Sunday, July 23, 2023

Roman Cinta dan Sepi II

 


Chapter II

Ia Muncul Lagi

 

Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-kata. Lelaki yang beberapa tahun lalu sempat hadir dalam hidupku sebagai khayalan. Lelaki yang saat itu terasa sangat nyata namun tiba-tiba menghilang entah kemana. Menyisahkan tanya yang tak terjawab dalam diriku. Rel kereta memanjang seperi fikirannya yang jauh, tak terlihat ujungnya olehku. Dari kejauhan, aku hanya bisa memandangnya, meski ada dorongan dari dalam hati untuk menghampirinya, namun langkahku kaku. Aku tak dapat beranjak dari tempatku.

Lalu, disebelahku muncul ayah. Dan segera kupeluk Ayah dengan erat. Ayah mengelus-elus kepalaku seperti kecil dulu. Dari mataku, tiba-tiba ada yang mencair menjadi air. Mungkin itu gunung es, atau semacam kesedihan, kerinduan dan kenangan yang lama beku kini mencair karena kehangatan tubuh ayah.

“aku dan ibu merindukanmu, yah!” masih memeluk

“Ayah juga begitu, Sha (Alisha). Ayah rindu kalian.”

lama aku tak lepas pelukanku pada ayah, seandainya ibu ada disini mungkin ibu akan melakukan hal yang sama. diam-diam, selama ini ibu selalu merindukan ayah. Namun ibu selalu menyembunyikan perasaan itu dariku karena Ibu tidak ingin terlihat sedih di depanku.

“apa yang sedang kau alami Sha (Alisha)?”

“aku kesepian Yah (ayah). Aku merasa kesepian. Dan ini menyiksa”

“bersabarlah ...”

Tiba-tiba, kereta datang dari kejauhan dengan lampu sorotnya yang semakin dekat semakin terang. lalu, lelaki yang ada di ujung peron itu berdiri. Tak lama setelah lelaki itu masuk, kereta kembali bergerak meninggalkan peron. Sesaat sebelum hilang, lelaki itu sempat memandang kearahku dari balik jendela dengan tatapan yang sendu.

“Lish!”

Suara ibu membuatku terbangun dari mimpi. Mimpi yang singkat, mimpi yang aneh, mimpi yang terasa seperti nyata.

“Lish, cepat bangun, ibu sudah siapkan sarapan” terdengar suara ibu dari dapur.

“baik bu” jawabku, masih dengan keadaan setengah mengantuk. Sebelum turun, aku sempat melamun karena teringat kembali mimpi tadi, Sosok Ayah, dan seorang lelaki.

Ya, seorang lelaki ...

Di luar, hujan berlangsung deras pagi itu. suaranya yang merdu membuatku senang, sebuah kebahagiaan kecil bagiku mendengar suara hujan. Di meja makan, aku dan ibu menyantap roti bakar dan telur dadar. Serta segelas susu putih. Kami makan tanpa saling bicara, itu lah kebiasaan aku dan ibu, sarapan tanpa bicara. Namun setelah sarapan, biasanya ibu banyak bicara karena memastikan apakah aku lupa sesuatu atau tidak sebelum berangkat kerja. setelah aku mentandaskan segelas susu, aku memulai pembiacaraan.

“Bu, hari ini ibu tidak usah mengantarku”

“apa kau cuti?”

“ya hari ini aku cuti. Mungkin nanti aku akan pergi ke toko buku di pusat kota.”

“mau diantar sampai mana nanti?”

“tidak usah bu, aku naik angkutan umum saja ke terminal”

“Baiklah. Jika kau akan berangkat, payungnya akan ibu siapkan di depan pintu”

“terimakasih Bu”

Suara hujan yang tidak terlalu deras berbaur dengan suasana lengang pagi hari yang tenang. Seperti bunga yang mekar, hujan menarik hatiku yang selama ini tertutup. Aku selalu membukakan pintu untuk hujan. Lewat kaca jendela, aku mengamati rintik-rintiknya yang jatuh dikaca jendela. Pagi ini, aku mengambil cuti sampai dua hari kedepan. Entah mengapa, tiba-tiba setelah bangun tadi, perasaanku sangat sensitif. Mungkin karena mimpi tadi. Seolah-olah aku menangis dalam diriku sendiri. Bertemu kembali dengan ayah terasa sangat nyata. Tapi rasanya mimpi itu bukan tentang pertemuanku dengan ayah saja, ada seorang lelaki yang aku dan ayah perhatikan di peron itu. Tapi aku tidak patut membesar-besarkan mimpi. Bukankah mimpi hanyalah bunga tidur?

Hari pertamaku cuti, aku ingin berjalan-jalan mengelilingi kota. Juga mungkin nanti aku akan naik kereta menempuh rute dulu saat aku masih bekerja di tempat lama. Ya, setelah beberapa bulan halusinasi tentang lelaki itu tidak terjadi lagi, aku di mutasi ke tempat lain sehingga rute perjalanan kerjaku berubah. Tak terasa, sudah 3 tahun Rute terbaru kujalani.

Menikmati suasana kota dan kesendirianku, keduanya rasanya memiliki persamaan. Jika kota mengalami kesepian diantara keramaiannya, aku mengalami keramaian diantara kesepianku. Kota mengalami kesepian karena keramaian orang-orang yang ada didalamnya kebanyakan bergerak bukan untuk kota itu sendiri. mereka bergerak untuk diri mereka masing-masing, kebanyakan mereka tidak peduli dengan kota itu sendiri. sedangkan aku, aku mengalamai keriuhan dalam kesepianku karena ketidakhadiran sesesorang yang tak henti-henti membuat pertanyaan dan menciptakan harapan-harapan serta penantian panjang dalam diriku yang akhirnya menjadi kegaduhan dalam diriku.

