Saturday, January 7, 2017

Jejak Tokoh Betawi untuk Indonesia - Bab I


 Gambar terkait

Jejak Kepahlawanan Mohammad Husni Thamrin (1894-1941)
Pengantar


Mohammad Husni Thamrin adalah salah seorang putera betawi yang kiprah politiknya memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semasa pendudukan kolonial Belanda, Thamrin menduduki jabatan strategis sebagai wakil rakyat di Geementeraad maupun Volksraad. Hal yang dahulu sangat langka dan hanya menjadi impian segelintir orang. Sebagai politisi parlemen, tidak berarti Thamrin menjadi “kaki-tangan” kolonial. Ia justru menjadi juru bicara bagi rakyat Indonesia yang tertindas. Ia memperjuangkan nasib bangsanya untuk merdeka, walaupun kelak ia tak pernah melihat hasil yang ia perjuangkan.
Tulisan singkat ini, mencoba mendeksripsi secara singkat jejak-jejak kepahlawanan Mohammad Husni Thamrin dalam memperjuangkan nasib bangsanya. Sistematika tulisan dibagi dalam dua hal. Pertama, hal yang menyangkut riwayat Thamrin. Kedua, perjuangan Thamrin, sehingga ia layak disebut sebagai pahlawan nasional.


Riwayat Hidup Thamrin
Mohammad Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, Jakarta pada tanggal 16 Februari 1894. Ayahnya, Thabri Thamrin pada masanya tergolong orang berada. Thabri adalah seorang wedana pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Der Wijk.
Pendidikan Thamrin diawali dengan memasuki sekolah Institut Bosch di Betawi. Dari sekolah itu ia melanjutkan ke Konning Willems III (setingkat HBS). Namun, karena orang tuanya memasuki masa pensiun sehingga tak mampu lagi membiayai, akhirnya Thamrin meninggalkan bangku sekolah. Ia lalu memutuskan bekerja magang di kantor kepatihan.
Sesudah itu, Thamrin dipindahkan kerja kekantor keresidenan. Prestasi kerjanya yang baik, membuat ia dipindahkan lagi ke Perusahaan Dagang Partikelir di Koningklijke Paketvaart Maatskappij (KPM) yang jumlah gajinya lebih besar daripada sebelumnya. Disaat yang sama, pada 27 Oktober 1919, Thamrin dipercaya untuk menduduki jabatan anggota Gemeenteraad. Sehingga saat itu, Thamrin bekerja rangkap, pertama untuk KPM dan kedua bagi Gemeenteraad. Thamrin akhirnya diharuskan untuk memilih oleh pimpinannya di KPM, apakah tetap di KPM atau Geementeraad. Ternyata, Thamrin lebih memilih untuk berkiprah di Geementeraad. Pilihan hidup yang kelak membuatnya harus bergelut dengan dunia pergerakan nasional, dimana ia akan berperan penting disana.
Pada 16 Mei 1927, Thamrin ditunjuk sebagai anggota Volksraad. Padahal sebelumnya ia baru saja ditunjuk menduduki jabatan wakil walikota I (Loco Burgermeester) Batavia. Selain di Volksraad, dalam pergerakan nasional Thamrin juga aktif dalam Partai Indonesia Raya (Parindra) dan juga didalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI).
Sejak 6 Januari 1941, Thamrin dikenakan tahanan kota dengan tuduhan bekerjasama dengan Jepang. Dalam tahanan dan keadaan sakit parah, akhirnya Thamrin meninggal dunia karena gagal jantung pada hari Sabtu 11 Januari 1941. Penghormatan terakhir baginya di Pemakaman Karet, penuh-sesak oleh sekurangnya 20.000 orang pengiring. “Orang berpangkat” hingga “orang rendahan”, sama-sama merasa kehilangan pahlawan yang memperjuangkan nasib bangsanya.

