Sunday, March 11, 2012

Puisi Kontra

Puisi Sang keterpurukan
aku memang telah lama terpuruk,
bahkan sejak lahir aku adalah kepiluhan,
nasibku tak lebih dari keberuntungan,
ironi yang tak dipedulikan mereka,

aku adalah orang yang tak dikenal,
mengembara dalam kesendiriannya seorang,
jika ada yang menemani,
itu tak lebih dari kupu-kupu hitam,
yang tersesat dalam tariannya,

aku sudah terbiasa tak peduli,
bahkan memang setiap harinya begitu,
berbaring di sisi gelap yang jarang diketahui mereka,
bernyanyi hanya tentang kematian,
bukan tentang kematianku,
tetapi tentang kematian mereka,

jika ada yang mengatakan aku benci kehidupan,
aku rasa tidak juga,
karna tanpa kehidupan aku tak bisa menemukan kebencian,
kekejaman, dan kematian orang lain,
karna hanya itulah yang membuatku senang,


Jakarta, 11 maret 2012

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...