedua matanya juga melintas gambar-gambar lain. Perihal keadaan orang-orang yang akan menjadi sasaran kampanyenya, perihal apa-apa yang mesti ia janjikan kepada mereka kemudian, juga perihal semua yang berkaitan dengan pelaksanaan program-program yang telah direncanakan.
Ia juga merasa bahwa kedua tangannya sedang berada di tempat lain. Kedua tangannya tidak sedang menyertai kepalanya yang sibuk sendiri. Kedua tangannya sedang menemani istri tercinta yang memanjakan diri ke mana pun perempuan itu berselera, mulai dari tempat perawatan tubuh sampai butik-butik ternama.
Ia sengaja menyisakan tangannya saja di samping sang istri, sebab kepalanya tak begitu penting saat berada di samping perempuan itu. Selera istrinya untuk memanjakan diri sering tak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk dirinya. Karena itulah ia selalu hanya menyisakan kedua tangannya saja untuk merangkul sang istri. Sekadar memberi tanda bahwa ia selalu setia menemani dan mendukung keinginan istri.
Tentu saja hal itu juga karena ia tak bisa membebani tangannya untuk berpikir. Saat bersama sang istri, ia hanya menyuruh tangannya untuk bersetia melayani dan membuatnya senang. Lagi pula kedua tangannya tak begitu penting bagi kepalanya lagi, sebab kepalanya bisa dengan mudah menjadikan orang lain sebagai tangan kanan atau tangan kirinya.
Terakhir kedua kakinya. Ia pun merasa kedua kakinya sedang berada di tempat lain. Kedua kakinya tidak sedang menemani kepalanya yang sibuk dengan urusannya sendiri. Kedua kakinya tidak begitu penting bagi kepalanya, sebab kepalanya juga bisa dengan mudah menjadikan orang lain sebagai kedua kakinya. Kedua kakinya juga tidak sedang menemani tangannya yang sedang sibuk menemani istrinya. Kedua kakinya mempunyai kesibukan tersendiri, yakni memanjakan diri dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lainnya.
Kedua kakinya akan sangat senang sekali saat bisa turun ke lantai diskotek yang bingar, joget berdesak-desakan, lalu setelah lelah dia akan menepi dengan seorang perempuan. Kakinya tak perlu khawatir dengan omongan orang-orang, dengan para wartawan yang selalu ingin mendapatkan berita sensasional tentang dirinya, sebab tak ada yang kenal betul bahwa kedua kaki itu adalah kepunyaannya. Karena itulah kedua kakinya bisa dengan leluasa pergi bersenang-senang ke tempat mana pun yang ia suka.
Kedua kakinya selalu hanya membawa uang saat pergi bersenang-senang. Kedua kakinya tahu persis bahwa di tempat semacam itu yang jadi perhatian hanyalah uang. Ia tak pernah membiarkan kepala atau tangannya mengikuti langkah kedua kakinya. Itu jelas berbahaya! Toh hanya dengan kedua kaki ia bisa mendapatkan kesenangan yang memuaskan.
***
Obat dari dokter telah habis, tapi ia masih saja merasakan gejala itu. Kekosongan yang membawa rasa lelah. Seperti selalu dikejar-kejar sesuatu. Seperti ada yang selalu melompat-lompat tergesa di dalam kepalanya. Seperti ada yang selalu berseliweran di depan matanya, bahkan dalam keadaan pejam sekalipun. Seperti ada suara-suara yang tak mau mengendap di liang telinganya.
Ia sering merasa semua anggota tubuhnya sedang tak berdiam meski ia berdiam atau berbaring di pembaringan. Ia sering hilang fokus, konsentrasi, juga gairah. Meski kemudian ia sudah berusaha memanjakan diri sepuas-puasnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
Sampai pada keterkejutan di sebuah pagi, saat ia becermin merapikan diri. Tak ada bayangan yang bisa ia lihat dalam cermin. Seolah tak ada orang yang berdiri di depan cermin, padahal ia sedang mematut diri di hadapan cermin. Ia tercenung. Kenapa bisa begitu? Ia merenung. Inikah penyebab dari semua yang ia rasakan selama ini?
Akhirnya ia pun memutuskan. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil kembali sepasang tangannya yang selama ini selalu setia menemani si istri.
“Aku tahu kalau selama ini kau hanya memberikan tanganmu untukku. Kau tak pernah benar-benar ada untukku. Lalu kenapa sekarang kau ingin mengambilnya juga dariku?” ujar si istri ketika dua tangan yang selalu menemani diambil kembali oleh suaminya.
“Hanya sebentar,” jawabnya.
“Sebentar? Dulu kepalamu pamitnya juga hanya untuk sebentar. Tapi nyatanya sampai detik ini kepalamu selalu sibuk dengan urusanmu sendiri.”
“Itu tanganku. Kenapa kau melarangku mengambil tanganku kembali?”
“Baik, ambillah. Tapi kalau kau ingkar janji, tak mau mengembalikan tangan itu kepadaku lagi, aku pun bisa mengambil keputusan.”
“Kau itu istriku. Mengertilah sedikit keadaanku.”
“Iya, aku tahu kau suamiku. Tapi kau juga mesti sadar apa kewajibanmu kan?”
Dengan sedikit perasaan kecewa ia pun akhirnya meninggalkan si istri dan lalu bergegas ke tempat di mana kepalanya sedang sibuk membagi tugas ini-itu kepada tim suksesnya.
“Kuambil kepalaku dulu ya? Untuk sementara jangan ganggu kami dengan persoalan apapun. Kami mau liburan sebentar. Untuk sementara kerjakanlah semua agenda yang telah kita susun kemarin,” ujarnya saat menghampiri kepalanya di hadapan para anak buah.
“Liburan berapa lama, Pak? Kenapa kami tak boleh menghubungi Bapak?” tanya salah seorang anak buah yang selama ini menjadi tangan kanannya.
“Mungkin dua atau tiga hari. Doakan saja keadaanku semakin membaik.”
“Bapak sakit?” bernada khawatir. Sebagai orang yang paling dipercaya, sikap perhatian itu hal lumrah.
“Tak usah khawatir. Kerjakan saja semua sesuai rencana. Nanti setelah keadaanku membaik, aku akan menghubungimu.”
Dengan sedikit perasaan lega, ia pun bergegas menuju sebuah tempat hiburan, tempat kedua kakinya sering bersenang-senang di sana. Ia mendatangi tempat itu dengan menyamar, sebab jika ketahuan banyak orang bisa ditebak akibatnya.
Berbagai media akan habis-habisan memakannya. Dan tentu saja itu adalah kemenangan di pihak lawan. Tak bolehada yang tahu bahwa orang itu adalah dirinya. Hanya kedua kaki nakal itu yang tahu. Kedua kaki yang hobi berdesak-desakan dengan perempuan-perempuan diskotek. Kedua kaki yang hobi mabuk.
Kedua kaki itu menolak ketika tahu ia dijemput. Ia bahkan sempat melarikan diri ketika dipaksa ikut.
***
Dugaannya benar. Setelah mengambil tangan dari sisi istri, kepala dari hadapan anak buah, dan kaki dari tempat bersenang-senang, ia pun serasa mendapatkan kesegaran baru. Kini ia merasa telah bertemu dengan dirinya sendiri. Ia menemukan kenyamanan yang paling nyaman.
Tapi kemudian ia merasa bingung dengan apa yang mesti dilakukannya beberapa hari ke depan. Jika ia kembali kepada istrinya, kepada anak buahnya yang amat menunggu, atau mampir lagi ke tempat hiburan itu, kejadian kemarin pasti akan terulang lagi.
Tubuhnya serasa terpencar-pencar. Ia merasa tak memiliki tubuh itu. Setiap bagian tubuhnya seperti memiliki keinginan sendiri-sendiri.

Wednesday, March 19, 2014

Puisi : Persahabatan


Persahabatan


Persahabatan adalah sebuah bangunan seperti rumah dalam keluarga
Kau akan secara perlahan membangun dengan gotong royong bersama manusia-manusia yang tuhan pilihkan untukmu
Diantara mereka adalah malaikat-malaikat yang selalu akan mendengarkan keluh kesahmu
Diantara mereka adalah bidadari-bidadari pembawa air suci, air yang akan dibasuh kewajahmu tiap kali kau terlihat kusut dan kacau dimatanya
Dan diantaranya ada iblis yang akan mendewasakanmu

Kadang
Persahabatan itu seperti agama yang berpedoman tanpa harus ada kitab suci
Ia diperuntukkan buat orang-orang kesepian yang keras kepala
Ia akan menyadarkan keegoisan pribadi seseorang yang dipilihnya untuk dileburkan di cawan anggur persembahan untuk pesta sang raja
Kemudian ia kan berubah seperti buku-buku tebal yang dimiliki ingatan masa lalu ketika ia hanya akan menemanimu dalam waktu yang tak sepanjang pemikiranmu
Dan buku-buku tebal itu sudah kau anggap kitab suci keduamu

Persahabatan adalah sebuah tempat dimana kau bisa mendongeng tentang mimpi-mimpi konyol dan mimpi-mimpi rendahanmu tentang cinta
Ia senantiasa akan menyediakan the atau kopi untuk pembicaraannya denganm
Dan sesekali ia akan mengejek dan mempermainkan mimpimu itu
Tapi itu tak lain dari gula yang ada didalam the atau kopi yang diberikannya padamu
Dan kau akan tahu itu benar-benar gula yang dapat memahat senyum dibibirmu sehingga beberapa beban telah hilang tanpa sepengetahuanm
Dia memang suka bercanda dan membual tentang sepi dan gelapnya malam
Tapi semata hanya untuk membantumu mencari makna sesungguhnya tentang keriuhan dan cahaya
Dan tanpa kau sadari dia sudah bersiap menertawakanmu ketika kau baru akan memberitahu padanya bahwa kau tahu maksudnya