Seketika, aku teringat dengan seorang lelaki yang beberapa waktu yang lalu tiba-tiba menghilang. Atau mungkin lelaki yang hanya ilusiku saja barangkali. Pertentangan antara logika dan imajinasi itu nyatanya tidak pernah selesai. Aku merasa sedih karena itu. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa selama aku bertemu dengan lelaki yang tak kukenal namanya itu hanyalah halusinasi saja. Selama ini aku sudah berusaha menyembuhkan diriku dengan pergi beberapa kali ke psikolog. Namun hasilnya tetap sama, aku tidak dapat mengalahkan imajinasi itu. Sehingga keyakinanku bahwa lelaki itu adalah hal yang nyata tetap ada.

Itu juga yang melatarbelakangi aku mengambil cuti tiga hari kedepan ini. Aku ingin menenangkan diriku dengan berjalan-jalan dan singgah di tempat-tempat yang kusukai. Pertama-tama aku mungkin akan berkunjung ke museum-museum yang ada di kota, lalu aku mungkin akan mempir ke sebuah minimarket dan toko buku, masuk ke stasiun dan naik kereta di luar jam kerja. tentu suasananya beda dengan kereta di jam kerja yang biasanya kunaiki. Aku ingin merasakannya, suasananya pasti menyenangkan. Apalagi jika hujan tetap turun hingga siang nanti, pasti lebih menyenangkan. Pintaku dalam hati

Setelah selesai berdandan seadanya dan mengenakan jaket parka abu, aku menemui ibu dan mencium tangannya. Setelah itu pamit dan menutup pintu kembali, benar saja, selain menyiapkan bekal dan vitamin buatku dimeja, ibu juga telah menyiapkan payung. Dan aku mengenakannya saat pintu kubuka. Bagiku, payung adalah penghubung antara aku dengan sahabat yang bernama hujan. Mengenakan payung, bukan berarti aku menghindari hujan, tetapi dengan payung, aku dapat menikmati hujan, menikmati suasana yang diciptakannya di bawah guyurannya. Itulah asumsi yang kumiliki tetang menikmati hujan dengan berpayung.

Setelah sampai di jalan raya, dan mendapatkan angkutan kota ke terminal, aku menutup payung sementara, mengganti cara menikimati hujan dengan melihatnya dari balik jendela angkot. Sesampainya di terminal aku sambung dengan bus Transjakarta arah harmoni, dari halte harmoni aku transit ke bus arah Balaikota. di halte Monas, aku turun. Tiba pada tempat pertama, Musem Nasional. Dengan hujan masih berlangsung.saat keluar halte aku membuka kembali payung untuk menyeberang. Dan sesampainya di lobby Museum Nasional, aku menutupnya lagi. lalu membeli tiket masuk. di lantai dasar, ada miniatur tentang kehidupan purba, dan jenis-jenis fosil manusia purba yang ditemukan di nusantara. Sesekali aku mengambil foto dengan kameraku.

Setelah puas berkeliling dan mendapat beberapa gambar, termasuk patung gajah pemberian dari kerajaan Thailand yang ada diluar Museum, aku keluar dan bergegas ke tujuan berikut. Aku membuka payung lagi dan berjalan di bawah hujan, menekan tombol dan menunggu Pelican Crossing berwarna hijau, saat kendaraan-kendaraan berhenti di belakang zebracross dan Pelican Crossing berwarna hijau dengan suara hitung mundurnya yang keras tiba aku lekas menyeberang ke halte Transjakarta. tidak untuk naik, aku kembali menekan tombol Pelican Crossing untuk menyeberang ke Area trotoar Kawasan Monumen Nasional (Monas) yang ada di seberang. Ya, tempat selanjutnya adalah Monumen Nasional. Aku ingin ke museum yang ada di cawannya dan akan naik ke puncaknya untuk melihat suasana jakarta saat hujan dari ketinggian. Tidak ada banyak orang yang berkunjung ke Monas saat hujan turun. Di tamannya pun tidak ada yang duduk-duduk seperti biasanya saat hari cerah.

Di dalam Museum Monumen Nasional, ada beberapa orang yang sudah tiba lebih dulu. Ada yang duduk-duduk, mungkin sudah selesai dengan kunjungannya dan sedang menunggu hujan reda diluar sana. sesekali mereka naik keluar cawan untuk melihat keadaan. Aku setelah selesai melihat semua replika yang ada, lekas ke lift menuju puncak. Di dalam lift ada petugas khusus yang tugasnya menemani pengunjung di dalam lift. Di dalam lift Cuma ada beberapa angka. Dan tombol tutup dan buka.

Saat ada di puncak, aku mendapati pemandangan yang sangat indah. Pemandangan hujan dari ketinggian kurang lebih 132 meter. Angin yang lebih terasa dan gemuruh hujan yang lebih keras terdengar, seperti nyanyian angin diatas bukit. Haha, sial, aku bahkan tidak pernah naik keatas bukit. Aku hanya mengimajinasikannya saja dari bacaan novel yang pernah kubaca.

