Saturday, November 9, 2013

Cerpen

Hari-hari tetap seperti biasanya. Matahari masih terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Semilir angin masih menghiasi hiruk pikuk dunia yang semakin tua ini. Kicauan burung tiada henti bersahut-sahutan dari dahan satu ke dahan lainnya.
Matahari perlahan-lahan naik ke puncaknya. Namun, sengatan panas sang mentari itu mampu diredam pohon akasia besar yang sudah sepuluh tahun berdiri tegak. Seorang gadis kecil duduk sambil menggenggam secarik kertas usang. Mata mungilnya masih tertuju pada genggaman sambil sesekali melihat ke langit biru yang terbiaskan cahaya merah matahari. Mulutnya menggumam ucapan kecil nan pelan yang tertiup oleh semilirnya angin dan terbawa jauh ke pelosok negeri.
“Hey!” Sebuah suara dari mulut mungil menyapa gadis kecil berkerudung itu. Gadis kecil itu menoleh dengan senyum terpaksa.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Si gadis kecil tetap tak bergeming. “Aku punya es krim. Mau?”
“Ya,” Jawaban polos keluar dari mulut mungilnya. Mereka lalu terlihat akrab dalam tempo singkat, sambil menikmati es krim.
“Nama kamu siapa?” tanya gadis manis berkulit putih itu.
“Terserah kamu. Kamu boleh panggil aku dengan sebutan apa aja.”
“Ya udah. Aku panggil kamu puteri kerudung, ya?”
“He’em,” jawabnya singkat. “Kalo gitu, aku panggil kamu teman cantik!” Mereka lalu tertawa renyah sambil bersalaman.
Hari-hari terus dilewati sang puteri kerudung dengan gembira. Teman barunya telah membawa keramaian dalam hidupnya. Setiap hari sepulang sekolah, mereka bertemu di bawah pohon akasia yang senantiasa menjadi pelindung mereka. Setiap sore, sang puteri kerudung mengirim surat dengan balon terbang atas saran sang teman cantik. Menerbangkan surat untuk ibunya di sisi Allah.
Sembilan tahun puteri kerudung tinggal di sebuah desa kecil. Sembilan tahun itu pula ia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Hidup dalam kesendirian dan hanya ditemani seorang ayah.
“Ayo terbangin balonnya!” teriak temannya kegirangan. Itu yang mereka lakukan setiap hari, diselingi canda tawa. Mereka lalu bercerita, berlari-larian, dan sesekali menerbangkan cita-cita keduanya di atas awan. Meski berbeda keyakinan, ini tak menjadi penghalang keduanya untuk saling bersahabat. Sang puteri kerudung pemegang teguh islam yang kuat tak segan untuk bermain dan bersahabat dengan seorang protestan.
“Puteri kerudung,” panggil sang teman cantik.
“Ya.”
“Aku mau pergi.”
“Maksud kamu?” tanya gadis kecil itu sambil merapikan kerudungnya.
“Ya, aku harus kembali ke Bengkulu. Tugas ayahku udah selesai. Tapi kamu jangan sedih, aku pasti sering-sering main ke Lampung, kok.”
Keduanya lalu berpelukan, isak tangis mengiringi perpisahan mereka. Si puteri kerudung pun harus rela hidup dalam kesepian lagi, seperti hari-hari sebelumnya.

