Tuesday, March 25, 2014

Cerpen Kompas: Ayah Tiri


Cerpen Herumawan PA (Republika, 16 Maret 2014) Ayah Tiri ilustrasi Rendra Purnama
“SEBURUK apa pun keadaannya, rumah adalah tempat kau kembali.”
Ungkapan itu tak tepat untukku.  Rumah justru menjadi tempat yang selalu ingin aku hindari.  Di rumahku sendiri aku tak dianggap ada, selain oleh ibu.  Selama berada di rumah, kuhabiskan sebagian besar waktu di kamar. Jika tak ada hal penting, aku tak akan keluar ruang pribadiku. Atau, aku akan pergi dari pagi dan kembali saat malam. Tiba di rumah hanya untuk melepas lelah. 
Bagiku, apa artinya rumah jika semua kenyamanan dan ketenteraman bisa aku peroleh di luar? Saat dinyatakan lulus di salah satu universitas negeri di Kota Gudeg, Yogyakarta, aku langsung bergegas mengurus administrasinya. Dengan modal pas-pasan dari ibu, aku tinggal di indekos dan selebihnya nyambi kerja tentor bimbel. Lega? Sudah pasti. Akhirnya aku bisa bernapas lega. Bisa menjadi diri sendiri. Dan, tentunya jauh dari gunjingan nyinyir.
Hingga kini sudah berkali-kali ibu menyuruhku pulang, selalu aku tolak halus.  Berbagai macam alasan, aku perdengarkan.  Mulai dari sidang skripsi yang semakin dekat, kerja sampingan dengan ancaman penghentian kontrak kerja, atau lagi-lagi hal yang klise,
“Cuacanya ndak bagus, Bu. Besok saja jika sudah cerah.”
Hubunganku dengan suami ibu memang tidak baik. Sebenarnya, beliau ayah tiriku.  Ayah kandungku sudah meninggal saat aku kecil. Ibu lantas menikah lagi. Kini, ibu tinggal di rumah ayah tiriku. Dari pernikahannya yang kedua, lahir dua orang adikku yang semuanya laki-laki.
Kedua adikku adalah anak emas. Semua yang mereka minta akan terkabul dalam tempo yang bisa dihitung dengan jari. Sedang kan, aku harus menelan bulat-bulat keinginanku. Karena aku tahu jawabannya adalah tidak atau tunggu. Tunggu pun berarti tidak secara halus. Kadang-kadang ibu sering masuk ke kamarku dan menyelipkan sejumlah uang, hasil dari menjahit yang tak seberapa,
“Buat beli kuas dan kanvas, Le. “
Ibu tahu aku ingin jadi seniman. Impian sedari kecil. Satu-satunya hal yang aku warisi dari ayah kandungku. Dan, hal ini selalu ditentang oleh ayah tiriku. Beliau pikir pekerjaan seniman itu tidak akan menghasilkan pendapatan yang layak. Beliau ingin aku mengikuti jejaknya, menjadi polisi.
Saat beranjak remaja, aku sudah dijejali doktrin agar berkenan mengenakan seragam serbacokelat itu kelak. Saat itu ibu belum melahirkan adik-adikku. Tapi, semenjak kedua adikku lahir dan untungnya semua laki-laki, setidaknya aku merasa bebas dari keinginan beliau. Ternyata tebakanku salah.  Beliau masih saja mencatut namaku dan mengungkit-ungkitnya di hadapan kedua adikku. Entah maksudnya memotivasi kedua adikku atau menghina diriku.
“Jangan jadi seperti kakakmu, kerjanya cuma luntang-lantung saja.”
“Kelayapan kayak ndak ada kerjaan.”
“Prestasi sekolah juga pas-pasan.”
“Cuma prakarya sama seni saja yang nomor satu.”
“Olahraga juga ndak suka.”
“Lihat kamarnya, kayak kapal pecah dihantam ombak.”
“Cat sama lukisan di mana-mana. Ayah sampai lupa apa warna dasar cat kamarnya.” Kedua adikku hanya diam melongo mendengarnya. Entah mengerti atau tidak.
Jika ayah tiriku sudah memberi wejangan seperti itu, aku akan diam. Beralih masuk kamar. Lalu, dari mulutnya terucap kata- kata pedas.
“Nah, lihat baru disindir sedikit saja langsung beringsut masuk kamar.”
“Perasaan kok mirip perempuan.”
“Gak gentle, cengeng.” Hati ini terasa tersayat-sayat mendengarnya. Ibu bukannya tak pernah membelaku. Tapi, terakhir kali membelaku, ibu malah merasakan tamparan tangan beliau.
Aku tak tinggal diam, langsung menyerang. Pukulan dan tendangan aku lancarkan.  Beruntung, Lek No, sopir keluarga buru- buru datang melerai setelah mendengar teriakan-teriakan ayah kesakitan aku pukuli.  Jika tak segera dilerai, entah apa jadinya ayah tiriku. Mungkin bisa terbunuh dan aku akan masuk penjara.