Dengan teropong besar yang tersedia, aku dapat melihat Pemandangan kota yang basah diguyur hujan, buram oleh hujan, menjadi hal menarik tersendiri bagiku. Hujan seolah-olah ingin memandikan kota dari kotoran-kotoran yang melekat padanya. Menjadikan genangan-genangan di jalanannya, dan menjadikan arus deras di sungai-sungai yang melintas di ibukota. Dan di ketinggian ini, aku tiba-tiba merasa khidmat pada keheningan. Lantas aku memejamkan mata dan berdoa.

Dalam doa itu, aku berharap seseorang datang bukan sebagai Halusinasi, tetapi sesuatu yang nyata...

Masjid istiqlal yang megah terlihat kecil dari atas sini. Lalu lintas di jalan medan merdeka pun seperti lalu lalang semut, bergerak tanpa suara. Yang ada hanya suara hujan dan angin dari atas sini. Lalu suara kereta sayup-sayup terdengar, melintas di sebelah istiqlal dengan rel layangnya.

Puas dengan pemandangan ibu kota dari ketinggian kurang lebih 132 meter, aku kembali turun dan meninggalkan area Monas. Aku kembali memasuki halte bus, dan menunggu di pintu koridor arah sebaliknya, arah Harmoni. Di depanku, juga menunggu seorang perempuan paruh baya dengan tongkat, tenang menunggu kedatangan bis. Tenang melihat hujan yang turun dengan damainya, tak ada yang mampu mencegah rintiknya. Kita mungkin dapat berlindung dari basahnya, namun kita tidak dapat menghindar dari batin hujan yang selalu mengundang rindu.

Aku Rindu halusinasi itu ...

Jika memang hanya halusinasi, tidak apa-apa. Aku ingin halusinasi itu datang lagi ...

Ah! Semenyedihkan ini kah aku ?

 

Saat Bus Transjakarta datang, aku membantu perempuan paruh baya itu memasukkna langkahnya ke dalam bus. Dan petugas keamanan Bus langsung mencarikan kursi dari penumpang lain yang mau merelakan kursinya untuk prioritas. 10 detik kemudian, bus kembali melaju menuju halte terakhirnya. Aku tidak turun di halte terakhir. Di halte harmoni aku turun dan naik Bus Transjakarta arah Blok M. Aku ada janji dengan seorang teman di kedai kopi waralaba sekitar Sarinah.

Kota yang basah oleh hujan akan menjadi pemandangan yang sangat indah, dan penuh lirih. Genangan dan basah hujan yang menempel pada setiap bagian di kota ini adalah pelipur. Aspal yang jadi lebih ramah saat basah, lampu lalu lintas yang seakan tersenyum saat basah , tiang listrik dan kabel-kabel yang basah seakan pohon-pohon dan rerantingannya yang sedang bersemi, zebra cross yang basah dan putih mengkilap terlihat lebih hidup, pembatas jalur pada jalan yang basah jadi lebih nyata, juga wiper-wiper pada mobil yang melambai-lambai bagaikan anak-anak yang kegirangan hujan turun. Padahal didalam mobil, dibalik kacanya, seseorang mungkin menggerutu hujan turun dan berlangsung lama.

Dihalte Sarinah, akupun turun, membuka kembali payung dan meneruskan langkah-langkahku  di bawah hujan yang masih turun kekanak-kanakan. Hujan masih gembira dengan rintik-rintik yang terdengar merdua, terdengar seperti nyanyian yang terlahir saat perpisahan diingatkan kembali oleh pertemuan lalu melahirkan kebahagiaan yang bercampur dengan air mata. Air mata adalah pisau yang memiliki dua mata. Kebahagiaan dan kesedihan

Aku lantas menyeberang dari arah Champ Resto Indonesia ke arah Starbucks di seberangnya yang dipisahkan oleh Jalan Wahid Hasyim. jalanan sepi dari pejalan kaki. Saat menyeberang, hanya ada aku yang mengenakan payung. Pejalan kaki lainnya terlihat memadati tempat-tempat berteduh sambil memesan taksi online dengan Smartphone nya.

Saat aku sampai di kedai dan membuka pintu masuk,, Mirari telah duduk di sebuah meja yang masih kosong. nampaknya, ia belum memesan minuman karena menunggu aku. Sekian lama menghilang, akhirnya Mirari kembali muncul lagi. beberapa hari yang lalu ia menelponku dan meminta bertemu. Kebetulan, aku ada cuti dan kami membuat janji hari ini.

Untuk pertemuannya sendiri, aku tidak tahu apa tujuan Mirari, katanya Ia hanya ingin  bertemu saja denganku, sudah lama tak bertemu katanya.

“apa kabarmu Lish?” Sapa Mirari saat aku baru saja duduk

“aku baik, semoga kau juga baik”

Kemudian Mirari menyodorkanku daftar menu. Aku memilih salah satu minuman dan diikuti Mirari. Mirari memintaku sekalian memesan makanan karena ia ingin juga makan siang bareng denganku. Namun aku menolak. Aku mengatakan padanya bahwa aku punya bekal sendiri. Akhirnya hanya Mirari yang memesan makanan. setelah itu Mirari bangkit dan menuju meja pelayan untuk menyampaikan pesanan kami. Dan nampaknya, Mirari juga langsung membayarnya.

Mulanya kami membicarakan hal-hal yang klise dan mungkin basa-basi sambil menunggu pesanan kami datang. Setelah pesanan datang, aku mengeluarkan bekal yang dibuatkan ibu serta sebutir Vitaminnya.