Perjuangan Thamrin
Dalam pergerakan nasional, terdapat dua macam cara atau metode perjuangan melawan kesewenangan Pemerintahan Kolonial Belanda. Cara pertama adalah “Kooperatif” atau berjuang dalam sistem lewat jalan parlemen. Sedangkan cara kedua yaitu “Non-Kooperatif” yang dalam perjuangannya menolak masuk kedalam sistem, sehingga mereka berjuang dari luar tanpa melalui mekanisme kompromi. Termasuk dalam kelompok pertama diantaranya Mohammad Husni Thamrin, Dr Sutomo dan Sutardjo. Sedangkan Sukarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka serta Sutan Syahrir masuk kedalam kelompok kedua. Walaupun berbeda dari segi metode perjuangan, tetapi perjuangan keduanya saling melengkapi satu sama lain. Hal ini karena tujuan mereka bermuara pada hal yang sama: terbebasnya Indonesia dari kolonialisme dan eksploitasi Belanda.
Sebagai pejuang kemerdekaan, secara resmi karir Thamrin dimulai ketika ia ditunjuk menduduki jabatan di Geementeraad. Sebagai anggota yang mewakili penduduk Batavia dan berasal dari penduduk pribumi, Thamrin hapal  benar yang menjadi permasalahan rakyat betawi. Sebelum secara resmi masuk kedalam Geementeraad, secara kebetulan Thamrin memiliki teman akrab seorang belanda yang juga sekretaris Geementeraad dan anggota ISDP, Van der Zee. Dari berdiskusi dengan Thamrin, Van der Zee menemukan banyak persoalan yang dihadapi penduduk Batavia. Tak jarang, Thamrin juga menawarkan solusi bagi permasalahan yang dihadapi. Diantara buah pikiran Thamrin yang diadopsi Zee untuk dibahas dalam parlemen adalah mengenai pembendungan Sungai Ciliwung untuk menghindari banjir. Usaha ini tidak si-sia. Terbukti kemudian, proyek penanggulangan banjir dilaksanakan. Setelah pada akhirnya menduduki jabatan anggota Geementeraad, kiprah Thamrin dalam dunia politik semakin berkibar. Didalam Geementeraad, selain tetap memperjuangkan kesejahteraan masyarakat betawi. Thamrin juga giat membangun kekuatan nasionalis, sehingga  ia berhasil membentuk sebuah fraksi nasional.
Dalam Voolksraad jairhokje tercatat bahwa pada 16 Mei 1927, Thamrin ditunjuk menjadi anggota Volksraad menggantikan Dr Soetomo yang menolak pencalonan pada 14 Mei 1927. Penunjukkan Thamrin oleh gubernur jendral De Graeff karena ia dianggap sebagai pengganti terbaik Dr. Soetomo. Dengan demikian karier politik Thamrin menanjak, dari konteks perjuangan lokal kepada perjuangan yang lebih besar yaitu nasional.

1. Gerakan Nasionalisme  dalam Parlemen.
Ketika Thamrin pada akhirnya memutuskan untuk berjuang didalam sistem parlemen, maka Thamrin berusaha membentuk sebuah fraksi nasional. Pada tanggal 27 Januari 1930, ia mengumumkan lahirnya fraksi nasional yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia secepat-sepatnya. fraksi terdiri dari sepuluh orang pribumi dimana Thamrin ditunjuk sebagai pemimpinnya. Pembentukan fraksi ini bertujuan menyatukan kekuatan kelompok nasional  dalam Volksraad untuk menghadapi pihak lawan.
Berada didalam Volksraad, tak lantas membuat Thamrin larut dalam kekuasaan. Thamrin justru semakin sadar, bahwa kehadirannya adalah untuk memperjuangkan nasib bangsanya. Pada rapat Volksraad pertama, Thamrin dalam pidatonya membuat analisa perbedaan secara alamiah struktur sistem kolonial dan yang dianut oleh pribumi. Secara halus ia ingin mengatakan bahwa kaum pribumi harus diberikan hak untuk mengatur pemerintahannya sendiri.
Ketika pemerintah kolonial mengeluarkan peraturan mengenai “ordonansi sekolah liar”, Thamrin dengan tegas menolaknya dan mengadakan oposisi dalam parlemen. Ordonansi yang berisi mengenai pembubaran sekolah, selain dari sekolah yang dibiayai pemerintah, jelas-jelas adalah upaya untuk menghancurkan proses pencerdasan yang dilakukan kelompok pribumi. “Sekolah liar”, justru merupakan dapur dari perjuangan pergerakan kaum nasionalis Indonesia. Dari dalam Volksraad, Thamrin berjuang agar ordonansi ini dicabut, jika tidak maka ia mengancam akan keluar dari Volksraad. Dengan adanya tindakan tegas Thamrin ini, pemerintah kolonial terpaksa mundur dan membatalkan ordonansinya tersebut.
Dalam hal menumbuhkan kesadaran nasional, pada 15 Agustus 1939, Thamrin mengeluarkan mosi tentang penggunaan kata-kata “Indonesia”, “Indonesisch” dan “Indonesier” sebagai pengganti kata-kata “indie”, “Nederland Indisch” dan “Inlander” dalam undang-undang, ordonansi dan sebagainya. H.J Levelt pada tanggal 23 Agustus 1940, memberikan jawabannya bahwa ia menganjurkan pemakaian kata “Indonesier”, tetapi berkeberatan terhadap pemakaian kata “Indonesia”. Walaupun, usaha Thamrin tidak sepenuhnya berhasil, tetapi sebagai ekspresi perlawanan dan sarana sosialisasi bagi kesadaran nasional, tentunya hal ini menjadi sangat penting.

