Thursday, July 3, 2014

Sejarah Patung Hermes Di Harmoni



 Di tengah padatnya lalu lintas di kawasan Harmoni, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni patung kecil berwujud manusia menunjuk ke arah langit dengan tangan kanannya dan berwarna perunggu gelap yang bertengger di jembatan Harmoni. Hermes, namanya. Hermes merupakan putra dari Dewa Zeus dan Peri Maia dalam mitologi Yunani. Hermes berperan sebagai pesuruh dan pembawa berita. Hermes juga dikenal sebagai dewa pelindung para pedagang dan penggembala. Lalu, apa yang dilakukan patung Sang Dewa di jembatan Harmoni?

Patung Hermes di Batavia awalnya merupakan milik Karl Wilhelm Stolz, seorang pedagang Jerman yang kemudian menjadi warga negara Belanda. Stolz membelinya di Hamburg sekitar tahun 1920. Stolz yang memiliki toko di Jl. Veteran, Batavia, meletakkan patung itu di halaman rumahnya. Kemudian pada tahun 1930, Stolz menjual tokonya dan menyumbangkan patung Hermes tersebut pada pemerintah Batavia sebagai tanda terimakasih atas kesempatan yang didapatkannya untuk berdagang di Hindia-Belanda. Patung perunggu dewa pelindung para pedagang seberat 70 kg itu akhirnya dipasang di jembatan Harmoni yang sudah dibangun sejak 1905. Lokasi tersebut dipilih karena letak jembatan Harmoni berada di mulut Jl. Hayam Wuruk yang saat itu sudah menjadi daerah perdagangan yang ramai.

Pada tahun 1999, patung ini nyaris jatuh ke kali karena penyangganya tertabrak mobil hingga bagian kakinya mengalami kerusakan. Akhirnya patung yang merupakan salah satu benda cagar budaya yang dilindungi Pemprov DKI Jakarta ini diamankan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Kemudian pada tahun 2000 patung ini dipindahkan ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta. Hal ini juga dilakukan karena saat itu patung Hermes ini dihargai lebih dari 1 milyar rupiah di kalangan kolektor barang antik di pasar Singapura. Tidak berlebihan memang usaha Pemerintah untuk melindungi benda bersejarah ini karena sebelumnya telah terjadi pencurian terhadap patung-patung bersejarah di Jakarta. Pada tahun 1950-an, patung JP Coen yang seukuran manusia dan punya kembaran di Hoom, Belanda, serta terletak di Lapangan Banteng, raib tak berbekas.

Kini, patung Hermes asli yang merupakan saksi bisu perkembangan Jakarta dari masa ke masa ini dapat dilihat di berada di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta, atau seringkali disebut Gedung Fatahillah, kawasan Kota Tua. Dengan sosoknya yang berbentuk pemuda tanpa pakaian, membawa tongkat, bertumpu pada satu kaki, dan menunjuk langit dengan tangan kanannya, seolah ia akan segera lepas landas untuk terbang. Patung ini merupakan salah satu objek favorit para pengunjung untuk berfoto di sampingnya. Sementara untuk menggantikan posisi patung Hermes di jembatan Harmoni, ditempatkanlah replikanya yang seberat 100 kg dan dibuat oleh pematung Arsono dari Yogyakarta. (Rike)

Sumber : http://tourismnews.co.id/category/destinations/kisah-perjalanan-sang-patung-hermes-di-jakarta

No comments:

Post a Comment

Roman Cinta dan Sepi II

  Chapter II Ia Muncul Lagi   Di sebuah peron yang sepi, lelaki itu, yang tak kuketahui namanya itu, duduk menatap langit tanpa kata-k...