Setelah Mirari selesai dengar burger besarnya, aku selesai dengan Bekal dan vitaminku, kami mulai masuk ke pembicaraan yang lebih terarah. Lebih serius.

Mirari mulai membahas tentang kepergian dirinya yang dulu tiba-tiba. Mirari pergi ke Belanda, rumah neneknya saat itu karena ingin melarikan diri. Namun saat aku bertanya lebih rinci mengenai hal itu, ia tidak bersedia menjelaskannya. Mirari hanya mengatakan ia hanya ingin melarikan diri dari sebuah rasa takut yang menimpa dirinya.

“walaupun pada akhirnya, ketakutan itu tidak pernah terjadi. Dan aku seharusnya tidak pernah melarikan diri”

Meski tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mirari, aku berusaha menanggapinya dengan kalimat yang umum.

“yang sudah terjadi tak perlu di sesali. Lebih baik menatap kedepan”

Tidak menanggapi. Mirari hanya tersenyum sinis padaku. Seperti sedang menertawakan sesuatu.

Karena kepergiannya itu, Mirari kehilangan pekerjaannya dan kini masih belum memiliki pekerjaan. dari penuturan Mirari, Ayahnya sempat meminta Mirari untuk bantu-bantu di perusahaannya, namun Mirari menolak, katanya Mirari ingin menghabiskan waktu dulu dengan bersantai dan lebih banyak beristirahat. Mirari banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman EO nya.

lalu Mirari beranjak ke topik perbincangan lainnya. Mengenai Erwin. Sampai saat ini, menurut Mirari Erwin masih belum dapat mencintainya sungguh-sungguh. Erwin masih seperti dulu. Seperti masih berharap kepada seseorang. Dan perbincanganpun mulai terasa berat.

“Jika saat ini Erwin masih berharap kepadamu, apa pendapatmu?”

“Aku tidak peduli” jawabku, ketus.

“tapi ia tetap peduli. Ia tetap berharap padamu selama Kau masih sendiri seperti ini”

Aku mulai membaca arah pembicaraan ini. Mirari masih khawatir dengan Erwin yang menurutnya masih mencintaiku. Aku sendiri, tidak pernah menyukai Erwin. Sejak dulu Erwin sudah kuanggap teman dan tidak lebih dan bahkan sampai sekarang.

Lalu seorang pelayan membunyikan bel dan menyebutkan nama Mirari, pesanan kami telah selesai dan tersedia. Mirari pun bangkit dan mengambil minuan kami. Sesaat, ada jeda diantara perbincangan yang mulai canggung itu.

Diluar, hujan masih berlangsung, seperti urung reda...

“oh iya. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu Lish” Ujar Mirari, mengganti topik pembicaraan yang mulai tidak menyenangkan tadi. aku pun menunggu apa yang ingin Mirari katakan.

“masih ingat terakhir kali kita bertemu malam itu?”

“Ya, aku ingat. 3 (Tiga) tahun yang lalu. Kenapa Mir?”

“waktu itu aku membeli dua kopi. dan satu kuberikan kepadamu. Lalu apakah kau meminum kopi itu?”

“Oh kopi itu. Ya aku ingat. Apa karena sekarang kita sedang minum kopi kau jadi membahas itu?”

“haha... ya mungkin. Aku jadi teringat lagi malam itu. Aku membelikanmu kopi namun kondisinya masih panas. Dan sampai aku turun dari kereta kau belum meminumnya. Nah, yang ingin aku tanyakan, apakah setelah itu kau meminumnya?”

Kenapa tiba-tiba Mirari menanyakan itu. Aku tidak mungkin mengatakan aku membuang kopi itu tanpa sempat mencicipinya. Aku sangat merasa bersalah karena itu, seperti aku tidak menghargai pemberian Mirari. Namun saat itu, ketika aku ingin meminum kopi dari Mirari aku teringat pesan lelaki itu, lelaki yang muncul dari halusinasiku itu di malam sebelumnya. dimana ia memintaku untuk tidak minum kopi. Dan bodohnya, aku menurutinya. Aku membuang kopi pemberian Mirari saat itu tanpa pernah mencicipinya. Saat itu aku masih tidak tahu kalau ternyata lelaki yang sering aku temui di stasiun adalah hanya halusinasiku saja.

“jika aku bisa memutar waktu, aku ingin melakukannya” jawabku, singkat. Membuat Mirari menarik badannya dan kini bersandar di punggung kursi.

“jadi benar kau tidak meminumnya sedikitpun.”

“maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk ...”

“kau tidak perlu minta maaf Lish. Aku memang kurang baik dimatamu bukan. Bahkan pemberianku pun tidak layak untukmu” ujar Mirari Sinis, dan raut wajahnya tiba-tiba berubah.

“Bukan Mir, bukan seperti itu”

Setelah menghela nafas dalam, Mirari nampak seperti menenangkan dirinya sendiri. Pada akhirnya Mirari tidak mempermasalahkannya lagi. Entah dia memakluminya atau hanya tidak ingin mempermasalahkannya saja.

Setelah itu Mirari banyak cerita, dan aku lebih banyak mendengarkan. Mirari bercerita tentang kisahnya selama ini dengan Erwin yang seolah jalan di tempat. Lalu tentang orangtuanya yang mulai menanyakan masa depannya dan juga tentang idenya untuk membuka sebuah usaha. Sesekali aku mengomentari atau sekedar memberi pendapat saat Mirari meminta. Rencana kedepannya Mirari akan coba membuka usaha sendiri.