Ya, persahabatan,
Dia adalah beberapa sisi yang menempati ladang hatiku
Dia menumbuhkan berbagai pohon rindang di lubang-lubang hatimu
Membuatmu bisa merasa sejuk dan selalu merasa punya tempat untuk berteduh…


Jakarta, 1 maret 2013

Cerpen Kompas : Cara Mengakhiri Sebuah Makan Malam


Cerpen Afrizal Malna (Jawa Pos, 16 Maret 2014)
Cara Mengakhiri Sebuah Makan Malam ilustrasi Bagus
MUSIM dingin untuknya sama dengan ikan yang bersembunyi dalam lukisan-lukisan Gerhard Richter, seorang pelukis Jerman yang sering melintas dalam pikirannya, setiap musim dingin datang. Menciptakan banyak warna untuk menyembunyikannya kembali dalam sapuan besar warna lain. Warna-warna yang seakan-akan diciptakan untuk melawan atau memberi cahaya hangat atas warna putih kelabu dari musim dingin.
Jurg, tukang pos yang banyak mengoleksi foto-foto Paus itu, berusaha membenamkan tubuhnya dalam udara hangat dari mesin pemanas kereta. Ia menggerakkan jari tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal dari wol. Di luar jendela kereta, salju kian mengubah peta. Menciptakan posisi yang membingungkan untuk melihat arah, untuk tahu di mana dirinya berada di antara wajah kota yang hampir terbalut warna putih salju. 
Ia keluar kereta dengan langkah tergopoh-gopoh. Tubuhnya bergerak cepat meninggalkan Bahnhof Platz agar tidak merasa ada angin dari musim dingin yang menguntitnya. Jurg terus melangkah melewati Neuengasse di Bern. Melintasi berbagai pertokoan dan kafe yang menjanjikan rasa hangat yang lain. Rasa hangat dari mata uang Frank Swiss. Seorang pengamen memainkan musim dari botol-botol kaca, toples, dan gelas-gelas wine. Suaranya seperti ikut menggerakkan trem-trem kota yang melintas dengan bentangan kabel-kabel listrik di atasnya. Lonceng gereja terdengar dari Gereja Moenster di Moenstergasse. Suaranya seperti gema masa lalu dari ruang-ruang gotik.
Di depan Schlachaus Theater Bern, setelah memasuki Rathausgasse, ia berhenti. Membetulkan letak kerah mantel panjangnya. Mengibaskan butir-butir salju dari bahu mantelnya. Jurg mengeluarkan sebatang rokok putih dan membakarnya. Asap rokok mulai memenuhi paru-parunya, membangkitkan ingatan-ingatan lama tentang berbagai alamat yang dilaluinya untuk mengantar surat dari berbagai negara. Ia berdiri di depan pintu gedung teater itu. Bangunan tua yang tidak berubah. Mengingatkannya pada sebuah pertunjukan yang telah berakhir 21 tahun yang lalu: Migration Aus Dem Wohnzimmer, 24-25 Mei 1993.
”21 Tahun?“ desahnya sambil mengembuskan napas dari mulutnya untuk bisa merasakan sisa-sisa rasa hangat dari tubuhnya. Dalam tasnya masih tersimpan katalog pertunjukan itu. Istrinya menemukan katalog itu dalam perjalanannya ke Solo, di rumah Halim HD, temannya dari Indonesia. Katalog dengan grafis hitam-putih. Gambar sisir, gelas, dan pesawat telepon. Ia mengeluarkan katalog, melihat isinya. Dua aktor dalam pertunjukan itu telah meninggal. Jurg kembali mengembuskan napasnya, seperti ada lorong menuju ke dunia lain terbentang dalam tenggorokannya.
Pertunjukan dari 21 tahun yang lalu itu seperti masih terus berlangsung tanpa penonton, tanpa tiket. Pertunjukan dari musim dingin yang selalu meninggalkan rasa tersesat, di mana pun ia berada. Petunjukan dari sepeda-sepeda yang membeku, diparkir tidak jauh dari gedung teater itu. Cahaya lampu kota rasanya ikut membeku. Ia seperti bisa mengenggam cahaya yang membeku itu. Tak ada penonton, tak ada tiket, bahkan tak ada panggung. Lelaki itu berusaha menyakini dirinya kembali tentang pertunjukan yang masih terus berlangsung itu, setelah 21 tahun berakhir.
”Jurg,“ tiba-tiba seorang perempuan memanggil namanya.
“Kanthi!” sambut lelaki itu.
Mereka berdua berpelukan. Ia melihat tangannya melingkar di bahu perempuan itu, seperti bukan lagi bagian dari tubuhnya. Jurg menarik tangannya dari bahu Kanthi.
“Kamu seperti tidak pernah berubah setelah 21 tahun yang lalu,” kata Kanthi kepada Jurg.
”Kamu juga, seperti gedung teater ini, tidak pernah berubah,” jawab Jurg.
Kanthi memandangi gedung teater itu, seperti kamar mayat untuk waktu. Terpaku di tengah banyak ingatan yang berhamburan bersama udara dingin. Jurg menarik tangannya.
”Bagaimana penyakitmu?“ tanya Jurg.
Kathi pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa karena depresi. Ia seorang wartawan yang pernah dikirim ke Kuwait tahun 1991 untuk meliput Perang Teluk. Dalam waktu tidak sampai sebulan, Kathi kembali ke Bern. Setelah itu ia harus keluar-masuk rumah sakit jiwa yang merawatnya. Sebuah grafiti: ”Amis raus! (Pergi orang-orang Amerika!)“, di tembok Gereja St Marien sering menghantuinya. Bagian dari protes atas campur-tangan Amerika dalam Perang Teluk.
”Penyakitku mungkin sudah sembuh,“ jawab Kathi. ”Tetapi orang di sekelilingku… kamu tahu tentang itu, bukan? Aku sudah tidak ada, Jurg. Lupakanlah,“ lanjut Kathi sambil menggigit bibirnya di akhir kalimat yang diucapkannya.
Jurg mengangguk dan kembali memeluk Kanthi. “Kamulah wartawan yang memotret dari dalam, Kanthi,“ bisik Jurg di telinganya.
Mereka melanjutkan perjalanan, melewati Zentrum Nord menuju ke apartemen Bot, tempat sahabat mereka menetap. Bot mengundang mereka untuk makan malam. Bot seorang tukang. Tukang yang keahliannya tidak terlalu jauh di sekitar cat, hanya untuk mengecat dinding tembok tua dinding kayu. Ketiganya bertemu di depan gedung teater yang sama, 21 tahun yang lalu. Waktu itu Jurg sedang mengantar surat untuk seorang sutradara yang bekerja di gedung teater, Bot sedang mengecat salah satu dinding teater yang sudah terlalu kumuh, dan Kathi sedang bertugas meliput pertunjukan teater yang sedang berlangsung di gedung itu.
”Apa yang kamu lakukan sekarang?“ tanya Jurg.
”Menulis novel yang pernah ditulis orang lain,“ jawab Kathi.
Jurg terkejut. ”Menulis novel yang pernah ditulis orang lain? Kamu hebat, Kathi!”
”Ya, itulah caraku membaca novel. Seakan-akan aku sendiri yang menulis novel itu,” Kathi berusaha menjelaskan dirinya. ”Dan kamu, Jurg?“
”Aku, kau tahu, aku terus mengumpulkan foto-foto Paus dari berbagai zaman,“ jawab Jurg. ”Aku masukkan foto-foto mereka ke dalam toples. Toples-toples itu tersusun rapi dalam rak-rak lemari perpustakaanku.“
“Hebat!” celetuk Kathi.
Di depan sebuah kafe mereka berhenti. Melihat salah seorang seorang aktor dari pertunjukan Migration Aus Dem Wohnzimmer sedang memainkan sebuah adegan dari 21 tahun yang lalu itu. Aktor itu berdiri dengan kostum seorang Paus yang membungkus tubuhnya. Kostum yang lebih mirip sebuah bangunan yang berdiri dengan tubuhnya sebagai konstruksi utama untuk bangunan itu. Aktor itu mengucapkan salah satu petikan dari puisi Vera Filler:
dia orangnya, yang belum pernah kamu lihat
dimana pun kamu pergi
atau, kalaupun dia ada di sini
entah bagaimana saya merasa kehilangan dia juga
Aktor itu mengucapkan petikan puisi Vera Filler sambil menyeruput spaghetti di meja makannya. Jelujur-jelujur spaghetti terus menyelinap masuk melewati bibirnya, seperti tidak pernah putus. Sebaliknya, puisi Vera Filler keluar dari mulutnya, seperti mengelupasi rangkaian waktu yang menyelimuti dinding kafe. Jurg merasa seperti ada sebuah alamat yang tiba-tiba mencekik lehernya, sebelum ia sampai di alamat itu untuk mengantar sebuah surat. Surat untuk seseorang yang tidak pernah ada.
Kathi menarik lengan Jurg untuk melanjutkan perjalanan. Mereka melintasi jembatan dengan Sungai Aare mengalir di bawahnya. Sungai yang jernih seperti kolam renang itu, dengan arusnya yang deras, permukaannya kini telah membeku.
Tinggi salju sudah hampir menyentuh bibir jendela apartemen Bot, ketika Kathi dan Jurg sudah sampai di tempat tinggal temannya ini. Apartemennya kecil. Mereka duduk di sebuah meja memanjang dengan taplak putih di atasnya. Sebuah makan malam yang berlangsung di ruang dapur Bot yang sederhana. Berbagai jenis pisau untuk makan terletak di tengah meja dalam sebuah gelas. Hanya itu satu-satunya yang bisa dilihat di ruang dapur itu. Selebihnya hanya peralatan dapur dan dinding tembok warna putih.
Bot menyambut keduanya dengan hangat. Berpelukan. Menepuk-nepuk bahu.
”Musim dingin yang menggetarkan,“ kata Bot, seperti kepada dirinya sendiri.
Bot menyambut mereka berdua dengan makan satu mangkuk mushroom sup panas. Bau keju dari sup terasa lembut mulai menggenangi ruang. Dan roti yang telah dimasak renyah. Bot melanjutkan dengan mengeluarkan green salad. Semua hidangan Bot sendiri yang meracik dan memasaknya. Bau bumbu di ruang makan itu ikut membuat lapisan lain dari rasa masakan yang mereka makan.
Bot tiba-tiba terdiam. Kathi dan Jurg ikut terdiam. Kemudian berdiri, mengambil dua botol wine, putih dan merah. Keduanya seperti menyimpan memori yang berbeda untuk Jurg, yang saat itu terlihat sangat bahagia. Wajah bahagia itu tiba-tiba tenggelam dalam tatapannya melihat kedua botol wine itu, seperti pasangan abadi yang tak pernah terpisahkan.
”Aku selalu membuka dua wine  sekaligus untuk sahabat-sahabatku,“ ucap Bot.
Tatapan Jurg masih tak bergerak. Memori dari wine terus berlintasan, seperti mesin fotokopi di kepalanya. Bot menyalakan CD player-nya. Lagu Royals dari Lorde terdengar seperti ritme tepukan-tepukan serempak yang berlangsung dalam timbunan salju. Di luar jendela timbunan salju mulai menyentuh bingkai jendela putih di dinding dapur itu. Kathi mengeluarkan kameranya, memotret jendela putih itu dengan sosok kumpulan berbagai jenis pisau makan di tengah meja, sebagai latar depan yang fokusnya dibuat kabur.
Jurg membuka tasnya, mengeluarkan sebuah surat untuk seseorang yang tidak pernah ada. Tetapi alamatnya ada. Alamatnya jelas. Dalam daftar kependudukan pemerintahan kota, nama itu juga tidak pernah ada. Jurg tidak pernah putus asa, ia mencari nama itu di internet. Tapi orang itu tidak pernah ada. Tetapi Jurg yakin bahwa orang itu sungguh-sungguh ada. Ia terus menyimpan surat itu. Surat yang membuatnya seperti bisa memiliki harapan bisa bertemu dengan orang itu, suatu hari.
Bot dan Kathi memandangi surat itu. surat yang ditujukan untuk seorang sutradara yang bekerja di Schlachaus Theater Bern, 21 tahun yang lalu. Lalu Bot bercerita tentang seorang penyair yang selalu berjalan. Hidupnya memang hanya untuk berjalan, hingga suatu hari orang menemukannya dalam keadaan mati, di sebuah musim dingin. Mayatnya membeku di atas permukaan Sungai Aare yang juga telah membeku. Tetapi ia justru seperti hidup dalam tubuh mayatnya sendiri.
Bot mengambil pisau, membuka amplop surat itu. Lalu mengeluarkannya. Semuanya tercengang, surat itu ternyata hanya berisi kertas kosong. Putih. Tak ada tulisan apa pun. Kathi memejamkan matanya. Ia kembali teringat aktor dengan kostum Paus yang membacakan puisi Vera Filler, di kafe yang mereka lewati sebelum sampai aparteman Bot:
dia orangnya, yang belum pernah kamu lihat
dimana pun kamu pergi
atau, kalau pun dia ada di sini
entah bagaimana saya merasa kehilangan dia juga.
Jurg mengembuskan napasnya melihat kenyataan itu. Menatap kertas kosong itu, seakan-akan tetap ada tulisan yang terkubur di dalamnya. Dari wastafel terdengar Bot yang mulai mencuci piring dan gelas bekas makan malam mereka. Semua percakapan berhenti, tergantikan suara air dan gesekan-gesekan kecil dari peralatan makan yang sedang dicuci Bot. Kathi dan Jurg menghabiskan sisa wine. Merayakan rasa kehilangan seorang yang tidak pernah ada dalam kehidupan mereka. Rasa kehilangan itu terasa nyata. Kathi mengambil surat yang hanya berisi kertas kosong itu.
”Aku akan mencoba menuliskan bagaimana kertas kosong ini harus ditulis kembali sebagai kertas kosong,“ katanya sambil berusaha memasukkan surat itu ke dalam tasnya. Karena Kathi tidak hati-hati, surat dalam amplop itu terjatuh. Jurg merebut surat itu. Memasukkan kertas kosong itu ke mulutnya, mengunyahnya dan menelannya.
Makan malam itu berakhir dengan perasaan yang sama dialami ketiga orang sahabat itu. Perasaan bahwa makan malam itu tidak pernah terjadi. ***

