Thursday, May 16, 2013

Puisi Dan

Evidence


Satu persatu masa melalui peralihan
ada yang pergi secara perlahan
melibatkan nasibnya tanpa lain peran
di hunus waktu memudar ingatan

Di lain tempat angannya tumbuh
sejalan lagu baru yang tabuh
sungai yang mimpi keruh

Menyimak pada akhir makna kalahnya
ada beberapa yang tak diartikannya
dan pada akhirnya
memberinya lebih dari sekadar peluhnya
memberinya lebih dari sekedar kekalahannya

yang dilupakan...
Evidence

Jakarta, 12 April 2013



Bayangan Penguat


Sekarang dan kemudian saya beranggapan untuk yang sudah berlalu
ketika kita masih bersama mengikuti kekisruhan sepi saja
berkata bahwa kita merasa senang bisa bersalingan
tetapi merasa sangat kesepian di beberapa kesempatan tertentu ...

Anda dapat merasakan itu kesenjangan
atau beberapa sisi yang masih belum kita saling mau mengerti
seperti orang asing kita memperlakukannya
dan anda sendiri yang mengusulkan peraduan sejatinya ...

Tetapi anda tidak perlu memperingati saya
ketika anda sudah senantiasa merasakan kecanggungan pada saya
jadi ketika kita berpapasan pada hembusan angin tanpa nama
kita hanya perlu memainkan sapaan mata labuhan ...

Sekarang saya tidak perlu perhatian anda
sekarang saya tidak perlu ditemani
sekarang saya hanya perlu merenung
sekarang saya hanya perlu merelakan

saya senang ketika bisa merasakan kebahagiaan atas kebersamaan
saya bahagia ketika mampu mempermudah bersuci disamping anda

Tetapi sekarang saya hanya melihat anda sebagai seorang idola
sekarang anda hanya saya anggap sebagai pewarisan kisah
sekarang saya hanya menggunakan anda sebagai bayangan penguat ketika saya lemah


Jakarta, 25 november 2012



Sebuah Persimpangan


Persimpangan ini begitu membosankan
dimana hanya ada dua pilih sulit
yang mempertaruhkan kebersamaanmu dengannya
dan mau tak mau kau harus memilih
diantara hari yang masih menjadi rahasia nasib waktu

Sial!
bila saja dunia ini tidak terlalu bodoh
untuk percaya pada coretan-coretan Tuhan
tentu kita tak bisa menyerah begitu saja dengan alasan takdir
begitu juga dengannya

menggugat persemakmuran sepi dan senyapnya
kau hanya akan menambah ketololanmu

Tapi,
mau bagaimana lagi
datangnya siang dan malam sudah sewajarnya
begitu juga pertemuan dan perpisahan

Persimpangan ini Begitu membosankan
dan aku mulai terbiasa dengan kejenuhan itu-itu saja
aku menyerah tanpa pernah sempat memilih
dan itu sudah biasa

Jakarta, 13 April 2013

Mengenang


Berpaparan juga sisa jejak kemarin
kita membuatnya di masa akrab
jiwa dan raga menyemarak
satu dan lain peduli silang

lalu di ketemukan kini pula
tinggal kisah merangka di kenang

aku kehilanganmu
bayangan semata-mata meluka
prasangka terlambat menemu pintu
sementara satu persatu lagu tinggalkan kita
dan makna lupa

kini pun ada
hanya aku di malam tanpa bulan
menari fikirannya bodoh
awang-awang di kira tempat kemerdekaannya

Jakarta, 19 April 2013


Gerimis dan Kenangan


gerimis siang ini muram
seperti wajah seorang kekasih
yang telah lama dalam menunggu balik jendela

tentu ada yang merisau
nampak dari matanya yang menyimpan
bulir-bulir hujan yang menerjemahkan hari duka

aku merasa sendiri dikelengahannya
tak sepatutnya memanipulasi langit-langit jadi bayang seseorang

perlahan hujan menjelma ke malam
ada beberapa perkara yang tertunda di jalan basah
selebihnya memadat ruang pemikiran di tanda tanya

tidakkah ini berlebihan?
ada yang memjawab namun sepi
atau suara angin saja yang terlalu lembut
sehingga merupa bisikan asumsi

ada yang di kenang
pada akhirnya diserang

menunggu di titik mulai
berakhir di titik semula
tap menunggu kali ini?
tidakpun ada yang kupahami selain lelah ini
air dihempas, keringat di lepas
menunggu lagi yang tak pasti datang