Mirari mengatakan bahwa ia mungkin akan membuka sebuah toko buku yang di dalamnya terdapat Coffee Shop sekaligus. Dan dia perlu bantuanku untuk mengelola yang bagian bukunya. Menurutnya, aku termasuk orang yang suka baca buku dan mungkin akan bisa membantu niatnya itu. Aku sendiri tertarik dengan itu, namun aku tidak dapat meninggalkan pekerjaanku. Mendengar itu, Mirari malah berani menawarkan gaji yang lebih besar dari tempat kerjaku yang sekarang. Meski begitu, aku tidak dapat mengiyakannya hari itu juga. Kukatakan padanya bawa aku butuh waktu dan melihat perkembangan rencana tersebut dulu sebelum memutuskan.

Sejam telah berlalu, kami akhirnya beranjak dari kedai tersebut. Mirari menawarkan aku untuk pulang bareng dengannya menggunakan mobil, kebetulan ia sedang membawa mobil. Katanya sedang malas menggunakan transportasi umum di hari hujan seperti ini. aku jelas menolaknya, bagiku hujan turun jauh lebih menyenangkan dari hari cerah yang biasanya.

Sampai ketika kami akan sama-sama bangkit dari kursi, Mirari mencetuskan sebuah pertanyaan.

 “apa yang menyebabkan kau tidak minum Kopi pemberianku saat itu? Kali ini aku minta jawaban yang jujur darimu. Aku mengenalmu. Kau bukan tipe orang yang tidak menghargai pemberian orang lain.”

“percaya atau tidak, sehari sebelumnya ada seorang lelaki yang memintaku untuk tidak minum kopi”

“Lelaki ...?” jelas terlihat keraguan pada Mirari, namun itulah kenyataannya. Sesuai yang aku katakan.

“Ya, sebelum hari itu, setiap selasa malam aku bertemu dengan seorang lelaki di stasiun. Kami sering bersama menunggu jemputan di peron dua”

“Siapa dia, apa dia ?”

“Namun ternyata itu hanya halusinasiku saja. Lelaki itu tidak pernah ada.”

“Halusinasi?” Mirari nampak semakin bingung

“Ya. Ia hanya ada di imajinasiku saja. Bodoh bukan?”

“tetapi ...” belum sampai Mirari meneruskan kata-katanya, aku segera memotongnya. Dengan rasa malu yang teramat, aku mengakui semua kekhawatiranku.

“kau pasti terkejut. Aku yang terlihat baik-baik saja, ternyata jiwanya seperti ini. memiliki gangguan jiwa sampai-sampai berhalusinasi dan bahkan menuruti permintaan halusinasi”

“jadi, hanya halusinasi?” ujar mirari dengan suara yang masih terdengar penuh ketidakpercayaan

“Aku duluan!. Maaf tak bisa bareng denganmu”

“kau mau kemana  Lish?”

“aku ingin jalan-jalan sebentar ke Book Store. Kau duluan saja”

Aku pun beranjak dari tempat duduk. Bergegas meninggalkan kedai. Sesaat sebelum aku membuka pintu keluar, Mirari memanggilku, lantas ketika aku berhenti ia menghampiriku. Mirari menatapku, matanya berkaca-kaca, aku fikir ia akan mengatakan sesuatu. Namun tak satupun kata keluar dari mulut Mirari. Ia malah memelukku erat-erat. Sangat erat sehingga aku merasakan sesak.

Dan yang tak kuduga, ada isak tangis beberapa saat ketika Mirari memelukku. Sepertinya Mirari sedih dengan keadaanku. Mungkin ia sedih dengan kondisiku dan halusinasi yang kualami. Ia mungkin ingin mengatakan sesuatu namun memilih untuk menahannya karena ia bukan psikolog. Jadi apapun yang akan Ia katakan padaku mungkin tak akan berpengaruh terhadapku. Jadi ia lebih memilih untuk diam dan hanya bisa memelukku saja.

Meski begitu, aku sangat bahagia karena Mirari mengkhawatirkanku sampai seperti ini. Aku senang karena ada yang peduli padaku ternyata.

“terimakasih telah berusaha mengerti dan percaya dengan ceritaku tadi” tidak ada tanggapan dari Mirari, ia terus memeluk erat diriku. dan meminta maaf sambil menangis. Entah maaf untuk apa. mungkin maaf untuk rasa bersalahnya karena tidak dapat membantuku untuk lepas dari keadaan jiwaku yang seperti ini.

Ya, mungkin saja ...

Dipersimpangan itu, Aku menunggu lampu lalu lintas berwarna merah, lampu penyeberangan berwarna hijau. Saat itu pejalan kaki di sekitarku tidak ada. Hanya aku dan seorang lelaki yang berada di seberang sana yang juga mengenakan payung berwarna transparan. Sementara lalu lintas dipenuhi sebagian besar oleh mobil-mobil yang terus melaju cepat dibawah rimis hujan. Di atas, langit mendung membuat perasaan lebih sensitif, cendrung sedih, Cendrung sendu.

Saat lampu merah akhirnya tiba, dan kendaraan-kendaraan telah berhenti sepenuhnya di belakang garis-garis putih (Zebra Cross), aku melangkah perlahan ke depan. Di seberang, seorang lelaki secara bersamaan melangkah maju.