Cerpen : Angkutan dari Rusun


Cerpen Gus tf Sakai (Media Indonesia, 16 Maret 2014) Angkutan dari Rusun ilustrasi Pata Areadi
PAGI ini tak bisa lagi Iman tak marah. Kapal gratis ke Muara Baru masih belum bisa jalan, sementara Rahmat anaknya yang sekolah pada sebuah SD di Pluit tak mau berangkat dengan bus. Tapi tentu saja Iman mestinya ngerti. Dengan bus, dari Marunda, Cilincing, ke Pluit, Penjaringan, jaraknya 10 kilometer. Pukul berapakah Rahmat akan sampai di sekolah?
Tetapi Iman sudah bilang ke Rahmat agar bangun lebih pagi. Rahmat saja yang tampaknya seperti malas. Ah, ada apakah sebetulnya? Walau sejak pindah ke Marunda banyak hal memang tak lagi sama, namun Iman punya firasat bukan karena itu Rahmat berubah. Ya, ada sesuatu yang seperti berubah. Kelas 4 SD, 10 tahun, memang usia nakal-nakalnya. Apakah ada sesuatu yang terjadi di sekolah? 
“Aku juga tak tahu,” kata Warsinah, istrinya, saat kemarin Iman bertanya. “Tapi yah, dibanding di Pluit, di sini Rahmat lebih banyak main.”
“Mm, apa karena main? Apakah karena asyik main ia jadi malas?”
Iman masih menggerutu, masih uring-uringan, saat pamit pada istrinya. Sapaan beberapa orang yang tengah duduk-duduk minum pagi di kios dan gerobak-gerobak lantai dasar, ia balas seadanya. Di halaman yang luas, Iman agak tertegun. Dilihatnya truk-truk dan orang-orang, para pekerja bangunan, ramai, menurunkan berbagai peralatan. Sepagi ini. Mmm. Pasar sayur itu, rupanya, benar-benar akan ada di depan rusun mereka.
***
Sampai di tempat mangkalnya, pasar ikan Muara Baru Jalan Gedong Panjang, hari memang telah agak siang. Tetapi bagi Iman, telat atau tidak memang tak soal, karena pasar ikan itu hanya tempat kerja antara, sebelum kemudian ia mangkal di Taman Waduk Pluit. Selain ‘mengisi’ langganan, orang-orang yang biasa utang rokok atau barang kecil ini-itu, pasar ikan adalah tempat Iman menitipkan asongan kepada seorang juragan ikan yang dulu, sebelum ia pindah ke Marunda, adalah juragannya.
Taman Waduk Pluit menjadi tempat asongan utama, karena di situlah sumber uang kontan Iman. Semua pembeli adalah orang asing, orang-orang yang sebelumnya Iman tak kenal, para pengunjung taman, yang entah datang dari mana. Hari-hari biasa Iman bisa untung Rp40 ribu-Rp50 ribu, sedangkan Sabtu dan Minggu bisa mencapai dua kalinya. Ditambah upah Warsinah yang membantu-bantu di sebuah kios lantai dasar rusun, penghasilan mereka cukup untuk bertiga dan kadang bisa mengirim ke Yeni, kakak Rahmat yang tinggal bersama orangtua Iman dan sekolah di sebuah SMP di kampung mereka di Magetan.
Siang Iman akan istirahat seraya menunggu Rahmat pulang dari sekolahnya pada sebuah SD dekat Emporium Pluit. Bersama, mereka lalu makan siang di sebuah warung dan, sesudahnya, dibantu Rahmat, Iman akan terus mengasong sampai malam. Sungguh tak terbayangkan, lokasi yang Januari lalu masih berupa perumahan kumuh, dipadati gubuk-gubuk di bantaran waduk, tak lebih sembilan bulan, telah menjelma jadi taman. Dan salah satu dari gubuk itu, tentu saja adalah gubuk Iman. Kadang, dengan setengah bercanda, Iman suka bertanya ke Rahmat, “Ayo, di mana dulu rumah kita?”
“Di situ!” tunjuk Rahmat, seraya berlari-lari ke sebuah lokasi di sisi waduk.
“Bukan!” sanggah Iman. Dan seraya menunjuk agak ke tengah, ke sisi bagian dalam waduk, ia bilang, “Di sana….”
“Kok di dalam waduk?” Rahmat protes.
“Ya tentu. Waduk kan diperlebar….”
Memang, selain dikeruk, waduk juga diperlebar. Luas yang dulu 60 hektare, untuk menanggulangi banjir, akan dijadikan 80 hektare. Sampai pertengahan November itu, baru sisi barat waduk yang jadi taman. Selain area pusat taman yang diresmikan Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang biasa dipanggil Jokowi, 17 Agustus 2013 lalu, sudah ada pula area teater terbuka, jalur jalan untuk joging, dan bangku-bangku. Jokowi bilang, “Bertahun-tahun ke depan, taman ini akan jadi hutan kota. Tak ada lahan komersial. Semua untuk warga. Gratis.” Warga juga boleh berdagang, tetapi asongan, karena tak boleh ada bangunan.
***
Masih juga kapal belum bisa jalan. Sudah lebih seminggu. Dan seperti harihari lalu, Rahmat masih juga seperti malas. Kadang mau sekolah, kadang tidak. Dan, hal lain yang juga mulai terasa dan membuat Iman kini kepikir, adalah ongkos bus. Bolak-balik Marunda-Pluit bisa mencapai Rp20 ribu. Ah, kapankah cuaca kembali baik sehingga kapal Marunda- Muara Baru bisa pula kembali jalan?
Bila terus begini, semua akan kacau. Kondisi keuangan keluarga juga akan tak lagi mencukupi.
Ah, andai saja masih seperti dua bulan lalu, saat bus Marunda-Pluit masih beroperasi.
Memang, bagi warga yang dipindahkan akibat normalisasi waduk ke rusun-rusun yang lokasinya jauh, disediakan angkutan gratis. Dan untuk yang dipindahkan ke rusunawa Marunda, selain dengan kapal Marunda-Muara Baru yang lewat laut, disediakan pula bus Marunda-Pluit yang lewat darat. Tetapi karena perjalanan dengan kapal lebih cepat, hampir semua orang memilih angkutan laut, dan angkutan darat jadi sepi. Lama-lama bus jadi kosong, dan dua bulan lalu kemudian berhenti. Tetapi, kenapa harus berhenti? Tidakkah, sebelum diputuskan berhenti, warga rusun mestinya lebih dulu ditanyai?
Ah, banyak hal memang tak berjalan sebagaimana mestinya. Dan satu hal yang membuat Iman was-was, adalah unit-unit rusun yang disewakan ke orang lain. Karena berbagai pertimbangan, banyak yang sehabis kerja tak pulang ke rusun dan memilih menginap di sekitar waduk. Dari semula menginap, lama-lama mereka menyewa kamar di Muara Baru, lalu rusun mereka kontrakkan. Bekerja sama dengan oknum pengelola rusun dan calo-calo, sewa unit rusun yang paling mahal Rp159 ribu per bulan, bisa menjelma jadi Rp700 ribu. Bila ketahuan, bukan hanya si penyewa asli, penyewa di seluruh lantai juga akan dikeluarkan.
Dan, bukan itu saja, juga kios dan gerobak-gerobak di lantai dasar. Katanya, akan diundi secara terbuka. Tetapi ada kios yang berganti pengelola, dan si pengganti ternyata famili atau masih satu keluarga.