2.   Pembelaan Thamrin terhadap Perjuangan Kelompok Nasionalis
Dalam konteks perjuangan nasional saat itu, keadaan politik kurang menggembirakan. Pemerintahan De Graeff menjadi lebih keras untuk menindak dan membatasi kelompok pergerakan, sebagai akibat percobaan pemberontakan PKI 1926 dan 1927. Disaat itulah, muncul organisasi pergerakan PNI yang bersikap Non-kooperatif dengan Sukarno sebagai pemimpin utamanya yang bercita-cita “Indonesia merdeka”.
Walaupun antara Thamrin dan Sukarno, secara metode perjuangan berbeda. Namun, pada prinsipnya apa yang dicita-citakan oleh mereka adalah sama dan bahkan dalam prakteknya saling melengkapi. Dari dalam Volksraaad, Thamrin adalah pendukung utama politik agitasi PNI. Sebagai contoh, ketika Sukarno menyerukan untuk menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan, Thamrin juga dengan berapi-api berpidato didepan Volksraad mengecam tindakan Klooster, seorang pemimpin redaksi Deli Courant, yang mencela penggunaan bahasa melayu dalam parlemen. Dengan demikian perjuangan penggunaan bahasa melayu berlangsung pada tingkatan legal dan illegal, sehingga mengambil konteks wilayah yang lebih luas.
Ketika terjadi penggeledahan rumah-rumah aktivis PNI, Thamrin segera bereaksi didalam Volksraad dengan menyebut tindakan tersebut sebagai “provokatie” pemerintahan kolonial terhadap aktivis pergerakan. Walaupun pada kenyataannya tindakan penggeledahan semakin ditingkatkan bahkan menjadi aksi penangkapan, tetapi sikap Thamrin tidak bergeming. Didalam Volksraad, Ia kembali memperingatkan pemerintahan kolonial, bahwa sikap penangkapan para aktivis hanya akan memunculkan tindakan perlawanan nasional yang menjadi  semakin luas.
Antara Thamrin dengan Sukarno memiliki hubungan yang akrab. Hal ini dapat dilihat dari berbagai interaksi antara keduanya maupun dari pembelaan Thamrin terhadap Sukarno dan PNI didepan Volksraad. Pada saat Sukarno dibebaskan dari penjara Sukamiskin, maka Thamrinlah yang menjemput dan menyiapkan upacara penyambutan besar-besaran bagi Sukarno. Akibat hubungan dengan Sukarno jugalah, yang menjadi salah-satu faktor Thamrin dikenakan tahanan rumah oleh pemerintah kolonial.