Aneh, saat itu hanya kami saja yang menyeberang, orang-orang lain tidak ada yang menyeberang. Mereka ada di halte menunggu bus kota dan taksi. Yang lainnya di pinggir trotoar sedang menelpon dengan payung. Dan lebih banyak lagi di dalam gedung-gedung yang meski hujan membuat udara dingin, mereka tetap menghidupkan mesin pendingin ruangan di kantor-kantor dan store mereka.

Saat berada hampir di tengah-tengah, aku sedikit menaikkan payungku yang tadi sempat menutupi mataku saat menunggu lampu berubah merah. Saat itu, secara tidak sengaja aku melihat wajah lelaki itu dari balik payung transparannya. Pandangan kami pun tiba-tiba saling bertemu.

Untuk beberapa detik, aku tidak dapat berpaling darinya. Aku tiba-tiba berhenti di tengah jalan, begitu juga dengan lelaki itu. Kini kami berdiri saling membelakangi, aku terpaku dan hanya diam di tengah-tengah jalan. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Tubuhku kaku tak bisa bergerak. Sementara itu, waktu penyeberangan bagi pejalan kaki semakin berkurang, angka digital pada lampu penyeberangan semakin mengecil bilangannya. Menunjukkan bahwa waktu semakin sedikit tersisa bagi pejalan kaki yang menyeberang.

Saat sebuah percik hujan yang tertiup angin terasa menyambar pundakku, aku ingat sesuatu. Aku menyadari sesuatu. Sosok yang selama ini kucari, sosok yang aku kenal, lelaki yang ada di belakangku, yang sedang menyeberang denganku. Ia adalah lelaki itu, lelaki yang ada di halusinasiku.

Jelas,

wajahnya sangat jelas kukenal.

Wajah yang selama ini kurindukan, setelah lama hilang kini tiba-tiba muncul dibawah hujan. Dibawah langit dan kota yang dingin oleh cuaca. Tak terasa, air mataku tiba-tiba menetes, jatuh ke kakiku dan bercampur dengan tetesan hujan. Rasa kesepianku selama ini tiba-tiba terasa hilang. Kebahagiaan tiba-tiba mekar di dalam dadaku.

Saat itu juga, waktu rasanya berhenti.

Aku tak bisa bergerak dan hanya diam karena perasaan yang campur aduk berlangsung dalam diriku. Aku lihat ke arah lelaki itu yang kini telah berada di seberang, di tempatku tadi. Benar, tidak ada yang salah, itu benar lelaki itu. lelaki yang selalu melihat kelangit malam ketika di peron. Lelaki yang selalu menemaniku saat menunggu jemputan di stasiun disetiap selasa malam dulu. Lelaki dengan rambut lurusnya yang tak tersisir, dan mata sayu nya. Jelas bahwa itu adalah lelaki itu, lelaki yang tak kuketahui namanya.

Sesaat aku kembali ragu apakah sosok lelaki itu hanya halusinasi saja atau kenyataan. Kali ini aku sangat yakin bahwa lelaki itu adalah sosok yang nyata. Kini aku melihatnya langsung, ia ada di depan mataku. Muncul tiba-tiba di bawah hujan. Dan air mataku, setetes demi setetes jatuh bercampur dengan hujan cuaca sebagai sendu.

Seketika, aku teringat dengan mimpiku semalam ...

kereta datang dari kejauhan dengan lampu sorotnya yang semakin dekat semakin terang. Lalu, lelaki yang ada di ujung peron itupun berdiri. Tak lama setelah lelaki itu masuk, kereta kembali bergerak meninggalkan peron. Sesaat sebelum hilang, lelaki itu sempat memandang kearahku dari balik jendela dengan tatapan yang sendu sebelum akhirnya ia menghilang di ujung rel bersama kereta.

aku bahkan tidak sadar bahwa lampu hijau telah kembali redup dan berganti dengan lampu kuning kemudian merah. Kendaraan-kendaraan kembali melaju. Aku kesulitan untuk meneruskan langkah. Sayup-sayup terdengar suara klakson dari mobil-mobil yang menungguku. Suaranya lebih mirip bisikan.

Setetes hujan tiba-tiba berhasil menyelinap melewati payung dan jatuh di dahiku, hanya setetes, membuatku kembali sadar. Saat kulihat, mobil-mobil itu telah bersiap menabrakku. Bahkan suara klakson mereka terus memakiku tak henti. Aku melanjutkan langkahku ke seberang setelah beberapa mobil tak henti mengklakson saat melewatiku karen kesal. Tapi aku seolah tidak mendengarnya. Perhatianku hanya terpaku pada sosok lelaki di seberang sana.

Namun jalan kembali sibuk dan sebuah bus tingkat lewat di hadapanku lalu berhenti tepat di depanku karena macet. Ketidaksabaran tiba-tiba melandaku. Aku ingin melihat lelaki itu, rasa resah semakin tidak karuan dan aku ingin bus di hadapanku ini kembali jalan agar aku bisa melihat lelaki itu. Melihat kearah mana ia pergi, melihat lagi seperti apa tatapannya, apakah ia mengenaliku atau tidak.

Dan sepanjang jalan yang kutempuh setelahnya, sebanyak langkah demi langkah yang kuciptakan setelahnya, pada akhirnya aku tak bisa menghapus wajah lelaki itu. tidak dapat menghapus ingatan saat-saat bersamanya dulu. Argumen tentang lelaki itu yang selama ini coba kubangun dan kuyakini sebagai halusinasi belaka kini mulai runtuh. Aku mulai meragukan bahwa itu hanya halusinasi karena hari ini aku benar-benar bertemu dengannya lagi. Setelah tiga tahun menghilang

Namun, mengapa lelaki itu tidak berbalik dan menghampiriku?