Ah, Iman berdesah. Dan, tiba-tiba ingat Rahmat. Hari itu, karena Rahmat tak mau sekolah, Iman juga jadi enggan kerja. Di samping paginya juga hujan. “Ke mana ia?” tanya Iman kepada istrinya.
“Entah. Tetapi tadi ia ke bawah. Katanya ke lapangan. Karena hujan, ada temantemannya yang juga tak sekolah.”
Iman melangkah, keluar dari unit rusunnya, berjalan ke arah tangga. Dari teras tangga di lantai dua, Iman bisa memandang ke lapangan serbaguna yang terletak antara Blok A-6 dan Blok A-5. Dan di lapangan itu, di bawah sana, dilihatnya Rahmat, bersama teman-temannya, sedang berlarian berteriak-teriak bermain bola.
Iman juga ingin berteriak, memanggil, tetapi tiba-tiba membatalkannya.
Pemandangan itu, serombongan anak berlarian mengejar bola, tiba-tiba mengingatkan Iman ke suatu masa, di kampungnya, Magetan, 30 tahun lalu.
Iman seperti tertegun. Terpaku lama. Dan lalu, mendadak, seolah ada yang tibatiba bergejolak di dadanya, Iman berbalik. Ia melangkah setengah berlari ke unit rusunnya. “Aku tahu, Inah! Aku tahu!”
***
Apa yang menurut Iman ia tahu, adalah dunia dan permainan itu. Melihat Rahmat dan teman-temannya bermain bola, Iman terbayang masa kanak-kanaknya di Magetan. Betapa mengasyikkan. Betapa menggembirakan. Selain berlarian mengejar bola, ada makebo-keboan, engklek, gobak sodor, boyo-boyoan. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan di Marunda, tak bisa didapatkan Rahmat di Pluit, apalagi saat mereka dulu di bantaran. “Mas yakin itu yang menyebabkan Rahmat malas sekolah?” tanya Warsinah.
“Sangat yakin,” tukas Iman, “dan baik Rahmat kita pindahkan.” “Ke sini?”
“Iya. Ada SD tak jauh dari sini, di Sipitung.”
Warsinah seperti berpikir.
“Dah, jangan berpikir. Dan masih ada lagi.”
“Masih ada lagi? Apa….?”
“Pasar sayur… kau lihat orang-orang sedang bekerja, membangun pasar di depan. Aku akan mendaftar.”
“Mendaftar? Ikut jualan sayur?”
“Iya.”
Warsinah seperti terpana. Sesaat, lalu senyum mengembang di bibirnya. “Kita… kita betul-betul hanya akan di sini? Mas juga takkan lagi ke Pluit?”
Iman mengangguk. Warsinah mendekat, menyentuh tangan Iman tak percaya. Tetapi kembali Iman mengangguk. Memastikan. Dan, senyum Warsinah kini benar-benar mekar. Mengembang lebar….
***
Cerpen ini merupakan bagian dari sebuah karya yang lebih luas.
Gus tf Sakai, pengarang kelahiran Payakumbuh, 1965. Menulis novel, cerpen, dan puisi. Ia mendapat penghargaan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004), juga Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk kumpulan cerpen Perantau (2007). Buku terkininya Kaki yang Terhormat (2012).

Monday, February 24, 2014

Cerpen : Kucing Ditengah Hujan

Cerpen Ernest Hemingway

Hanya ada dua orang Amerika di hotel itu. Mereka tidak mengenal siapa pun yang mereka jumpai di tangga saat mereka meninggalkan atau pulang ke kamar mereka. Kamar mereka di lantai dua menghadap laut. Ia juga menghadap taman dan monumen perang. Ada pohon-pohon palem besar dan bangku-bangku di taman itu. Ketika cuaca bagus, selalu ada pelukis di sana bersama kuda-kuda penyangga kanvasnya. Para pelukis menyukai palem-palem yang menjulang dan warna cerah hotel yang menghadap taman dan laut. Orang-orang Italia datang dari tempat-tempat jauh untuk melihat monumen perang. Ia terbuat dari perunggu dan berkilau diguyur hujan. Sekarang sedang hujan. Hujan menetes dari pohon-pohon palem. Air menghadirkan genangan-genangan di jalan setapak berkerikil. Laut menciptakan garis memanjang di tengah hujan, yang bergulung ke arah pantai dan pecah di sana, dan menciptakan kembali garis memanjang di tengah hujan. Motor-motor meninggalkan alun-alun di samping monumen perang. Di seberang alun-alun seorang pelayan berdiri di pintu kafe memandangi alun-alun yang kosong.

Si istri Amerika berdiri di jendela memandang ke luar. Di luar, tepat di bawah jendela kamar mereka, seekor kucing meringkuk di bawah salah satu meja hijau yang kehujanan. Kucing itu berusaha meringkuk sekecil mungkin agar tidak tepercik air hujan.

“Aku akan turun dan mengangkat kucing itu,” kata perempuan itu.

“Biar aku saja,” suaminya menawarkan diri dari ranjang.

“Tidak, aku saja. Kucing malang itu berlindung di bawah meja.”

Si suami melanjutkan membaca, berbaring dengan dua bantal penyangga di bagian kaki ranjang.

“Jangan sampai kebasahan,” kata lelaki itu.

Si istri turun dan pemilik hotel berdiri dan membungkuk saat ia melintasi ruang kantor. Meja orang itu di bagian paling dalam ruangan kantornya. Ia lelaki berperawakan sangat tinggi.

“Il piove,” kata perempuan itu. Ia menyukai si penjaga hotel.

“Si, si, Signora, brutto tempo. Cuacanya buruk sekali.”

Ia berdiri di belakang mejanya di bagian dalam ruangan kantor yang remang. Perempuan itu menyukainya. Ia menyukai kesungguhan orang itu dalam menerima segala jenis keluhan. Ia menyukai penampilannya yang bermartabat. Ia menyukai caranya menawarkan bantuan. Ia menyukai cara orang itu menghayati dirinya sebagai penjaga hotel. Ia menyukai paras tuanya yang muram dan tangannya yang besar.

Dengan perasaan suka kepadanya, perempuan itu membuka pintu dan memandang ke luar. Hujan kian deras. Seorang lelaki berjas hujan sedang menyeberangi alun-alun menuju kafe. Kucing itu mestinya ada di samping kanan. Perempuan itu bisa berjalan di sepanjang teritisan. Saat ia berdiri di ambang pintu, sebuah payung terbuka di belakangnya. Rupanya seorang pelayan mengikutinya saat ia keluar dari kamar.

“Anda tidak boleh kebasahan,” perempuan itu tersenyum, bicara dalam bahasa Italia. Tak pelak lagi, penjaga hotel itulah yang mengirimkan perempuan ini.

Dipayungi oleh pelayan itu, si istri berjalan di atas setapak berkerikil sampai ia tiba di bawah jendela kamarnya. Meja itu ada di sana, hijau cerah dibasuh hujan, tetapi si kucing sudah pergi. Ia tiba-tiba merasa kecewa. Pelayan mengamatinya.

“Ha perduto qualque cosa, Signora?”

“Ada kucing di situ,” kata perempuan Amerika itu.

“Seekor kucing?”

“Si, il gatto.”

“Seekor kucing?” pelayan itu tertawa. “Seekor kucing di tengah hujan?”