Jakarta, 25 April 2013


Dan Perumpamaan


perumpamaan itu yang mengingatkanku pada senyumnya kering
sudut mata menyimpan dimensi sepi

perumpamaan yang jatuh pada wajah mendung
langit muram yang hilang kenangannya pelangi

dia menyukai warna gelap malam
dia menyukai sepi di atas bukit
tanpa warna cerah
tanpa suara bising

perumpamaan itu yang mengingatkanku padanya
kemerdekaanya alam senggang perjalanan batin
kebebasannya ruang fikiran menjelajah atas langit

perumpamaan pengembara penemu sepinya
perumpamaan pengembara perintis mimpi tololnya senyap

ya,
dan dia pengembara perumpamaan

namun?
ada perumpamaan yang melengahkan
perumpamaan itu tentang seseorang yang mencintai pengembaranya

dan perumpamaannya

Jakarta, 25 April 2013

Kesepakatan


Pada sebuah bilasan kedudukan masa
lingkup keberanian kita petakan asa
memutar pula lagu pertaluan rasa

beberapa bunyian mencuri sela
diantaranya tak kita kenal pula
oase pada kenang kering
menyimpan berita di biru langit dan kening
seketika mendung, kita hilangkan makna hening

esok kita kan bersepakat
deret-deret mimpi kita sekat
menulis keterjagaan di tiap malam
dengan tanpa tinta penggumam kelam
menghindar dari tiap-tiap penghianatan sepi
hanya akan nenyudah di birama tepi

suka atau tidak
kita telah memainkan sajak
dalam hidup yang penuh janji kelak
dan kita tak temukan lagi jarak
cinta dan kebersamaan memadat tak mengelak
waktu berpacu tanpa pengukurnya terhentak

Jakarta, 27 April 2013


Adegan Sebuah Frame


Beberapa kenang tak lagi dipertemukan
takdir hanya memainkan euforia baru
tematik warna pudar masa lalu
menyerap lukisan kosong pada lamunan

Menjual harapan di keheningan
kau hanya menemu lukamu sendiri

Tahu ada yang tak terjawab
mimpi esok dibuat sederhana
sekedar dahaga lepaskan duka
takkan mengerti arti darinya sebab

Sudahi yang kian tak berarti
di karat keheninganmu yang jenuh
menerjemahkan alur rindu yang tak berlabuh
sendiri memamah makna indahnya mati ke mati

Sampai ada yang tak di mengerti
selain kesia-siaannya dalam membunuh waktu yang tak terhenti

Adegan selanjutnya di frame kelam sudut kota
hanya kau dan leluconmu yang menyedihkan

memainkan gelap malam dan igauan sepinya
kota

Jakarta, 03 Mei 2013

Intonasi Fragmen


Kesahajaan gerimis paparan muram
rinai Mata-mata dalam pembaringan

Selerai duka dalam luka
wajah perintis yang masih berkaca

Sibak-menyibak antara kabut ke mendung
sesekali melarai tanya
bahaya senyap dan keriuhan
Militer-militer langit terkekeh

19 Januari
sudah sampai usianya
dan lalat-lalat memparit kekalahan...

Bangkai-bangkai mati itu
menyambut teman lamanya
menggelar pesta whisky didalam kubur
sambil tertawa tolol dilidah belati

Jakarta, 18 Januari 2013


Tentang Cita-cita


Pun t'lah lama tak membuka ingatan
angan tentang cita-cita kecil
banding membanding satu dengan lain berdebatan
tak peduli sama-sama berdekil

Seingatku,
aku ingin jadi pelukis?
pelukis kalimat, dari kata-kata yang tak tersampaikan
pelukis ingatan, dari memorial-memorial yang terlupakan
pelukis rasa, dari emosional-emosional yang tak terwajahkan
pelukis angan, dari mimpi-mimpi yang terabaikan
pelukis lakon, dari drama-drama yang tak diperhitungkan
dan pelukis harapan, dari sosok-sosok yang telah menyerah sebelum mengutara

Tapi ?

Tidak!
itu bukan cita-cita kecilku
itu ialah pilihanku sekarang!
sementara cita-cita kecilku,
menguap bersama kekosongan omong besar motivator-motivator yang senjang.

atau memang tidak pernah kupunya sebelumnya...



Jakarta, 23 January 2013


Create By : Syarif Hidayatullah

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...