Mengapa lelaki itu tidak mengatakan apa-apa setelah sekian lama tidak bertemu

Mengapa lelaki itu tidak berusahan menunggu bus di depanku berlalu, kenapa ia hilang begitu saja saat bus yang menghalangi pandanganku telah pergi.

Dan mengapa ia muncul tiba-tiba di siang hari dibawah hujan, di hari selasa yang seharusnya hari kerja ...

Sepanjang perjalanan ke toko buku aku tidak dapat menyingkirkan fikiran-fikiran liar tentang kejadian di penyeberangan tadi. dibawah hujan, di dalam lindungan payung aku menatap langit yang mendung, hujan membasahi seisi kota. Membasahi kabel-kabel dan tiang listrik, atap-atap halte bus dan wajah trotoar-trotoar yang sepi, seperti diriku yang entah akan seperti apa kedepannya setelah hujan reda.

Di dalam toko buku aku sibuk membaca judul-judul buku yang dipamerkan di rak-rak depan sebagai cetakan baru. Aku berpindah dari satu rak ke rak lain dan terus membaca judul buku lalu meninggalkannya, seperti aku sedang mencari ketidakpastian yang disebabkan dari dalam diriku. saat ini, aku seperti kehilangan arah. Diluar hujan masih berlangsung, di dalam toko buku, orang-orang seperti kehilangan kata-kata pada lisannya. Mereka lebih banyak membatin dalam membaca kata-kata yang ada dalam setiap buku. Begitulah cara membaca di dalam toko buku atau bahkan perpustakaan. Disini seseorang harus membaca sendiri untuk bisa mendapatkan pengetahuan atau cerita yang mereka cari. Seseorang yang hanya ingin mendapat mentahan cerita atau penjelasan bukan disini ruangnya.

Aku mengambil sebuah majalah sastra terbitan bulan ini. Aku membaca hanya puisi-puisinya. Lembar demi lembar kulalui dengan hujan yang tetap berlangsung di luar bahkan di dalam hatiku. Detik terus berlangsung di jam dinding bahkan di detak jantungku. Samar-samar, lirih bernyanyi dari kesepian diriku dan menyamar sebagai gumam lembut, kadang juga dalam hela nafas yang sengaja ku bunyikan. Seperti baru saja aku melalui sesuatu yang melelahkan.

Ya, kesepian itu melelahkan.

Kurasa Rindu ini Mimpi

Aku terlelap, lupa membuka mata

Di jarum jam aku sulit membedakan mana detik mana rasa sakit

 

Mencintai itu menghidupkan sukma

Kita akan sering berbicara dengan diri sendiri di beranda sepi

Dan bunga-bunga bermekaran tanpa menunggu musim semi

Lalu percakapan tumbuh sebagai taman

Dan puisi sebagai pohon-pohon yang teduh

 

Namun jika hanya sepihak

Mencintai adalah cara paling manis untuk mati

Lalu bertahan adalah kubur dengan nisan tanpa nama

Dan senja akan melayatnya setiap kali, tanpa jingga ...

 

Hydn

 

Usai kubaca, kututup majalahnya dan segera kumenuju kasir. Dalam antrian, aku bicara pada diriku sendiri bahwa apa yang terjadi hari ini mungkin nyata mungkin tidak. Meski hati kecilku selalu mengatakan bahwa semua tentang lelaki itu adalah nyata, namun aku tidak berani untuk menyimpulkan hal itu. Ketakutan-ketakutan selalu muncul, dan membingungkanku. Kalaupun ia benar-benar ada, apakah ia mengenaliku? apakah ia peduli denganku? Lalu, apakah ia ...

mencintaiku?

dengan hanya lelaki itu di fikiranku, aku menangis tanpa suara saat berhadapan dengan petugas kasir dan mesin scan barcode nya sehingga terjadi jeda cukup lama. Lalu Aku mengusap air mata yang menetes dengan tangan kananku, majalah kuberikan ke kasir dan pembayaran berlangsung hingga petugas kasir memberikan uang kembaliannya. Aku mengahadap ke belakang dan menundukkan kepala sedikit, meminta maaf ke antrian di belakangku karena aku sempat memakan waktu cukup lama tadi.

dalam perjalanan pulang menggunakan kereta, aku kembali teringat dengan lelaki itu. secara tidak sadar, aku telah menganggap bahwa lelaki itu bukan halusinasi. Bahwa lelaki itu benar-benar ada dan aku berharap bisa kembali bertemu dengannya. Hari ini adalah hari selasa, pukul 17:30. Aku menaiki kereta dari stasiun gondangdia. Perjalanan nostalgia pun dimulai saat kereta arah bogor datang. Keinginan untuk bertemu dengan lelaki itu pun kembali muncul.

Saat tiba di stasiun manggarai aku kemudian turun dan kembali menaiki kereta di peron 5 arah Tanah Abang, Duri Angke. 15 menit menunggu di peron lima, kereta akhirnya tiba dan membawaku menuju Stasiun Duri. Tiba Di stasiun duri aku kembali transit ke peron 5 arah Tangerang. Dan kembali menunggu kereta. Ketika kereta Tangerang tiba, aku dan ratusan penumpang lainnya pun memadati gerbong-gerbong kereta yang terang oleh deretan lampu neon itu.