Semenjak itu, aku tak pernah menggubris apa pun kata-kata ayah tiriku. Aku tak mau lagi berdebat jika mengingat nanti ibu bisa jadi korban. Karena itulah, kuliah dan jauh dari tempat kelahiranku adalah hal yang membebaskanku.
Pulang? Lebaran lalu aku mudik ke rumah. Ayah tiriku tak pernah menanyakan apakah aku baik-baik saja atau bagaimana enaknya jadi seniman? Tapi, hal lain malah ditanyakan,
“Kamu itu niat kuliah atau nggak sih?  Kuliah kok ndak lulus-lulus.”
“Tahun ini, dua adikmu sudah mau jadi polisi. Kamu dapat gelar saja belum.” Rasanya malas untuk pulang jika gelar belum bisa kusematkan di belakang namaku.
Setidaknya ada rasa aman. Tapi, mungkin aku akan diburu pertanyaan tentang kerja dan juga jodoh. Rasanya tak habis-habis pertanyaan menggelitik dari ayah tiriku nanti.
Ibu pernah bilang, bahkan marah pun tanda sayang. Tapi, yang mengenaskan adalah ketidakpedulian. Ibu selalu memberi nasihat bahwa apa pun yang dikatakan ayah tiriku adalah motivasi agar aku terus berkarya meski memakai cara pengungkapan yang kasar. Aku rasa itu tidak sepenuhnya benar.
Ayah tiriku bisa saja berbicara denganku, memakai nada bicara normal. Seperti saat berbicara kepada kedua adikku. Tapi, itu tak pernah dilakukannya. Selalu nylekit setiap kali berbicara kepadaku. Heran aku melihatnya. Mungkin karena aku hanya anak bawaan ibu.
Malam ini, aku terima lagi pesan pendek dari ibu yang lagi-lagi menyuruhku pulang.  Tapi, dari nadanya kulihat ada sesuatu yang buruk. Saat itu, aku mengabaikan firasat aneh. Tak kubalas pesan ibu hingga berganti hari.
Aku telanjur lupa, sibuk mengurus event seni dua tahunan. Dini hari ibu telepon diiringi isak tangis.
Ndang bali, Le. Ayahmu koma.” Aku hanya bisa diam terpaku. Lalu, memesan tiket bus paling awal.
Sepanjang perjalanan, aku mengingat- ingat bagaimana keadaan fisik ayah tiriku.  Rambutnya memang sudah memutih. Tapi, beliau masih sanggup dinas jaga malam dan belum mengambil pensiun.
Aku teringat percakapanku di telepon dengan ibu, beberapa saat lalu. Tentang kondisi ayah tiriku kini.
“Ayahmu sakit jantung sejak lima tahun lalu.”
“Ayahmu merahasiakan penyakitnya. Uwis, Le. Gek ndang bali.” Aku tertegun mendengarnya.
Sesampainya di rumah, hanya ada Yu Jum, bibiku. Aku mampir mengambil barang pesanan ibu sebelum ke rumah sakit. Sekali lagi ibu mengirim SMS agar aku segera ke rumah sakit. Sambil berpesan jangan lupa membawa klaim asuransi milik ayah di ruang kerjanya.
Selama ini, aku jarang sekali atau rasanya tak pernah masuk ke ruang kerjanya. Ayah tiriku tak suka jika ada yang masuk selain dirinya. Di dalam ruang kerjanya, hanya ada meja, kursi, dan rak buku.
Di atas meja ada beberapa berkas dokumen dan tumpukan koran. Aku mencari-cari dokumen asuransi di laci mejanya. Tak sengaja aku menemukan sebuah lukisan yang terasa tak asing. Lukisan ayah yang berpakaian polisi, ibu, dan aku, berlatar belakang rumah ini. Lukisan pertama kali yang kubuat untuk beliau.
Aku hampir melupakan gambar itu.  Kupikir sudah dibuang ke tempat sampah.  Mengingat sikapnya yang tak suka padaku.  Tak kusangka, ayah tiriku masih menyimpan gambar itu. Di belakang kertasnya tertulis, “Gambar putra kesayanganku.” Ada perasaan haru dan juga sedih di hatiku. Bercampur penyesalan yang tak kunjung akhir.
Saat akan menutup laci meja, ponselku berbunyi, panggilan telepon dari ibu.
“Le, Ayahmu sedo.” Diiringi isak tangis berkepanjangan. Aku terduduk lemas di kursi yang biasa diduduki ayah. Menatap hampa gambar yang kugenggam. Ayah tiriku tak seburuk yang aku sangka selama ini.

Yogyakarta, 2 Maret 2014
Kosakata:
Le: sapaan utuk anak laki-laki
Ndang bali: segera pulang
Sedo: meninggal
Nyambi: kerja sampingan
Ndak: tidak
Herumawan Prasetyo Adhie, pegiat sastra dan kini berdomisili di Yogyakarta.
E-mail: libraheruprasetyo@yahoo.com

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...