“Ya,” katanya, “di bawah meja.” Kemudian, “Oh, aku sangat menginginkannya. Aku menginginkan seekor kucing kecil.”

Ketika berbicara bahasa Inggris, muka si pelayan menegang.

“Mari, Signora,” katanya. “Kita harus kembali ke dalam. Anda akan kebasahan.”

“Kurasa begitu,” kata perempuan Amerika.

Mereka kembali menyusuri setapak berkerikil dan masuk ke pintu. Pelayan tetap di luar menutup payung. Saat perempuan Amerika melewati kantor, si padrone membungkuk dari mejanya. Ada sesuatu yang terasa begitu kecil dan mengkerut di dalam diri perempuan itu. Si padrone membuatnya merasa sangat kecil dan pada saat yang sama sangat penting. Sesaat ia merasakan dirinya sungguh amat penting. Ia melangkah ke tangga. Ia membuka pintu kamar. George di atas ranjang, membaca.

“Kau dapatkan kucing itu?” tanyanya seraya meletakkan buku.

“Ia sudah pergi.”

“Aneh ke mana ia pergi,” katanya, melepaskan pandangannya dari bacaan.

Perempuan itu duduk di ranjang.

“Aku sangat menginginkannya,” katanya. “Aku tidak tahu kenapa aku sangat menginginkannya. Aku menginginkan kucing malang itu. Tidak enak jadi seekor kucing di luaran sana di tengah hujan.”

George membaca lagi.

Perempuan itu berpindah dan duduk di depan cermin meja rias, mengamati dirinya sendiri dengan sebuah cermin kecil. Ia meneliti wajahnya sendiri, mula-mula satu sisi, kemudian sisi yang lain. Kemudian ia meneliti bagian belakang kepala dan lehernya.

“Bukankah bagus menurutmu jika aku memanjangkan rambutku?” tanyanya, meneliti wajahnya lagi.

George mengangkat muka dan melihat bagian belakang leher istrinya, potongan rambutnya pendek seperti anak lelaki.

“Aku suka seperti itu.”

“Aku bosan dengan ini,” katanya. “Aku bosan sekali berpenampilan seperti laki-laki.”

George mengubah posisinya di ranjang. Ia tidak memperhatikan istrinya sejak perempuan itu memulai pembicaraan.

“Kau terlihat manis sekali,” katanya.

Perempuan itu memasukkan cermin kecilnya di laci dan melangkah ke jendela dan memandang ke luar. Hari mulai gelap.

“Aku ingin memanjangkan rambutku dan mengikatnya di punggung sehingga aku bisa merasakannya,” katanya. “Aku ingin mempunyai kucing yang bisa kupangku dan mendengkur saat kubelai.”

“Yeah?” kata George dari ranjang.

“Dan aku mau makan dengan perabotan makanku sendiri dan lilin di meja makan. Dan aku ingin membiarkannya tumbuh apa adanya dan aku ingin menyisir rambutku di depan cermin dan aku menginginkan seekor kucing dan aku menginginkan pakaian-pakaian baru.”

“Oh, tutup mulutmu dan carilah bacaan,” kata George. Ia membaca lagi.

Istrinya memandang ke luar jendela. Sudah betul-betul gelap sekarang dan hujan masih membasuh pohon-pohon palem.

“Bagaimanapun, aku menginginkan kucing,” katanya. “Aku menginginkan kucing. Aku menginginkan kucing sekarang. Kalaupun aku tidak bisa memanjangkan rambutku atau mendapatkan kesenangan yang lainnya, aku bisa memelihara kucing.”

George tidak mendengarkan. Ia terus membaca bukunya. Istrinya memandang ke luar dari jendela ke arah cahaya yang mulai menerangi alun-alun.

Seseorang mengetuk pintu.

“Avanti,” kata George. Ia melongok dari balik bukunya.

Di ambang pintu berdiri si pelayan. Ia mendekap seekor kucing besar berwarna coklat kehitaman yang tampak meronta hendak turun.

“Maaf,” katanya, “padrone meminta saya membawa ini untuk Signora.”

***

Diterjemahkan oleh A.S. Laksana
Dari “Cat in The Rain”, dalam Ernest Hemingway: The First Forty-Nine Stories, diterbitkan terbatas oleh The Franklin Library, Franklin Center, Pennsylvania: 1977