Perjalanan waktu begitu cepat. Sepuluh tahun telah berlalu, namun keadaan desa kecil itu masih seperti sepuluh tahun sebelumnya. Desa yang terpencil, asri, jauh dari keramaian kota. Juga pohon akasia itu, masih tegak berdiri, masih kokoh tanpa penghalang.
Seorang gadis manis duduk bersandar di bawah pohon akasia yang rindang itu. Gamis yang ia kenakan dibiarkan mengenai rumput yang basah oleh embun-embun pagi. Buku agenda tak pernah lepas dari jemarinya yang lentik. Sesekali ia menulis dan membuka laptop pribadinya.
“Assalamu’alaikum Mba’ Nafira,” sapa salah seorang gadis sebayanya. Perilakunya yang kelihatan sopan dan anggun dengan pakaian tertutup membuat senyum di wajah gadis yang disapa Nafira. Jilbab coklat sang gadis tertiup angin pagi yang menyejukkan suasana.
“Nggak nyangka ketemu Mba’ Nafira disini. Saya Marisa,” ujarnya memperkenalkan diri. Nafira menyambut tangan si cantik Marisa. Meski mereka baru bertemu, namun sudah terlihat akrab.
“Saya suka tulisan Mba’ Naf, tulisannya memotivasi. Oh ya sebentar,” Marisa bergegas menuju mobilnya dan mengambil sebuah novel. “Minta tanda tangannya dong, mba’.”
Nafira hanya tersenyum dan melakukan permintaan Marisa, menandatangani novel karyanya.
“Nggak usah terlalu berlebihan lah. Saya cuma manusia biasa, sama seperti Mba’ Marisa. Toh saya bukan artis atau selebritis yang diperebutkan tanda tangannya.”
“Nggak apa-apa lah mba’. Jarang-jarang, loh, ketemu penulis.”
“Jangan panggil mba’, ah. Kesannya nggak akrab,” jawab Nafira yang sejak tadi tak luput dari senyum.
“Iya, deh. Ternyata bener kata orang.”
“Kenapa?” tanya Nafira lembut.
“Nafira itu orangnya ramah, cepet akrab, nggak sombong pula.”
“Biasa aja. Saya juga manusia seperti Anda. Jadi nggak ada istimewa, kok.” Nafira memang selalu merendah. Ia tidak terlalu suka dipuji, karena baginya manusia itu sama dihadapan Allah. Lagipula Nafira bukan berasal dari golongan petinggi, pejabat, atau apapun itu. Ia hanya seorang gadis yang dibesarkan dengan ketulusan kasih sayang, bukan oleh gelimang harta.
“Eh, kok Naf disini? Bukannya tinggal di Jakarta?”
“Ini kampung halaman saya. Dulu saya tinggal disini, dan ini bisa dibilang tempat favorit saya. Saya sering kesini, ke bawah pohon akasia.”
Marisa terdiam, menatap Nafira lamat-lamat. “Oh, ya? Kenapa bisa sama, ya?”
“Anda tinggal disini?”
“Dulu saya pernah disini, tapi nggak terlalu lama. Ikut ayah kerja,” jawabnya.
Nafira terdiam sejenak. “Ayah anda bekerja di Bengkulu?”
“Ya… Kok Naf bisa tau?” tanya Marisa bingung, namun segera ia abaikan. Nafira pun segera menepis fikiran itu. Karena seingatnya, sahabatnya itu berbeda keyakinan dengannya.
“Oh, enggak. Cuma ada temen dari Bengkulu. Sudah, lupain aja,” Nafira mengalihkan pembicaraan. Sejenak hening, mereka terdiam dan menatap ke langit, mengulang memori yang pernah tercipta dahulu.
“Apakah seorang Nafira itu puteri kerudung?” tanya Marisa tiba-tiba.
Nafira menoleh tak percaya. Namun ini seperti meyakinkannya. Seorang sahabat yang telah sepuluh tahun pergi, dan sekarang kembali. Sahabat yang mengubah hidupnya dari kegelapan, yang meyakinkan dan memberi semangat baginya.
“Teman cantik,” ucap Nafira lirih.
“Ya, aku Marisa, teman cantikmu.”
Mereka larut dalam tangis haru. Keduanya berpelukan, melepas rindu yang terpendam. Semilir angin masih seperti dulu, menerbangkan mereka dalam kedamaian.
“Tapi,” Nafira melepas pelukan Marisa. “Maaf, bukannya kamu seorang protestan?”
Marisa terdiam dengan senyum mengembang. “Aku muallaf.”
“Alhamdulillah..”
“Mungkin ini jalan terbaik yang Allah berikan. Aku mendapat hidayah dari sahabatku, sahabat terbaik yang pernah aku temukan. Dan jalan yang Allah berikan, tidak dapat terfikir oleh akalku. Aku masih menganggap ini sebagai kebetulan, kebetulan yang berulang—dan tak pernah habis.”
“Alhamdulillah. Tapi, orang-tuamu bagaimana?”
“Mereka nggak tahu,” jawab Marisa santai. Nafira mengernyitkan dahi.
“Ya, awalnya mereka nggak mengizinkan aku untuk masuk Islam. Tapi aku pergi, aku memutuskan sendiri, dan semoga ini pilihan terbaik yang aku ambil.
Aku mulai mendalami Islam saat aku nggak sengaja beli novel kamu. Aku pikir itu novel motivasi biasa. Tapi ternyata perkiraanku salah. Dari sana aku mulai membeli buku-buku Islam, mencari artikel-artikel tentang Islam, hingga sampai pada keputusan mutlakku.”
“Setidaknya kamu memberi tahu orang-tuamu tentang ini.”
“Aku memang sengaja pergi dari mama-papa, izin untuk dua minggu dengan alasan mencari bahan skripsi,” Marisa tertawa kecil.
“Itu berarti kamu membohongi orang-tua? Apalagi ini bukan hal yang main-main, Marisa. Kamu tahu Islam, kan? Islam membenci kebohongan.”
“Ya, aku salah. Maaf.”
“Minta ampun lah pada Allah dan kalau bisa secepatnya pulang,” ujar Nafira dengan nada menasehati.
“Ya, deh. Aku besok pulang, aku selesaikan semuanya. Aku janji,” Marisa mengangkat kelingking kanannya. Nafira lekas mengangkat jarinya, menyatukan dengan Marisa. Keduanya lalu tertawa riang.
Sebuah perjalanan dua anak manusia. Dan kita percaya bahwa sahabat selamanya tetap sahabat. Sahabat yang sejati, persahabatan yang abadi, akan menyatu dan beterbangan seiring terbangnya daun akasia terbawa angin. Angin yang membawa mereka berjalan ke tempat abadi, terbang menuju padang keabadian yang tak akan pernah lenyap termakan waktu.

Cerpen Karangan: Sofia Octaviana

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...