Sekitar jam tujuh petang aku telah sampai di stasiun kalideres, tempat dulu ibu menjemputku setiap harinya. Langit telah gelap bagai lautan dalam. Bahkan lebih dalam. Jika lautan terdalam seperti palung mariana yang berkedalaman 10.924 mungkin menyimpan banyak jenis makhluk purba yang tak diketahui manusia, maka langit malam dengan kedalamannya menyimpan banyak rahasia yang bahkan memiliki kedalaman lagi yang tidak cukup hanya dengan mengetahuinya. Seseorang harus menyelam lagi untuk benar-benar tau, atau seseorang harus mati di dalamnya.

Dengan dorongan rasa ingin kembali bertemu dengan lelaki itu, secara ceroboh aku memutuskan untuk bertahan, berlama-lama di stasiun Kalideres sampai waktu itu tiba. Bahkan ketika logika mengatakan kemungkinannya sangat kecil, aku bersikukuh untuk tetap melakukannya. Tak peduli jika harus menunggu hingga 3 jam kedepan. Perasaanku telah mengalahkan logika sepertinya, bahkan aku ragu akan hal itu sehingga menggunakan kata ‘sepertinya’ untuk membuat kesimpulan tadi. Kereta arah Duri tiba di peron satu, aku mampir di kedai Roti, memesan roti dan segelas minuman dan duduk untuk beberapa waktu lamanya.

Kereta demi kereta datang dan berlalu, pengguna kereta yang naik dan turun silih berganti, suara petugas dari pengeras suara berkali-kali menginformasikan posisi dan jadwal kereta bahkan anjuran ke masinis untuk kembali menutup gerbong saat kereta telah diijinkan berangkan dan juga anjuran kepada penumpang yang naik dan turun untuk tidak lupa dengan barang bawaannya, juga tentang kursi prioritas yang mesti di berikan kepada yang berhak.

Namun, sampai pada pesanan minum ketiga tadi, lelaki itu tidak juga ada, tak nampak di peron 2 sana. Padahal jam telah menunjukkan pukul 22:19. Mungkin memang tidak mungkin lelaki itu ada. Mungkin memang benar ini semua hanya sia-sia. Mungkin memang benar segala mengenai lelaki itu hanya halusinasi. Namun aku tidak dapat mengatakan bahwa pertemuan saat menyeberang tadi sebagai halusinasi. Aku sangat yakin bahwa orang yang kulihat adalah lelaki itu. Meski ada kemungkinan hanya mirip. Karena banyak sekali orang di dunia ini wajahnya hampir mirip satu dengan lainnya. Meski begitu, aku masih bersikeras bahwa lelaki itu memang ada, bahwa lelaki yang kutemui saat menyeberang siang tadi adalah lelaki yang sama yang sering kutemui di stasiun Kalideres setiap selasa malam jam sepuluhan di kala itu. kuambil telpon genggam, dan kukirim sebuah pesan pada ibu.

Dengan langkah yang sedikit lemah karena rasa kecewa, aku menyeberang ke peron 2. Duduk di bangku peron terujung, mengulang masa-masa itu. Masih berharap lelaki itu akan muncul, walau tahu itu sia-sia. Untuk beberapa menit, aku larut dalam lamunan tentang lelaki itu lagi. layaknya misteri-misteri pada langit malam, lelaki itu adalah bagian dari misteri di langit malam sana yang kedalamannya tak terukur. Aku tidak memiliki alat ukurnya, sehingga hanya bisa mengira-ngira dengan alat ukur seadanya, yaitu asumsi. Asumsi nya yaitu kemungkinan bahwa lelaki itu adalah hal nyata tapi sulit ditemukan atau lelaki itu adalah hal yang tak nyata yang terasa nyata karena kejiwaanku yang mungkin terganggu.

Lagi,

aku menggunakan kata ‘mungkin’ dalam sebuah kalimat kesimpulan yang seharusnya tegas, yang seharusnya lebih berani.

Sambil memandang, bahkan tenggelam di langit malam yang gelap, pikiranku bercampur. Bahagia dan kecewa bagaikan teman akrab yang sedang menikmati teh di beranda. Aku bahagia karena sekali lagi dapat bertemu dengan lelaki itu saat menyeberang siang hari tadi. Namun tidak dapat berbohong bahwa aku juga kecewa karena keberadaan lelaki itu tidak seperti yang aku fikirkan. Saat aku berfikir dapat bertemu dengan lelaki itu dengan cara yang sama seperti dulu, aku malah membuang waktu berjam-jam hanya untuk menunggu sesuatu yang tak pernah terjadi. Tak pernah nyata.

Apakah aku akan tetap pada keyakinan tentang lelaki itu bahkan setelah hari ini berakhir seperti ini? tetapi itu sudah lebih dari cukup. Tidak masalah jika lelaki itu tidak muncul pada kemungkinan yang ku uji coba malam ini. Berpapasan dengannya dan saling bertatapan siang tadi sudah lebih dari keajaiban.

Aku telah memutuskan, saat kereta yang menutupi penyeberangan itu lewat aku akan melanjutkan langkah, menyeberang dan terus berjalan ke arah pintu keluar. Menghampiri ibu yang telah menungguku di luar, lalu pulang ke rumah. Ke kamar kecil milikku yang sederhana dan dipenuhi serpihan-serpihan sepi, aku akan melebur semuanya sebagai pupuk untuk menumbuhkan mimpi musim semi dalam tidur malam yang terasa tak seperti biasanya.

End ...

Jakarta, 2019

Shane Idate


IG : Syarifhidate
Facebook : Syarif Hidayat

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...