Tuesday, February 11, 2014

Cerpen Kompas : Bau Laut

Bau Laut

Cerpen Ratih Kumala (Media Indonesia, 9 Februari 2014)
Bau Laut ilustrasi Pata Areadi
KETIKA lelaki itu pulang dari melaut, ia menemuiku. Kupikir ia sudah mati ditelan laut.Tubuhnya legam. Air asin dan matahari telah memanggang kulitnya. Rambutnya kemerahan. Matanya menyipit dan cekung. Aku melihat ceruk ketakutan di situ, sekaligus sejuta perlawanan. Aku memang tidak mengerti laut, meski sepanjang umur aku hidup di tepi laut.Aku tidak paham apa yang mesti ditakuti di laut yang tak ada apa-apa selain ikan, air, dan matahari. Mungkin karena tidak ada apa-apanya itulah ia menjadi takut.
Namanya Mencar, anak nelayan yang menjadi dewasa di dalam kapal. Sejak dia kecil, ayahnya telah membawanya ke laut. Dia bisa melihat ikan dari kejauhan, matanya tajam dan awas. Hingga dewasa, dia terus bertugas memberi tahu awak kapal di mana mereka bisa menemukan gerombolan ikan untuk ditangkap. Dia akan naik ke tiang kapal, bergelantungan serupa layar, dan berteriak dengan semangat sambil menunjuk ke satu titik. 
“Ikaaan…!” Mencar dan aku tak pernah akur.
Semasa kami bocah, ia anak yang menyebalkan. Menakut-nakutiku dengan kepiting besar hingga aku lari menghindarinya. Aku menghindari Mencar sampai aku remaja. Hingga suatu sore aku melihat ayah Mencar mengajak bocah itu melaut. Di tepi pantai, ia memandangku. Ada yang salah pada tatapan matanya. Meski tubuhnya masih anak-anak, sorot matanya telah menjadi mata lelaki dewasa. Aku bahkan lebih tinggi darinya, tapi sorot mata itu membuatku jengah.
Beberapa hari kemudian Mencar kembali. Laut memang penyihir yang maha dahsyat, mampu mengubah semua orang. Mencar, teman kecilku itu, berubah menjadi lelaki pada suatu hari sepulang melaut. Tak ada lagi tanda-tanda bocah di tubuhnya. Badannya liat dan terbakar. Tubuhnya menjadi lebih tinggi. Sorot matanya masih sama, seperti menelanjangiku. Malamnya, itulah yang dilakukannya. Kami bercumbu dengan alas pasir dan atap bintang, serta bau laut yang menerpa wajah kami. Bibirnya terasa asin.
Mencar menjadi kekasihku.
Pada suatu malam, Mencar bercerita, ia bermimpi dengan seorang perempuan yang muncul dari laut.
“Apakah itu Nyai Ratu Kidul?” tanyaku.
“Bukan. Aku tahu itu bukan Nyai Ratu Kidul.”
“Siapa?”
Penjelasan Mencar tak bisa dipercaya.
“Dia perempuan yang tak punya kaki, tapi ekor ikan yang menjuntai dari pinggang ke bawah.” Aku tak pernah memercayai adanya Putri Duyung. “Dia menyuruhku untuk minum air laut di ujung geladak dan buritan sebelum aku melaut lagi besok.”
Para nelayan terbiasa membaca tanda-tanda alam, seaneh apa pun itu. Sore keesokan harinya, para perempuan melepas laki-laki mereka untuk melaut. Mencar menuruti mimpinya. Dia mengambil segelas air dari ujung geladak dan buritan kapal yang ditumpanginya. Para awak kapal bertanya-tanya apa yang dilakukan Mencar. Meski awalnya menganggap itu aneh, mereka mengikuti juga apa yang dilakukan Mencar. Ia turun sejenak dari kapal, berlari dan memegang tanganku.
“Sepulang dari melaut ini, aku akan meminangmu,” ia memelukku demikian erat, hingga dipanggil lagi oleh ayahnya untuk segera kembali ke kapal.
Keesokan malamnya, badai datang. Semua perempuan melongokkan kepala ke luar rumah demi memastikan benarkah badai yang tengah bertandang. Setelah itu mereka masuk ke rumah masing-masing dan bersembunyi sambil merapalkan doa. Selepas badai kami mendengar kabar tentang kapal-kapal yang hancur. Hatiku menjadi suwung. Ibu Mencar setiap hari membawakan sesaji untuk laut dan menangis setiap sore, memohon pada samudra untuk mengembalikan suami dan anaknya.
Beberapa hari kemudian, sebuah keanehan terjadi. Satu per satu nelayan terdampar. Mereka seolah dikembalikan oleh lidah ombak, termasuk ayah Mencar yang pulang dengan utuh. Setelah semua nelayan yang terdampar terkumpul, kami memastikan mereka adalah awak kapal tempat Mencar turut serta. Sementara awak kapal lain menyisakan janda-janda dan anak-anak yatim yang kini harus bertahan sendiri tanpa kepala keluarga.
Semuanya kembali, kecuali Mencar!
Lebih dari sebulan aku dan ibu Mencar setiap sore pergi ke bibir laut dan menyuguhkan sesajen agar Mencar kembali. Saat aku berpikir sudah tak ada lagi harapan, tiba-tiba lidah ombak menggulung seseorang dari tengah laut.Kami menghampiri sosok yang tergeletak itu.
“Mencar! Mencar anakku!” teriak Ibu Mencar. Aku tak memercayai ini, Mencar kembali dan masih utuh. Kupandangi Mencar yang belum mau bicara. Mulutnya diam seolah tak mengerti bahasa manusia. Tapi matanya, mata itu nyalang dan menyimpan sejuta cerita yang tak terkatakan.
Beberapa malam kemudian, aku tak menyangka. Mencar datang mengetuk jendela kamarku. Seperti malam-malam sebelum dia pergi melaut, sebelum badai itu menghantam, inilah yang biasa dia lakukan: mengajakku pergi ke bibir pantai dan bercumbu di bawah bintang.
Mencar, lelakiku, telah kembali.
“Kupikir kau sudah mati ditelan laut.” Mencar diam. Kupandangi ceruk matanya yang sedalam samudra. Aku seolah berenang dalam sorot mata yang telah menjadi keabu-abuan. Matanya kini menjelma liar.
“Apa yang telah terjadi?”
“Maafkan aku, aku sudah kawin dengan Putri Duyung. Aku tak bisa menikahimu.“
***
Mencar tak pernah lagi melaut. Berita bahwa ia sudah kawin dengan Putri Duyung telah menyebar seperti jamur.Dan tiba-tiba, setiap pagi rumahnya penuh oleh para nelayan. Mereka memberikan pundi-pundi pada Mencar. Kini Mencar hanya perlu turun ke halaman rumahnya, lalu mencium bau laut dalam-dalam, dan ia akan membisikkan kepada seorang nelayan ke arah mana mereka harus melaut. Di situlah mereka akan menemukan gerombolan ikan. Hidungnya telah demikian tajam sehingga ia tak perlu lagi melihat ke laut untuk mengetahui letak ikan. Matanya telah melihat laut yang sesungguhnya, seolah dirinya sendiri adalah peta samudra.
Tak lama, keluarga Mencar hidup bagai keluarga raja. Mereka tak perlu lagi bekerja. Mencar menjadi sumber penghasilan bagi orangtuanya. Ibunya melelang keahlian Mencar mencium bau laut setiap pagi. Siapa yang memiliki pundi paling besar, dialah yang akan diberi tahu letak gerombolan ikan di laut. Mencar tak pernah benar-benar keluar dari rumahnya. Ibunya pun selalu berseloroh kepada orang-orang kampung, “Anakku menikah dengan Putri Duyung. Dia Pangeran Laut yang hidup di darat.“
Aku tak tahu apakah benar atau tidak, tapi ada nelayan yang pernah melihat Mencar ke laut tengah malam, dan yakin benar bahwa perempuan berekor ikan menemuinya di bibir pantai. Aku hanya mendengarkan, sambil menelan olok-olok orang-orang yang menanyakan apakah aku akan mencari pacar baru atau bersaing dengan Putri Duyung.
Itu semua membuatku merasa seperti ombak yang pecah di tepi karang, berpencar dan pasrah pada samudra yang menarik kembali air asin yang telah menjadi keping. Seperti itulah sakit hatiku. Retak. Rusak.
Hingga suatu malam, ketika aku yang rentan sedang meresapi kesedihan, seseorang mengetuk jendela kamarku.Aku tahu itu pasti Mencar. Ketika kubuka jendelaku, tanganku menghambur memeluk tubuh Mencar.
“Kupikir kau takkan pernah mengetuk jendelaku lagi.“
“Menikahlah denganku,“ ucap Mencar.
“Tapi Putri Duyung itu?“
“Aku mencintaimu meskipun Putri Duyung itu telah menyelamatkan nyawaku. Temui aku dari pintu depan.“
Aku menutup jendela. Tak lama, terdengar ketukan pintu depan. Ayahku yang sedang membersihkan jala bertanya siapa gerangan mengetuk pintu demikian keras di malam buta.
Kubuka pintu, dan Mencar berdiri di situ.
“Mau apa kamu?“ tanya ayahku, ketus.
“Saya ingin menikahi putrimu, karena saya mencintainya.“
“Kamu sudah menikah dengan Putri Duyung, dan kamu sudah membuat saya kelaparan karena kamu mampu mencium bau laut, sedangkan saya tak mampu membayar keahlianmu. Kamu cuma memperkaya saudagar ikan dan membuat nelayan kecil macam saya makin tercekik.”
“Akan kuberikan mas kawin segerombolan ikan yang bisa menghidupimu seumur hidup. Kau bisa memanennya besok ketika kembali melaut. Dan, kapanpun kau melaut, ikan-ikan akan menghampirimu.”
Setelah Mencar meyakinkan ayahku, kami pun dinikahkan. Adikku menjadi saksinya. Malam itu juga Mencar membawaku ke bibir pantai, dan di bawah bintang kami bercumbu. Ia mengembalikanku ke rumah di tengah malam buta, dan berkata pada ayahku; besok ia akan ikut melaut, menghadiahiku dan keluargaku, ikan yang akan menghidupi kami seumur hidup. Aku tak percaya pendengaranku, Mencar akan kembali melaut.
Aku melepas Mencar, suamiku, yang pergi melaut bersama ayahku. Aku menunggu dengan was-was di bibir pantai, setiap pagi dan sore. Beberapa hari kemudian, ayahku kembali tanpa Mencar. Ia membawa kapal penuh dengan tangkapan laut serta sejumput cerita yang kemudian menjadi legenda di kampung kecil kami: Setelah Mencar menunjukkan di mana ikan-ikan berada, dia berjanji bahwa ayahku akan menjadi saudagar besar, dan di manapun ia berada, ikan akan selalu mendatanginya. Lalu, ayahku melihat sosok perempuan cantik dengan ekor ikan yang menggeliat di sekitar kapalnya. Mencar segera terjun ke laut. Ayahku berusaha mencegahnya, tapi sosok itu memegang tangan Mencar dan menariknya jauh ke dalam laut. (*)


Ratih Kumala, lahir di Jakarta, 1980.Menulis novel, cerpen, dan skenario. Novel terkininya Gadis Kretek (2012).