3.   Membangun Persatuan Kelompok Nasionalis
Pada awalnya, kiprah politik Thamrin dimulai ketika ia menjabat sebagai pemimpin serikat kaum betawi. Dari saluran organisasi lokal inilah, ia ditunjuk masuk kedalam Volksraad. Bersama-sama Sukarno, pada tahun 1932 sebagai wakil kaum betawi, Thamrin  berjuang untuk membangun kembali Perhimpunan Partai-Partai Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) sebagai titik temu antara tokoh kooperasi dan kooperasi nasional. Akan tetapi usaha tersebut gagal. Pada 1936, secara perseorangan Thamrin masuk kedalam organisasi partai berskala nasional, Parindra yang menjadi wadah kaum nasionalis secara legal dan menjadikan nasionalisme sebagai landasannya. Didalam keorganisasian Parindra, Thamrin menduduki jabatan sebagai ketua departemen politik. Sesudah Dr. Soetomo wafat pada 30 Mei 1938, ia menjadi  orang pertama di Parindra.
Setelah Petisi Sutardjo mengalami kegagalan. Sebagai pemimpin terkemuka Parindra, Thamrin semakin giat mencari jalan untuk menghimpun suatu badan konsentrasi nasional yang terdiri dari utusan-utusan partai-partai politik Indonesia. Pada tanggal 21 Mei 1939 diadakan rapat resmi Panitia Persiapan Pembentukan Badan Konsentrasi di Gedung Permufakatan di Gang Kenari, Jakarta. Gedung tersebut, merupakan kepunyaan Thamrin yang dibelinya pada tahun 1929 dan secara khusus diperuntukkan sebagai balai pertemuan aktivis pergerakan. Dalam rapat yang dipimpin Thamrin, dibicarakan secara mendalam mengenai situasi politik dan pentingnya wadah persatuan. Usaha ini akhirnya terwujud dengan dibentuknya Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang terdiri dari delapan organisasi nasionalis terpenting, dibawah kepemimpinan Thamrin, Amir Syarifuddin dan Abikusno Cokrosuyoso. GAPI sendiri bertujuan mewujudkan hak untuk menentukan nasib bangsa sendiri, kesatuan bangsa berlandaskan “demokrasi sosial, politik dan ekonomi”, “Indonesia berparlemen” serta solidaritas antara kelompok politik di Indonesia dan Belanda demi mempertahankan suatu garis anti fasis yang kuat.
Untuk mencapai tujuan ini, maka GAPI melakukan berbagai langkah, dan yang terpenting salah satunya adalah diadakannya Kongres Rakyat Indonesia (KRI) di Gedung Permufakatan, Jakarta pada 23-25 Desember 1939 dengan tema “Indonesia Berparlemen’. Salah satu keputusan penting KRI ialah menuntut pembentukan parlemen dan penetapan bendera merah-putih dan Lagu Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu kebangsaan Indonesia. Aksi Indonesia berparlemen pada tanggal 10 Februari 1940 ditolak Belanda dengan alasan tidak mungkin ada parlemen selama Belanda masih memegang tanggung jawab kebijakan politik.
Sejak itu, maka hubungan antara pemerintah kolonial dengan aktivis pergerakan nasional yang koperatif, termasuk Thamrin didalamnya menjadi renggang. Pada tanggal 6 Januari 1941, penggerebekan dilakukan dikediaman Thamrin dan ia sendiri ditahan. Sebelum terjadi penggerebekan itu, Thamrin menerima utusan jepang, Kobayashi di Gedung Volksraad. Dalam penggeledahan dirumah Thamrin, diketemukan surat-surat Doewes Dekker yang berisi permusuhan terhadap pemerintah Belanda. Hubungan Thamrin dengan Douwes Dekker, utusan Jepang dan juga dengan Sukarno dianggap sebagai sikap perlawanan Thamrin terhadap pemerintah. Pada akhirnya dalam penahanan yang belum terbuktikan itu, Thamrin menghembuskan nafas terakhir.

Penutup
Cara Thamrin berjuang adalah sebuah hal yang patut diteladani. Walaupun ia menduduki jabatan “empuk”, ia tetap dengan teguh memperjuangkan nasib bangsanya. Ia menjadi penolong, ketika kawan-kawan seperjuangan yang menggunakan “cara berbeda”  ditangkap oleh pemerintah kolonial. Thamrin juga dengan gigih berusaha mempersatukan kaum nasionalis demi tercapainya Indonesia merdeka. Ia adalah contoh pejuang yang lahir dari lokal, tetapi memiliki misi dan visi nasional. Thamrin adalah pahlawan nasional yang berjuang menggunakan caranya sendiri: “cara Thamrin” yang kooperatif- revolusioner.

Daftar Pustaka

Gonggong, Anhar, Mohammad Husni Thamrin, Jakarta: Departemen P & K, 1985.
Hering, Bob, Mohammad Husni Thamrin: Membangun Nasionalisme Indonesia, Jakarta: Hasta Mitra, 2003. 
Ingleson, John,  Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934, Jakarta: LP3ES, 1988.
Kahin, George Mc. Turnan, Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, Jakarta: UNS Press bekerjasama dengan Pustaka Sinar Harapan, 1995.
Mulyana, Slamet, Kesadaran Nasional jilid 2, Jakarta: Inti Idayu Press, 1986
Saidi, Ridwan, Zamrud Khatulistiwa: Nuansa baru Kehidupan dan Pemikiran Bung Karno, M. Husni Thamrin, H. Agus Salim dan Buya Hamka, Jakarta: LSIP, 1993
Van Miert, Hans, Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930, Jakarta: KITLV, Hasta Mitra dan Pustaka Utan Kayu, 2003.

Sumber : https://sejarahunj.wordpress.com/2010/05/03/jejak-kepahlawanan-mohammad-husni-thamrin-1894-1941/

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...