Sunday, April 10, 2016

Dalam Sebuah Perjalanan Kereta

Dalam Sebuah Perjalanan Kereta

Dalam gerbong yang tak penuh
suara konstan laju kereta membawa lamunan lebih dalam lagi
dari jendela,
fragmen perkampungan kumuh silih berganti bercerita padaku
tentang rumah-rumah yang atap dan dindingnya berupa seng,
ada juga yang terdiri dari terpal-terpal partai politik dan politisi yang kalah dalam mengumbar janji di pesta demokrasi yang basa-basi
tentang ibu-ibu muda menggendong bayinya ke relk baru yang belum terpakai
dan menjemurnya di bawah terik matahari pagi yang hangat dan memuakkan,
bagaimana tidak?
matahari pagi hanya menghangatkan tubuh dan hal hal yang fisik saja
tapi tidak sampai jiwa dan fikiran orang-orang di kota ini yang selalu dingin dalam sekatnya masing-masing


Ah!
sama saja denganku,
kebanyakan orang mempersepsikan dirinya dalam sepi
dalam keadaan yang bergerak lambat
yang pada akhirnya hanya membentuk pandangan-pandangan sarkastis
kereta berhenti di stasiun terakhirnya
sementara aku, telah melewatkan stasiunku
stasiun-stasiun yang tak pernah kembali dari masa laluku

Jakarta, 07 April 2016
Syarif Hidayatullah

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...