Monday, November 25, 2013

Cerpen Kompas : Lukisan Bergetar

Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya, perempuan bawel yang mempekerjakanku serupa budak. Aku lari dari keluarga perempuan bawel itu, dan menemukan duniaku sendiri, bekerja, hingga membeli rumah tua yang kini kutempati.
Aku terperanjat ketika datang ke rumahku seorang gadis dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ia mencari ibu kandungnya. Perempuan dalam lukisan di ruang tamuku, dikatakan sebagai sosok Ibu yang dicarinya. Ditatapnya lekat-lekat lukisan itu. Sebuah lukisan perempuan berbaju hijau lumut, berkain, duduk menyamping di kursi ukir. Lukisan itu telah dipakukan di dinding ruang tamu, barangkali setua bangunan ini. Tak kutemukan keterangan apa pun mengenai lukisan itu, hingga datang seorang gadis, yang bertanya, di mana perempuan dalam lukisan itu.
Sama sekali aku tak mengerti, di mana sekarang perempuan dalam lukisan itu tinggal. Apa peduliku dengan perempuan itu? Pada Ibu yang melahirkanku, ketika ia sakit dan meninggal dunia, tak kutengok sekejap pun. Ia dimakamkan, tanpa kehadiranku. Dua adik perempuanku yang tak pernah disia-siakan Ibu sepertiku berkali-kali meneleponku. Tak kubalas.
Lalu, apa artinya kini, melacak seorang ibu dari sebuah lukisan? Lukisan itu telah menjadi satu dengan dinding, semenjak rumah tua itu kubeli. Sama sekali aku tak terganggu dengan lukisan itu, sampai datang seorang perempuan muda itu dari kota yang jauh. Ia mencari pemilik rumah, seorang ibu yang dilukis dan terpasang di dinding ruang tamu. Melacak wanita dalam lukisan, yang lengkung alisnya tergores lembut, dengan sepasang mata memendam perhatian. Garis bibir dan dagu menampakkan kesepian yang panjang dan tertahan.
Lukisan itu selalu bergetar pada saat angin berembus lewat pintu ruang tamu yang terbentang. Lukisan itu tepat berhadap-hadapan dengan pintu, dan setiap saat angin menggetarkannya. Perempuan dalam lukisan itu seperti bergerak dari bingkainya.
Perempuan muda itu memandangi lukisan yang bergetar dengan mata yang berkejap. Sepasang mata yang penuh harap.
Antarkan aku ke rumah Ibu!
Aku masih tergagap. Merasa asing dengan permintaannya. Tak pernah aku mendatangi Ibu. Apalagi mencarinya. Hingga Ibu jatuh sakit, terbaring koma lebih dari sepuluh hari, dan pada akhirnya meninggal di hari kesebelas, aku tak menengoknya. Telepon rumah berdering berkali- kali. Tak berhenti berdering. Kututup kembali. Kubiarkan mereka dua adik perempuanku  menelepon dan mencaci-maki. Aku tak peduli.
Maaf, aku tak bisa menemanimu.
Kalau begitu, beri aku alamat Ibu.
Perempuan muda itu memendam sorot mata yang penuh harap dan cemas. Hari sudah larut. Ia belum beranjak dari rumahku, wajahnya tampak ragu. Tapi aku tak mau jatuh iba padanya. Aku tak ingin melihat dia bertemu dengan ibunya—wanita yang telah melahirkannya.
Telah kuputuskan mencari Ibu. Tak kusangka akan sesulit ini. Sekalipun Ibu telah membuangku, tak akan kucemooh dia. Aku ingin bertemu dengannya.
Di pelataran rumah, dia masih membujukku untuk menemani mencari ibunya. Kutolak. Kali ini suaraku dingin. Mungkin ketus. Aku memang harus memperlihatkan pendirianku padanya. Aku tak suka melihat raut wajahnya yang cengeng.
Lelaki pemilik rumah itu sungguh menjengkelkan. Dia tak mau mengantarkanku mencari alamat Ibu. Baru pertama kali aku menginjakkan kaki di kota kecil kelahiranku ini. Dua puluh tiga tahun orangtua angkatku membawaku meninggalkan kota kecil yang sepi ini. Baru seminggu yang lalu, ketika aku hendak dilamar calon suami, kedua orangtua angkatku berterus terang. Kau masih memiliki seorang ibu ya, perempuan yang mengandung dan melahirkanmu. Ia tinggal di sebuah rumah tua, dengan arsitektur lama. Kulacak. Kutemukan rumah yang kokoh, tinggi, dan kusam. Tapi aku tak menemukan Ibu. Rumah itu sudah dijualnya. Dan lelaki muda yang telah membeli rumah Ibu, alangkah tolol dia. Sama sekali tak mau menolongku.
Hanya lukisan tua itu yang menghiburku. Setidaknya, aku sudah melihat wajah Ibu semasa muda. Bermata teduh, dan sekelam lumpur yang dalam. Mungkin lumpur itu menenggelamkan seseorang. Aku tak paham, barangkali lelaki-lelaki terperosok ke dalam lumpur mata itu. Orangtua angkatku tak memberi tahu siapa ayahku. Aku hanya diberi tahu tentang Ibu. Dan Ayah, bahkan namanya pun tak disebutkan. Apalagi wajahnya, sungguh tak kukenal.
Ketika kutemukan rumah tua, sesuai dengan alamat yang diberikan orangtua angkatku, aku merasa lega. Apalagi di dinding ruang tamu pemuda itu terpasang wajah Ibu. Wajah wanita yang menanggung kesepian yang terpendam. Kurasa aku sudah dekat bersua Ibu. Tapi aku cuma menemukan lukisannya. Sama sekali tak kutemukan jejaknya. Mungkin aku masih jauh bersua dengannya.
Mestinya pemuda pemilik rumah itu bisa membantuku. Dia memilih tak mau tahu persoalanku. Ia menutup diri, dan aku telah gagal membuka hatinya. Ia tenggelam ke dalam dirinya sendiri. Dan aneh, bagiku, bagaimana mungkin seorang lelaki yang mencapai usia tiga puluh seperti dia, tanpa istri dan anak, malah berhasrat memenjarakan diri?
Larut malam, tak ada taksi yang bisa kusewa untuk melacak rumah Ibu. Kota kecil ini sungguh sunyi. Kutemui beberapa becak yang diparkir di tepi jalan raya dengan pengayuh yang tertidur di dalamnya. Mereka tak memerlukan penumpang. Ini kota tua. Kota yang mati pada malam hari. Orang tak berani melintas di jalanan. Lampu-lampu pun remang-remang, dan kelelawar berseliweran dengan kepak sayap yang memperpekat sunyi. Langit di atas kota serupa selubung kain yang mudah koyak.
Kudapatkan sebuah hotel kecil, tua, dengan kamar yang melapuk pintunya, aus catnya, dan berdebu. Kecoa berseliweran. Nyamuk berdenging merubung tubuhku. Bagaimana aku bisa tidur di kamar serupa ini? Segelas teh dan sepotong kue yang dihidangkan pun terasa basi. Tak mungkin aku beristirahat dengan suasana jorok macam ini.
Berjalan-jalan meninggalkan kamar hotel, aku ingin menghirup udara malam kota tua ini. Barangkali aku akan menemukan rumah Ibu. Ingin kutebus kehinaanku sebagai perempuan tak beribu, yang hanya mengenal orangtua angkat. Getir rasa hatiku tak mengenal ibu kandung. Aku ingin sebagaimana layaknya seorang gadis yang dipinang calon suami, bisa mempertemukan dengan ibu kandung. Bahkan mungkin bisa mempertemukan dengan kerabatku. Tak hanya orangtua angkat yang bisa kutunjukkan pada keluarga mempelai lelaki.
Tapi kini, di kota tua ini, aku mesti berjalan sendirian mencari Ibu. Kalaupun calon suamiku memutuskan untuk meninggalkanku, karena aku tak memiliki ibu kandung yang bisa kupertemukan dengannya, aku harus rela. Aku tak berhak mencegahnya.
Terus melangkah dalam sunyi malam yang gelisah, sampailah aku di alun-alun, di bawah pohon beringin, di dekat penjual wedang ronde. Seorang lelaki tengah duduk mencangkung. Menikmati kesunyiannya. Aku merasa sangat mengenal lelaki itu. Memang betul. Dialah pemilik rumah tua, yang baru saja kutinggalkan. Duduk seorang diri. Terperanjat sebentar menatapku. Kutemukan lelaki muda itu tengah menyendoki wedang ronde. Hati-hati, pelan sekali, ia meletakkan minumannya, seperti tak pernah mengenalku. Mungkin ia tak mau bertemu dengan siapa pun. Lelaki itu terasing dan memilih jalan sunyi. Ia memang berpura-pura tak mengenalku. Sepasang matanya mengusir, menolak, bahkan memusuhiku.
Aku masih berharap kau mau menemaniku mencari Ibu, pintaku.
Larut malam begini?
Bila tak kuantar, aku tak tahu jalan.
Memandangiku dengan mata yang keropos, lelaki itu mencairkan kebenciannya padaku. Mata itu berkabut. Aku menatapnya dengan hangat. Dan kabut dalam mata itu lenyap. Lama. Lambat-lambat. Matanya mulai bersahabat. Dia tak lagi menyembunyikan muka dariku.
Kami berjalan bersama dalam samar cahaya bulan, tanpa tegur sapa. Dia melangkah dengan suara kaki yang pasti. Tak seorang pun kami temui di jalan. Hanya anjing-anjing buduk yang mengais-ngais sampah, sesekali melintas. Kami melangkah dalam diam. Menyusur jalan lengang, berkelok-kelok, kian jauh dari jantung kota, dan memasuki perkampungan.
Langkah kakiku sudah penat ketika kami mencapai sebuah rumah yang diduga pemuda itu ditempati Ibu. Tengah malam lewat, kami memasuki pelataran rumah tua dengan tembok mengelupas dan berlumut. Gelap. Kusentuh pintunya. Berderit terbuka. Di dalam pun tak terlihat seseorang. Tanpa cahaya. Kelelawar terbang menerobos celah pintu. Laba-laba bergerak menggetarkan jaring-jaringnya.
Dengan cahaya korek api kami menjelajahi seluruh ruangan. Rumah tua ini memang sudah ditinggalkan penghuninya. Debu, lumut, dan lembab udara, menyesakkan dada. Aku berhenti lama di depan pintu sebuah kamar. Barangkali di sinilah Ibu tidur. Kupandangi. Dan kubayangkan Ibu tergolek. Sendiri. Tatapannya menerawang. Kalau Ibu tengah terbaring di kamar ini, tentu aku akan menyempatkan diri bertanya. Kenapa Ibu memberikanku pada orang lain?
Barangkali pertanyaan ini akan menyakitkan Ibu. Tapi ini akan meruntuhkan beban yang menekan bergelayut dalam kepalaku. Toh Ibu kata orangtua angkatku tak memiliki anak selain aku. Apa lagi yang dirahasiakannya dariku?
Mari kita pulang! ajak pemuda itu, pelan.
Pulang?
Ya. Menginaplah di rumahku.
Membayangkan perempuan muda itu, sambil memandangi lukisan yang bergantung di ruang tamu, aku mulai sadar kini, mereka memang mirip. Malam itu ketika perempuan muda itu tidur di kamar depan, aku sempat memandanginya. Aku tersihir. Terkesima. Dialah perempuan dalam lukisan itu. Tubuhnya bergeletar. Aku seperti terisap untuk mendekatinya, lebih lekat, lebih lekat, menyatu ke dalam kesunyian yang mula-mula lembut, dan lambat laun bergelora, mengempas-empaskanku.
Tak kutemukan perempuan muda itu saat aku terbangun. Dia sudah menghilang. Mungkin sudah kembali pulang. Mungkin ia mencari ibu kandungnya. Aku tak berselera melakukan apa pun. Cuma memandangi perempuan dalam lukisan itu. Tiap kali angin berhembus, lukisan itu bergetar. Tapi kali ini dadaku pun bergetar. Tak bisa kuredakan.
Malam ketiga setelah perempuan muda itu menghilang, aku tak kuasa menahan diri. Aku menanti fajar untuk melakukan perjalanan. Telah kuputuskan untuk melacak perempuan muda itu. Tak mungkin kutunda lagi. Aku merasa keropos. Tak ingin kurasakan kekeroposan hati kian menjalar melapukkan seluruh persendianku. Ingin kutemukan rumah tempat tinggal perempuan itu. Ini sungguh mendebarkan, serupa memasuki permainan masa kanak-kanak bersama teman-temanku—sebelum aku direnggut dari dunia itu untuk mengikuti saudara sepupu Ibu. Akan kucari perempuan titisan lukisan di ruang tamu. Biar kuajak dia ke rumahku, dan kutemani mencari ibu kandungnya ke mana pun, sampai ketemu.

Pandana Merdeka, Agustus 2005

Sunday, November 17, 2013

Cerpen Pilihan : Pelajaran Mengarang

Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

***
  
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

***

Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
     
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00

   
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.

***

Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…
                     
Seno Gumira Ajidarma 
Palmerah, 30 November 1991

Saturday, November 9, 2013

Cerpen

Hari-hari tetap seperti biasanya. Matahari masih terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Semilir angin masih menghiasi hiruk pikuk dunia yang semakin tua ini. Kicauan burung tiada henti bersahut-sahutan dari dahan satu ke dahan lainnya.
Matahari perlahan-lahan naik ke puncaknya. Namun, sengatan panas sang mentari itu mampu diredam pohon akasia besar yang sudah sepuluh tahun berdiri tegak. Seorang gadis kecil duduk sambil menggenggam secarik kertas usang. Mata mungilnya masih tertuju pada genggaman sambil sesekali melihat ke langit biru yang terbiaskan cahaya merah matahari. Mulutnya menggumam ucapan kecil nan pelan yang tertiup oleh semilirnya angin dan terbawa jauh ke pelosok negeri.
“Hey!” Sebuah suara dari mulut mungil menyapa gadis kecil berkerudung itu. Gadis kecil itu menoleh dengan senyum terpaksa.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Si gadis kecil tetap tak bergeming. “Aku punya es krim. Mau?”
“Ya,” Jawaban polos keluar dari mulut mungilnya. Mereka lalu terlihat akrab dalam tempo singkat, sambil menikmati es krim.
“Nama kamu siapa?” tanya gadis manis berkulit putih itu.
“Terserah kamu. Kamu boleh panggil aku dengan sebutan apa aja.”
“Ya udah. Aku panggil kamu puteri kerudung, ya?”
“He’em,” jawabnya singkat. “Kalo gitu, aku panggil kamu teman cantik!” Mereka lalu tertawa renyah sambil bersalaman.
Hari-hari terus dilewati sang puteri kerudung dengan gembira. Teman barunya telah membawa keramaian dalam hidupnya. Setiap hari sepulang sekolah, mereka bertemu di bawah pohon akasia yang senantiasa menjadi pelindung mereka. Setiap sore, sang puteri kerudung mengirim surat dengan balon terbang atas saran sang teman cantik. Menerbangkan surat untuk ibunya di sisi Allah.
Sembilan tahun puteri kerudung tinggal di sebuah desa kecil. Sembilan tahun itu pula ia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Hidup dalam kesendirian dan hanya ditemani seorang ayah.
“Ayo terbangin balonnya!” teriak temannya kegirangan. Itu yang mereka lakukan setiap hari, diselingi canda tawa. Mereka lalu bercerita, berlari-larian, dan sesekali menerbangkan cita-cita keduanya di atas awan. Meski berbeda keyakinan, ini tak menjadi penghalang keduanya untuk saling bersahabat. Sang puteri kerudung pemegang teguh islam yang kuat tak segan untuk bermain dan bersahabat dengan seorang protestan.
“Puteri kerudung,” panggil sang teman cantik.
“Ya.”
“Aku mau pergi.”
“Maksud kamu?” tanya gadis kecil itu sambil merapikan kerudungnya.
“Ya, aku harus kembali ke Bengkulu. Tugas ayahku udah selesai. Tapi kamu jangan sedih, aku pasti sering-sering main ke Lampung, kok.”
Keduanya lalu berpelukan, isak tangis mengiringi perpisahan mereka. Si puteri kerudung pun harus rela hidup dalam kesepian lagi, seperti hari-hari sebelumnya.
—
Perjalanan waktu begitu cepat. Sepuluh tahun telah berlalu, namun keadaan desa kecil itu masih seperti sepuluh tahun sebelumnya. Desa yang terpencil, asri, jauh dari keramaian kota. Juga pohon akasia itu, masih tegak berdiri, masih kokoh tanpa penghalang.
Seorang gadis manis duduk bersandar di bawah pohon akasia yang rindang itu. Gamis yang ia kenakan dibiarkan mengenai rumput yang basah oleh embun-embun pagi. Buku agenda tak pernah lepas dari jemarinya yang lentik. Sesekali ia menulis dan membuka laptop pribadinya.
“Assalamu’alaikum Mba’ Nafira,” sapa salah seorang gadis sebayanya. Perilakunya yang kelihatan sopan dan anggun dengan pakaian tertutup membuat senyum di wajah gadis yang disapa Nafira. Jilbab coklat sang gadis tertiup angin pagi yang menyejukkan suasana.
“Nggak nyangka ketemu Mba’ Nafira disini. Saya Marisa,” ujarnya memperkenalkan diri. Nafira menyambut tangan si cantik Marisa. Meski mereka baru bertemu, namun sudah terlihat akrab.
“Saya suka tulisan Mba’ Naf, tulisannya memotivasi. Oh ya sebentar,” Marisa bergegas menuju mobilnya dan mengambil sebuah novel. “Minta tanda tangannya dong, mba’.”
Nafira hanya tersenyum dan melakukan permintaan Marisa, menandatangani novel karyanya.
“Nggak usah terlalu berlebihan lah. Saya cuma manusia biasa, sama seperti Mba’ Marisa. Toh saya bukan artis atau selebritis yang diperebutkan tanda tangannya.”
“Nggak apa-apa lah mba’. Jarang-jarang, loh, ketemu penulis.”
“Jangan panggil mba’, ah. Kesannya nggak akrab,” jawab Nafira yang sejak tadi tak luput dari senyum.
“Iya, deh. Ternyata bener kata orang.”
“Kenapa?” tanya Nafira lembut.
“Nafira itu orangnya ramah, cepet akrab, nggak sombong pula.”
“Biasa aja. Saya juga manusia seperti Anda. Jadi nggak ada istimewa, kok.” Nafira memang selalu merendah. Ia tidak terlalu suka dipuji, karena baginya manusia itu sama dihadapan Allah. Lagipula Nafira bukan berasal dari golongan petinggi, pejabat, atau apapun itu. Ia hanya seorang gadis yang dibesarkan dengan ketulusan kasih sayang, bukan oleh gelimang harta.
“Eh, kok Naf disini? Bukannya tinggal di Jakarta?”
“Ini kampung halaman saya. Dulu saya tinggal disini, dan ini bisa dibilang tempat favorit saya. Saya sering kesini, ke bawah pohon akasia.”
Marisa terdiam, menatap Nafira lamat-lamat. “Oh, ya? Kenapa bisa sama, ya?”
“Anda tinggal disini?”
“Dulu saya pernah disini, tapi nggak terlalu lama. Ikut ayah kerja,” jawabnya.
Nafira terdiam sejenak. “Ayah anda bekerja di Bengkulu?”
“Ya… Kok Naf bisa tau?” tanya Marisa bingung, namun segera ia abaikan. Nafira pun segera menepis fikiran itu. Karena seingatnya, sahabatnya itu berbeda keyakinan dengannya.
“Oh, enggak. Cuma ada temen dari Bengkulu. Sudah, lupain aja,” Nafira mengalihkan pembicaraan. Sejenak hening, mereka terdiam dan menatap ke langit, mengulang memori yang pernah tercipta dahulu.
“Apakah seorang Nafira itu puteri kerudung?” tanya Marisa tiba-tiba.
Nafira menoleh tak percaya. Namun ini seperti meyakinkannya. Seorang sahabat yang telah sepuluh tahun pergi, dan sekarang kembali. Sahabat yang mengubah hidupnya dari kegelapan, yang meyakinkan dan memberi semangat baginya.
“Teman cantik,” ucap Nafira lirih.
“Ya, aku Marisa, teman cantikmu.”
Mereka larut dalam tangis haru. Keduanya berpelukan, melepas rindu yang terpendam. Semilir angin masih seperti dulu, menerbangkan mereka dalam kedamaian.
“Tapi,” Nafira melepas pelukan Marisa. “Maaf, bukannya kamu seorang protestan?”
Marisa terdiam dengan senyum mengembang. “Aku muallaf.”
“Alhamdulillah..”
“Mungkin ini jalan terbaik yang Allah berikan. Aku mendapat hidayah dari sahabatku, sahabat terbaik yang pernah aku temukan. Dan jalan yang Allah berikan, tidak dapat terfikir oleh akalku. Aku masih menganggap ini sebagai kebetulan, kebetulan yang berulang—dan tak pernah habis.”
“Alhamdulillah. Tapi, orang-tuamu bagaimana?”
“Mereka nggak tahu,” jawab Marisa santai. Nafira mengernyitkan dahi.
“Ya, awalnya mereka nggak mengizinkan aku untuk masuk Islam. Tapi aku pergi, aku memutuskan sendiri, dan semoga ini pilihan terbaik yang aku ambil.
Aku mulai mendalami Islam saat aku nggak sengaja beli novel kamu. Aku pikir itu novel motivasi biasa. Tapi ternyata perkiraanku salah. Dari sana aku mulai membeli buku-buku Islam, mencari artikel-artikel tentang Islam, hingga sampai pada keputusan mutlakku.”
“Setidaknya kamu memberi tahu orang-tuamu tentang ini.”
“Aku memang sengaja pergi dari mama-papa, izin untuk dua minggu dengan alasan mencari bahan skripsi,” Marisa tertawa kecil.
“Itu berarti kamu membohongi orang-tua? Apalagi ini bukan hal yang main-main, Marisa. Kamu tahu Islam, kan? Islam membenci kebohongan.”
“Ya, aku salah. Maaf.”
“Minta ampun lah pada Allah dan kalau bisa secepatnya pulang,” ujar Nafira dengan nada menasehati.
“Ya, deh. Aku besok pulang, aku selesaikan semuanya. Aku janji,” Marisa mengangkat kelingking kanannya. Nafira lekas mengangkat jarinya, menyatukan dengan Marisa. Keduanya lalu tertawa riang.
Sebuah perjalanan dua anak manusia. Dan kita percaya bahwa sahabat selamanya tetap sahabat. Sahabat yang sejati, persahabatan yang abadi, akan menyatu dan beterbangan seiring terbangnya daun akasia terbawa angin. Angin yang membawa mereka berjalan ke tempat abadi, terbang menuju padang keabadian yang tak akan pernah lenyap termakan waktu.

Cerpen Karangan: Sofia Octaviana

Situs Ratu Baka atau Candi Boko (bahasa Jawa: Candhi Ratu Baka ) adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan ya...